Lewati ke konten utama
1/3

Pemkab Wonosobo Perkuat Layanan Kesehatan Mata Inklusif hingga Tingkat Desa

Admin
92 kali dilihat

Pemerintah Kabupaten Wonosobo meluncurkan Program Inclusive System for Effective Eye Care (I-SEE), yang ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara Pemerintah Kabupaten Wonosobo dengan Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK). Dilanjutkan Perjanjian Kerja Sama (PKS) antara YSKK dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Rabu (29/7/2026), di Pendopo Selatan Kabupaten Wonosobo.

Program yang berlangsung selama lima tahun tersebut didukung penuh Australia Aid, dan menjadi langkah strategis dalam memperkuat sistem layanan kesehatan mata yang efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Selain itu, melalui program ini Wonosobo juga ditetapkan sebagai salah satudari tiga kabupaten percontohan (pilot project) di JawaTengah bersama Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Purbalingga.

Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menyampaikan, terpilihnya Wonosobo sebagai lokasi pelaksanaan program merupakan bentuk kepercayaan sekaligus perhatian terhadap tingginya persoalan kesehatan mata di daerah.

"Hari ini kita menandatangani MoU antara Pemerintah Kabupaten dengan Yayasan Satu Karsa Karya terkait penanganan kesehatan mata, yang selanjutnya ditindaklanjuti melalui Perjanjian Kerja Sama dengan Dinas Kesehatan. Artinya Wonosobo diperhatikan, karena memang persoalan kesehatan mata di daerah ini masih cukup tinggi," ungkapnya.

Menurut Afif, gangguan penglihatan bukan sekadar persoalan medis, tetapi juga berkaitan dengan aspek sosial, ekonomi, pendidikan, hingga pembangunan daerah. Karena itu, upaya penanganannya tidak cukup hanya mengandalkan pelayanan kuratif ketika masyarakat sudah mengalami gangguan, melainkan harus dimulai sejak tahap promotifdan preventif.

Ia menekankan pentingnya membangun kesadaran sejak usia dini melalui edukasi kepada guru dan orang tua agar kelainan penglihatan pada anak dapat diketahui lebih awal.

"Jangan sampai anak baru masuk SD sudah menggunakan kacamata dengan minus tinggi. Karena ketika gangguan penglihatan terlambat diketahui, kecenderungannya akan terus bertambah. Pencegahan harus dimulai dari hulu," ujarnya.

Bupati juga menegaskan bahwa kerja sama selama lima tahun tersebut akan menjangkau seluruh 265 desa dan kelurahan, termasuk satuan pendidikan mulai dari PAUD, TK, SD/MI, SMP/MTs hingga sekolah luar biasa (SLB).

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Jaelan, menjelaskan bahwa pelaksanaan Program I-SEE sejalan dengan arah pembangunan daerah dalam RPJMD yang menitik beratkan pada penguatan layanan kesehatan primer.

Ia mengungkapkan, berdasarkan hasil Cek Kesehatan Gratis (CKG) tahun 2025, ditemukan indikasi gangguan penglihatan pada 8,2 persen anak usia 7–17 tahun, atau sebanyak 7.474 anak dari 91.306 anak yang menjalani skrining.

Sementara pada kelompok usia 18 tahun ke atas, angka indikasi gangguan penglihatan mencapai 17,4 persen, atau sekitar 10.003 orang dari 57.579 masyarakat yang diperiksa. Kondisi tersebut juga masih terlihat konsisten pada data Semester I Tahun 2026.

"Data ini menjadi pengingat bahwa pelayanan kesehatan mata harus diperkuat dari hulu. Jangan menunggu masyarakat datang ketika sudah mengalami gangguan berat. Deteksi dini menjadi kunci agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat," katanya.

Jaelan menambahkan bahwa kerja sama bersama YSKK tidak berorientasi pada bantuan sesaat, melainkan penguatan sistem layanan kesehatan mata secara menyeluruh.

Program tersebut meliputi pelatihan kader Posyandu, guru sekolah, tenaga kesehatan Puskesmas hingga dokter spesialis mata, penguatan sarana prasarana layanan kesehatan, penyediaan beasiswa penuh bagi dokter spesialis mata putra daerah untuk menempuh pendidikan subspesialis, penguatan sistem skrining dan rujukan berjenjang, hingga pendampingan akses bagi masyarakat yang mengalami kendala transportasi maupun lansia yang tidak memiliki pendamping.

Sementara itu, Direktur Yayasan Satu Karsa Karya (YSKK), Iwan Setiyoko, menjelaskan bahwa Wonosobo dipilih sebagai salah satu wilayah percontohan setelah melalui proses asesmen yang dilakukan di sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.

Dari hasil asesmen tersebut terdapat dua pertimbangan utama, yakni tingginya angka gangguan kesehatan mata dan kuatnya komitmen Pemerintah Kabupaten Wonosobo dalam memperkuat layanan kesehatan mata.

Ia menyebutkan bahwa berdasarkan data awal dari 24 Puskesmas di Kabupaten Wonosobo, rata-rata kasus gangguan kesehatan mata berada di atas 100 kasus setiap tahun, bahkan di salah satu puskesmas tercatat mencapai sekitar 364 kasus.

"Kami tidak membangun sistem baru, tetapi memperkuat sistem yang sudah ada agar menjadi lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan. Setelah lima tahun program berjalan, kami berharap sistem tersebut mampu berdiri sendiri dan terus memberikan manfaat bagi masyarakat," jelasnya.

Menurut Iwan, Program I-SEE mengusung pendekatan promotif, preventif, kuratif, hingga rehabilitatif yang dilaksanakan secara terpadu.

Selain menyasar seluruh desa, kelurahan, Puskesmas, rumah sakit, serta sekolah mulai jenjang SD hingga SLB, program ini juga akan membentuk Desa Sehat Mata sebagai model pemberdayaan masyarakat.

Salah satu karakteristik utama Program I-SEE adalah pendekatan layanan yang inklusif. Sejak tahap asesmen, YSKK telah melibatkan organisasi penyandang disabilitas untuk mengevaluasi aksesibilitas pelayanan kesehatan di Puskesmas maupun rumah sakit.

Setiap tahun, asesmen terhadap tingkat inklusivitas fasilitas kesehatan akan dilakukan secara berkala guna memastikan seluruh masyarakat memperoleh pelayanan tanpa diskriminasi sesuai prinsip no one left behind.

Program ini juga menghadirkan pendampingan rehabilitatif bagi penyandang kebutaan baru melalui kolaborasi dengan penyandang disabilitas netra yang telah memiliki pengalaman hidup mandiri. Pendampingan tersebut diharapkan mampu memperkuat kondisi psikologis sekaligus membantu proses adaptasi pasien.

Pelaksanaan Program I-SEE mengedepankan kolaborasi pentahelix dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Dinas Sosial, pemerintah desa, rumah sakit, Puskesmas, Baznas, perguruan tinggi, organisasi penyandang disabilitas, hingga media.

Selama lima tahun pelaksanaan, program akan difokuskan pada empat strategi utama, yakni pemberdayaan masyarakat melalui edukasi dan deteksi dini, penguatan layanan kesehatan, penguatan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, serta tata kelola layanan kesehatan mata yang inklusif.

Melalui Peluncuran Program I-SEE menjadi awal gerakan bersama dalam memastikan setiap warga Wonosobo, termasuk kelompok rentan dan penyandang disabilitas, memperoleh hak yang sama atas layanan kesehatan mata yang berkualitas sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas masyarakat secara berkelanjutan.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 3 + 8 ?