Angkat Kearifan Lokal, FKUB Jateng Percepat Moderasi Beragam

Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Jawa Tengah menggelar Sarasehan Pemeberdayaan Potensi Daerah Percepatan Moderasi Agama Untuk Indonesia Tangguh dan Tumbuh, yang dilaksanakan di Pasar Ting Njanti Desa Kadipaten, Kecamatan Selomerto, Rabu (10/11/2021). Acara tersebut dibuka Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat. Bupati mengatakan, fenomena heterogenitas bangsa ini merupakan realitas yang tak terbantahkan, bahwa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk, memiliki keanekaragaman Suku, Agama, Ras dan Antar-golongan, namun disatukan melalui semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. 

Peran strategis Forum Kerukunan Umat Beragama menjadi sangat penting, sebagai wadah dan tempat dimana perbedaan-perbedaan yang ada dipertemukan, dikomunikasikan serta dipersatukan, tanpa harus saling meniadakan satu dengan yang lainnya, melalui suatu kesadaran kultural bersama seluruh anak bangsa, yang diaplikasikan, diaktualisasikan dan diimplementasikan dalam kehidupan. "Peran FKUB sangat penting, dewasa ini, kehidupan beragama mengalami dimanika, dimana persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia seringkali diuji dengan berbagai aktifitas serta isu yang berpotensi memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang silih berganti muncul," ungkap Bupati.

Sementara pada kesempatan itu, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah, KH Taslim Syahlan saat ditemui disela-sela sarasehan menyampaikan, bahwa Indonesia memiliki kekayaan luar biasa yang terkandung dalam nilai-nilai keagamaan, kearifan lokal, dan karya-karya kebudayaan. Hal ini merupakan potensi untuk membangun moderasi beragama dan meneguhkan negara sebagaimana semboyan bhineka tunggal ika. "Banyak contoh nilai-nilai agama dan kepercayaan yang secara inklusif telah berkembang menjadi way of life di masing-masing daerah. Misalnya, bahwa semua agama mengajarkan untuk saling mengormati dan memuliakan, tolong menolong dalam kebaikan, dan lain-lain," kata Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Tengah KH Taslim Syahlan. 

Menurutnya, kearifan lokal yang berkembang sejak berabad-abad lalu, seperti saling berkunjung, saling memberi dan gotong royong merupakan kekayaan utama bangsa Indonesia. Sebab, kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia dapat terus terjalin dengan nilai-nilai luhur kearifan lakal tersebut. "Masing-masing daerah memiliki potensi kearifan lokal yang perlu dieksplorasi secara maksimal," jelasnya dihadapan para peserta sarasehan yang terdiri dari unsur FKUB kabupaten/kota, Kesbangpol dan Kemenag se-eks Karesidenan Kedu. Ia juga menilai kasus radikalisme yang muncul belakangan ini bisa dihindari dengan kesadaran akan kearifan lokal yang meneguhkan nasionalisme. Menurutnya, tidak akan ada kasus-kasus radikalisme maupun intoleranisme yang rame di medsos. Untuk itu Taslim pun berharap semua komponen FKUB yang ada di seluruh Jawa Tengah untuk lebih solid membangun moderasi berbasis kearifan lokal. "Kedepan semua FKUB yang ada di Jawa Tengah bisa gotong royong antar budaya masing-masing agama dengan tujuan agar kerukunan dan persatuan serta perdamaian antar umat beragama tetap terjaga dengan baik," pungkasnya.

Senada disampaikan Ketua FKUB Kabupaten Wonosobo Dr.Zaenal Sukawi, M.A., yang mengatakan dunia saat ini sedang menghadapi tantangan yang sangat besar dan kompleks. Diantaranya adalah berbagai dampak pandemic covid-19, endemic pemahaman keagamaan, dan transformasi digital dengan berbagai perubahan yang sangat cepat, massif dan viral. Yang mana diperlukan keahlian berfikir tingkat tinggi dan menyelesaikan masalah kompleks, keluasan dan kedalaman ilmu dan pemahaman serta hikmah dan kearifan, dan kreatif, inovatif dan kolaboratif. Disamping itu adanya penguatan potensi daerah identitas dan kearifan lokal.

Sukawi menambahkan, kaitannya dengan Kabupaten Wonosobo yang mengalami tiga gelombang peradaban Nusantara yaitu, Sejarah peradaban Dieng yang diawali Sang Hyang Jagadnata pada awal-awal masehi, melahirkan peradaban nusantara melalui wangsa Sanjaya dan Saelendra. Lalu pada saat proses datangnya islam di Wonosobo dengan berbagai kesulitannya pada abad 13 an. Selanjutnya pada saat perang gerilya perang Diponegoro yang kemudian dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Wonosobo tanggal 24 Juli 1825. Berdasarkan berbagai peradaban Wonosobo tersebut ada beberapa best practice (praktek-praktek baik) kerukunan dan moderasi beragama antara lain adalah menjaga kedekatan manusia dengan Tuhan, kerukunan dan kasih sayang sesame manusia, dan harmoni dengan alam dan lingkungan. Bahwa manusia dalam menghadapi berbagai masalah dan penyelesaiannya melalui ring social dengan berbagai tingkatannya mulai dari keluarga, tetangga, warga, masyarakat dan link social yang lebih besar lagi. 

Sukawi menegaskan, sesuatu yang lebih penting adalah tata Kelola pemerintahan daerah yang baik, bersih dan indah dengan keteladanan pemimpin dan para tokoh. "Kerukunan dan moderasi beragama harus diawali dari rumah kita masing-masing. Best practice ini juga sudah dipraktekkan oleh Bupati Mas Afif Nur Hidayat dan Wakil Bupati Gus M. Albar, dengan mengangkat para ajudan lintas agama dan budaya," pungkasnya.

Posted by

Zaky Mohammad

11 November 2021 09:41

0 Comments

Post a comment