Lewati ke konten utama
1/3

Perkuat Peran Ayah dan Bangun Generasi Unggul, Pemkab Wonosobo Luncurkan Gerakan WAYAH

Admin
50 kali dilihat

Perkuat peran ayah dalam membangun kualitas sumber daya manusia dan penguatan institusi keluarga guna wujudkan generasi unggul, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo meluncurkan Gerakan WAYAH (Waktu Bersama Ayah) dan Kelas AMAN (Ayah Idaman) pada puncak Festival Cinta Keluarga IV, di Pendopo Bupati Wonosobo, Senin (6/7/2026), dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-33 dan Hari Anak Nasional ke-42.

Kegiatan yang dihadiri sekitar 450 peserta secara luring serta ratusan kader secara daring itu menjadi momentum untuk mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat budaya pengasuhan yang berkualitas, sekaligus mendorong kolaborasi dalam mewujudkan keluarga yang tangguh di tengah berbagai tantangan sosial dan perkembangan era digital.

Dalam arahannya, Bupati Wonosobo, Afif Nurhidayat, menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak semata-mata diukur dari kemajuan infrastruktur, tetapi juga dari kualitas manusia yang dibentuk sejak lingkungan keluarga.

"Sering kali pembangunan dimaknai dari apa yang tampak di depan mata, seperti jalan yang semakin baik, jembatan yang semakin kokoh, atau fasilitas publik yang semakin lengkap. Semua itu memang penting. Namun sesungguhnya, pembangunan yang paling menentukan masa depan daerah adalah pembangunan manusianya. Dan pembangunan manusia selalu berawal dari keluarga," ujar Afif.

Menurutnya, keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap anak, tempat nilai-nilai kehidupan ditanamkan, karakter dibentuk, serta cita-cita mulai tumbuh. Karena itu, pembangunan keluarga harus hadir pada setiap fase kehidupan, mulai dari memastikan anak lahir sehat, memperoleh gizi yang baik, tumbuh dalam lingkungan yang aman dan penuh kasih sayang, hingga mempersiapkan remaja dan lansia agar mampu menjalani kehidupan secara berkualitas.

"Pembangunan keluarga harus dimulai sejak awal kehidupan, melalui layanan kesehatan ibu dan anak, keluarga berencana, pengasuhan yang berkualitas, hingga menghadirkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, produktif, dan bermartabat. Seluruh ikhtiar itu bermuara pada satu tujuan, yakni membangun sumber daya manusia yang unggul," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Afif juga mengajak masyarakat mengubah paradigma bahwa pengasuhan anak bukan hanya menjadi tanggung jawab ibu. Ia menekankan, anak membutuhkan kehadiran ayah bukan sekadar secara fisik, tetapi juga secara emosional melalui komunikasi, pendampingan, dan keteladanan.

Sebagai bentuk komitmen tersebut, Pemerintah Kabupaten Wonosobo secara resmi meluncurkan Gerakan WAYAH (Waktu Bersama Ayah) serta Kelas AMAN (Ayah Idaman).

Kedua program itu diharapkan menjadi gerakan bersama masyarakat untuk menyiapkan peran ayah sejak masa kehamilan hingga mendampingi proses tumbuh kembang anak.

"Semangat 'Ayah Wajib Hadir' harus benar-benar diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran ayah bukan hanya secara fisik, tetapi hadir untuk mendengar, mendampingi, membimbing, dan menjadi teladan bagi anak-anaknya," tegasnya.

Lebih jauh, Afif menyampaikan bahwa gerakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada ayah kandung, tetapi juga seluruh figur ayah dalam keluarga, seperti kakek, paman, wali, maupun sosok laki-laki yang menjadi panutan bagi anak.

"Indonesia saat ini memasuki bonus demografi. Peluang ini hanya datang sekali dalam sejarah bangsa. Jika keluarga kita kuat, kita optimistis Wonosobo mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, berkarakter, serta siap menyongsong Indonesia Emas 2045. Mari kuatkan keluarga hari ini, hadirkan pengasuhan yang berkualitas, dan siapkan generasi unggul sebagai penggerak terwujudnya Wonosobo yang semakin sejahtera, adil, dan makmur," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBPPPA) Kabupaten Wonosobo, Dyah Retno Sulistyowati, mengatakan bahwa keluarga saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama akibat perkembangan teknologi digital.

Ia menyebut tingginya penggunaan internet oleh anak-anak membawa peluang sekaligus ancaman bagi kualitas relasi dalam keluarga.

"Hari ini anak-anak hidup di era digital. Teknologi memang membuka peluang belajar, tetapi di sisi lain juga mengurangi interaksi dan kualitas komunikasi antara orang tua dengan anak. Banyak keluarga tinggal serumah, tetapi jarang benar-benar bersama," ujarnya.

Menurut Dyah, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan kehadiran orang tua.

"Tidak ada aplikasi yang dapat menggantikan pelukan orang tua, tidak ada algoritma yang mampu menggantikan nasihat seorang ayah, dan tidak ada teknologi yang dapat menggantikan kasih sayang seorang ibu," katanya.

Selain tantangan digital, pembangunan keluarga di Wonosobo masih dihadapkan pada persoalan stunting, perkawinan usia anak, serta kekerasan terhadap perempuandan anak.

Dyah mengungkapkan, hingga semester pertama tahun 2026 terdapat 146.404 keluarga berisiko stunting dari total 280.520 keluarga di Kabupaten Wonosobo. Seluruh keluarga tersebut saat ini didampingi oleh 2.034 Tim Pendamping Keluarga (TPK).

Di bidang perlindungan perempuan dan anak, sejak Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (UPT PPA) dibentuk pada Februari 2026, tercatat 42 kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak yang seluruhnya telah berhasil ditangani meskipun masih menghadapi keterbatasan sarana dan sumber daya.

Sementara itu, persoalan perkawinan usia anak masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Hingga akhir 2025 masih tercatat 264 kasus perkawinan usia anak, dengan kecenderungan meningkat pada masa transisi pendidikan dari jenjang SMP ke SMA yang juga menjadi titik rawan putus sekolah.

"Persoalan-persoalan tersebut tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri. Kolaborasi seluruh perangkat daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat, tenaga kesehatan, kader, hingga keluarga menjadi kunci untuk membangun keluarga yang berkualitas," jelas Dyah.

Melalui Festival Cinta Keluarga, DPPKBPPPA mengajak seluruh keluarga di Wonosobo membiasakan Lima Langkah Cinta Keluarga, yaitu, mencintai sebelum berharap dicintai, mengenali potensi setiap anggota keluarga dan mendukung cita-citanya, dan meluangkan dua jam "Senja Keluarga" setiap hari.

Selain itu, juga mengarusutamakan pendidikan agama sebagai bekal menghadapi tantangan kehidupan, dan menerapkan pola hidup bersih, sehat, dan peduli lingkungan.

Festival Cinta Keluarga yang memasuki penyelenggaraan tahun keempat, juga menjadi puncak rangkaian kegiatan Harganas 2026 yang sebelumnya diawali dengan Upacara Harganas, pelayanan Safari Keluarga Berencana di 15 kecamatan, berbagai lomba Program Bangga Kencana, sertakegiatan "100 Bocah Petualang".

Dyah menegaskan, DPPKBPPPA tidak hanya menjalankan program-program sektoral, tetapi membangun ekosistem keluarga secara menyeluruh, mulai dari pendampingan calon pengantin, pelayanan keluarga berencana, pendampingan ibu hamil dan balita pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan, pembinaan remaja melalui Program Generasi Berencana (GenRe) dan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK), perlindungan perempuan dan anak, hingga pembinaan lansia agar tetap sehat, mandiri, dan produktif.

Atas berbagai upaya tersebut, Wonosobo terus menunjukkan capaian positif. Hingga tahun 2026, daerah ini telah memiliki 175 Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) serta Kampung Keluarga Berkualitas di seluruh desa dan kelurahan.

Prestasi tersebut mengantarkan Kabupaten Wonosobo menjadi daerah dengan penetapan Sekolah Siaga Kependudukan (SSK) Paripurna jenjang SMP/sederajat terbanyak di Jawa Tengah bahkan Indonesia selama dua tahun berturut-turut, yakni pada tahun 2024 dan 2025.

"Prestasi tentu patut kita syukuri, tetapi yang lebih penting adalah memastikan seluruh program benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, juga diserahkan berbagai penghargaan Bangga Kencana Award 2026 kepada individu maupun lembaga yang dinilai berkontribusi dalam pembangunan keluarga, pengendalian penduduk, keluarga berencana, pemberdayaan perempuan, dan perlindungan anak.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 5 + 7 ?