Lewati ke konten utama
1/2

Bedhol Kedhaton Teguhkan Semangat "Nyawiji Makarti"

Admin
64 kali dilihat

Prosesi sakral Bedhol Kedhaton kembali menjadi salah saturangkaian utama peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, Kamis (23/7/2026). Lebih dari sekadar seremoni budaya, tradisi yang merepresentasikan perpindahan pusat pemerintahan dari Plobangan menuju Wonosobo tersebut menjadi momentum untuk meneguhkan semangat persatuan, gotong royong, serta komitmen membangun daerah yang berpijak pada sejarah dan kearifan lokal.

Rangkaian kegiatan dimulai sejak pagi di Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, dengan pengambilan Air Suci Tirto Perwitosari dari Tuk Sampang oleh para sesepuh desa, dilanjutkan ziarah ke Makam Ki Ageng Wanasaba, pengambilan Bantolo atau tanah pusaka di sisi selatan makam, serta Gelar Budaya yang melibatkan masyarakat dan berbagai kelompok seni. Seluruh prosesi tersebut menjadi simbol penghormatan terhadap sejarah berdirinya Kabupaten Wonosobo sekaligus penghargaan kepada jasa para leluhur.

Dalam sambutannya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan fondasi moral dan inspirasi dalam membangun masa depan daerah.

"Bedhol Kedhaton bukan sekadar simbol sejarah ataupun upacara adat semata, melainkan penanda transformasi besar, yaitu perpindahan pusat pemerintahan dari Plobangan menuju Wonosobo. Dari tradisi ini kita belajar bahwa keberanian untuk berubah merupakan syarat utama menuju kemajuan, sementara persatuan menjadi pedoman dalam setiap langkah pembangunan," ungkapnya.

Mengusung tema "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi", Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Jadi ke-201 sebagai momentum memperkuat kebersamaan dalam berkarya nyata demi mewujudkan Wonosobo yang semakin maju, makmur, dan sejahtera.

Menurutnya, nilai luhur yang terkandung dalam Bedhol Kedhaton mengajarkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga harus menyentuh dimensi sosial, budaya, dan spiritual masyarakat.

"Semangat para leluhur yang memindahkan pusat pemerintahan dengan penuh pertimbangan demi kemajuan daerah kini harus diwujudkan dalam kebijakan publik yang berpihak kepada masyarakat, melalui peningkatan kualitas pelayanan publik, pelestarian lingkungan, penguatan sumberdaya manusia, hingga pengembangan ekonomi berbasis potensi lokal," ujarnya.

Bupati juga menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan tidak mungkin dicapai hanya oleh pemerintah semata. Sinergi dan partisipasi aktif masyarakat menjadi kunci utama dalam mewujudkan cita-cita bersama.

"Bedhol Kedhaton menjadi simbol Nyawiji Makarti, menyatukan niat dan kerja antara pemerintah dengan masyarakat. Gotong royong, kepedulian, serta keterlibatan nyata seluruh elemen masyarakat merupakan modal utama agar Wonosobo benar-benar menjadi daerah yang Loh Jinawi dan membawa kesejahteraan bagi seluruh warganya," katanya.

Selain menjadi agenda budaya, Bedhol Kedhaton juga menjadi ruang edukasi sejarah bagi generasi muda. Prosesi pengambilan air suci, ziarah leluhur, hingga kirab pusaka menjadi pengingat bahwa identitas Wonosobo dibangun melalui perjalanan panjang yang harus terus dijaga dan diwariskan.

Bupati mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo sebagai momentum memperkuat tekad untuk Berani Berubah, Berani Melangkah, dan Berani Menghadapi Tantangan Zaman. Dengan semangat Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi, seluruh elemen masyarakat diharapkan terus bersatu dalam karya nyata demi mewujudkan Wonosobo yang unggul, maju, berbudaya, dan semakin sejahtera.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Fahmi Hidayat, menjelaskan bahwa seluruh rangkaian Bedhol Kedhaton merupakan representasi historis perpindahan pusat pemerintahan Kabupaten Wonosobo dari Plobangan menuju lokasi pemerintahan saat ini.

Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada malam hari melalui prosesi Tapa Bisu, ketika Air Suci Tirto Perwitosari, Bantolo, Songsong Agung, dan Tombak Katentreman diarak menuju Pendopo Kabupaten. Arak-arakan dilakukan dengan berjalan kaki sambil membawa obor dan mengenakan busana adat Jawa, kemudian diteruskan dengan Hastungkara, doa bersama lintas agama sebagai simbol persatuan dalam keberagaman.

Keesokan harinya, rangkaian Hari Jadi dilanjutkan dengan Pisowanan Agung, kirab menuju Alun-alun Wonosobo, Kembul Bujana, ruwat rambut gimbal hingga berbagai pertunjukan seni budaya yang melibatkan TNI, komunitas seni, pelajar, dan masyarakat.

Menurut Fahmi, penyelenggaraan tahun ini juga menunjukkan meningkatnya antusiasme masyarakat. Pemerintah Kabupaten bahkan membuka kesempatan bagi masyarakat umum untuk mengikuti prosesi Tapa Bisu dengan mengenakan busana adat Jawa. Minat masyarakat, khususnya generasi muda dan pengguna media sosial, dinilai cukup tinggi sebagai indikasi meningkatnya perhatian terhadap tradisi lokal.

Lebih jauh, Pemerintah Kabupaten Wonosobo tengah menyiapkan langkah pengembangan penyelenggaraan Hari Jadi pada tahun-tahun mendatang. Salah satunya melalui konsep rebranding menjadi sebuah festival budaya yang lebih luas, sehingga tidak hanya menjadi perayaan hari jadi daerah, tetapi juga mampu menjadi atraksi wisata budaya yang menarik wisatawan untuk tinggal lebih lama di Wonosobo serta memberikan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat.

"Harapannya, pada 2027 nanti masyarakat luar datang bukan hanya karena Hari Jadi Wonosobo, tetapi karena festival budaya yang mampu menghadirkan pengalaman sejarah, tradisi, seni, hingga ekonomi kreatif secara utuh," pungkas Fahmi.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 6 + 6 ?