Lewati ke konten utama
1/3

Tapa Bisu, Hastungkara, dan Birat Sengkala Berjalan Hening dan Khidmat, Wujud Ikhtiar Spiritual Menuju Wonosobo Loh Jinawi

Admin
70 kali dilihat

Keheningan menyelimuti pusat Kota Wonosobo saat ratusan peserta berjalan perlahan membawa obor dalam Prosesi Tapa Bisu, Kamis (23/7/2026) malam. Tanpa suara dan tanpa percakapan, langkah demi langkah peserta kirab menjadi simbol laku batin masyarakat dalam memanjatkan doa demi keselamatan, kedamaian, dan kesejahteraan Kabupaten Wonosobo.

Prosesi sakral tersebut menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, yang dilanjutkan dengan Hastungkara Ujubing Umbul Donga serta Birat Sengkala. Ketiga prosesi adat dan spiritual itu tidak hanya menjadi warisan budaya yang terus dilestarikan, tetapi juga merepresentasikan semangat persatuan, toleransi, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur para leluhur.

Kirab Tapa Bisu dimulai dari kawasan Klenteng Honggoderpo menuju Pendopo Kabupaten Wonosobo. Para peserta mengenakan busana adat Jawa dan berjalan dalam suasana hening sambil membawa obor sebagai lambang cahaya kehidupan dan pengharapan. Bersama kirab tersebut turut dibawa Air Suci Tirto Perwitosari serta Bantolo, yakni tanah yang berasal dari Desa Plobangan, Kecamatan Selomerto, yang sebelumnya telah diambil melalui rangkaian prosesi Bedhol Kedhaton.

Setibanya di Pendopo Kabupaten, Air Suci kemudian dipersatukan dalam prosesi Hastungkara Ujubing Umbul Donga, yaitu doa bersama lintas agama yang dipimpin oleh tokoh enam agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) bersama Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI). Doa bersama tersebut menjadi simbol kokohnya kerukunan umat beragama sekaligus komitmen masyarakat Wonosobo dalam menjaga harmoni di tengah keberagaman.

Prosesi kemudian dilanjutkan dengan Birat Sengkala, sebuah ritual yang sarat makna sebagai ikhtiar menyingkirkan segala bentuk mara bahaya, bencana, serta berbagai hambatan yang dapat mengganggu kehidupan masyarakat maupun pembangunan daerah.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat mengatakan, seluruh rangkaian prosesi adat dan spiritual tersebut berangkat dari rasa syukur atas anugerah Tuhan Yang Maha Esa yang telah menjaga Wonosobo hingga memasuki usia ke-201 tahun.

"Pada hari yang penuh makna ini, kita patut bersyukur karena Wonosobo masih dianugerahi kekuatan untuk menjaga tradisi luhur sekaligus menatap masa depan dengan penuh harapan. Kita bersyukur atas kerukunan yang terus terpelihara, bersyukur atas tanah yang subur yang menjadi sumber kehidupan masyarakat, serta bersyukur atas doa-doa yang senantiasa dipanjatkan demi kesehatan, keselamatan, dan kesejahteraan seluruh masyarakat Wonosobo," ungkap Afif.

Menurutnya, rasa syukur tersebut menjadi inti dari seluruh prosesi sakral yang dilaksanakan bersama, mulai dari Bedhol Kedhaton, Tapa Bisu, Hastungkara Ujubing Umbul Donga hingga Birat Sengkala.

"Melalui rangkaian prosesi adat dan spiritual tersebut, kita bersama-sama memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa demi keselamatan, kemakmuran, dan kesejahteraan seluruh masyarakat Kabupaten Wonosobo," ujarnya.

Afif menjelaskan, prosesi penyatuan Air Suci yang berasal dari empat penjuru mata angin mengandung makna kesucian hati dan niat seluruh masyarakat dalam membangun daerah. Sementara Bantolo, tanah yang berasal dari Desa Plobangan, menjadi simbol ketenteraman, kedamaian, serta kecintaan terhadap tanah kelahiran yang menjadi fondasi kehidupan masyarakat Wonosobo.

"Simbol-simbol tersebut mengandung makna mendalam tentang hubungan yang harmonis antara langit dan bumi, antara cita-cita luhur dengan kecintaan terhadap tanah air tempat kita dilahirkan," katanya.

Dalam kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan Dwi Pusaka Praja, yakni Tombak Karawelang dan Songsong Pangayoman, kepada Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI). Kedua pusaka tersebut menjadi pengingat akan pentingnya menegakkan kebenaran berdasarkan hukum yang berlaku sekaligus menghadirkan perlindungan bagi seluruh masyarakat.

"Kedua pusaka tersebut menegaskan bahwa fondasi utama berdirinya Kabupaten Wonosobo adalah pemerintahan yang menjunjung tinggi keadilan, kebijaksanaan, dan nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat," tutur Bupati.

Lebih lanjut, Afif menegaskan bahwa tema Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo, "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi", menjadi benang merah seluruh rangkaian prosesi tahun ini.

"'Nyawiji' berarti bersatu, 'Makarti' berarti bekerja dan berkarya dengan sungguh-sungguh, sedangkan 'Loh Jinawi' merupakan cita-cita terwujudnya masyarakat yang aman, tenteram, sejahtera, dan makmur. Tema tersebut menegaskan bahwa doa, simbol, serta tradisi bukanlah sekadar romantisme masa lalu, melainkan energi yang menggerakkan pembangunan Wonosobo pada masa kini dan masa yang akan datang," jelasnya.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Wonosobo, Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) serta Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia (MLKI) yang memimpin prosesi Hastungkara Ujubing Umbul Donga dan Birat Sengkala sebagai ikhtiar spiritual agar Kabupaten Wonosobo senantiasa dijauhkan dari segala mara bahaya serta dianugerahi keselamatan dan kesejahteraan.

"Melalui semangat Nyawiji Makarti, marilah kita menyatukan niat, tekad, dan karya demi mewujudkan Wonosobo Loh Jinawi. Semoga seluruh doa yang kita panjatkan dikabulkan oleh Allah SWT sehingga menjadi kekuatan bagi kita semua dalam membangun Kabupaten Wonosobo yang semakin adil, makmur, sejahtera, dan bermartabat," pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan dan Ekonomi Kreatif Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Wonosobo, Ratna Sulistiyowati, menjelaskan bahwa Tapa Bisu merupakan simbol doa dan laku spiritual masyarakat Wonosobo yang dilaksanakan setiap peringatan Hari Jadi Kabupaten Wonosobo.

"Prosesi Tapa Bisu merupakan doa masyarakat dengan harapan Wonosobo senantiasa aman, tenteram, sejahtera, serta dijauhkan dari berbagai bencana. Pengambilan air suci juga menjadi bentuk doa bersama agar Wonosobo selalu memperoleh perlindungan," jelas Ratna.

Ia menerangkan, dalam prosesi tersebut hanya Air Suci Tirto Perwitosari dan Bantolo dari Desa Plobangan yang dikirab menuju Pendopo Kabupaten. Setelah dilakukan penyatuan air dan doa bersama lintas agama dalam Hastungkara, rangkaian dilanjutkan menuju Paseban Timur untuk prosesi Birat Sengkala.

"Rangkaiannya dimulai dari Tapa Bisu, kemudian penyatuan air suci di Pendopo yang disertai doa bersama para pemuka agama, selanjutnya dilanjutkan dengan Birat Sengkala di Paseban Timur," ujarnya.

Menurut Ratna, secara filosofis Birat Sengkala berarti membalikkan atau menyingkirkan segala bentuk sengkala, yaitu berbagai kesulitan, bencana, rintangan, dan hal-hal buruk yang dapat menghambat kehidupan masyarakat.

"Melalui prosesi ini masyarakat diajak memperkuat hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, alam, serta budaya yang diwariskan para leluhur. Seluruh rangkaian ini bukan sekadar tradisi, tetapi menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah harus selalu disertai doa, kebersamaan, dan pelestarian nilai-nilai budaya," pungkasnya.

Melalui pelaksanaan Tapa Bisu, Hastungkara Ujubing Umbul Donga, dan Birat Sengkala, Pemerintah Kabupaten Wonosobo kembali menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada aspek fisik, tetapi juga harus dibangun di atas pondasi spiritual, budaya, dan persatuan masyarakat. Semangat "Nyawiji Makarti, Wonosobo Loh Jinawi"diharapkan menjadi energi bersama dalam mewujudkan Wonosobo yang semakin maju, harmonis, adil, makmur, dan sejahtera.

1 Komentar

Layanan BNI
Layanan BNI

Bagaimana cara menghubungi Layanan BNI, Kartu Kredit BNI, dan Asuransi BNI Life - BNI Melayani penarikan dana besar, keluhan transaksi, kendala transfer, saldo terpotong/tidak masuk, Internet Banking & kebutuhan perbankan lainnya. 📞 WhatsApp Support BNI: (+62) 853-8114-6192 - BNI Life Asuransi Jiwa Info produk, klaim asuransi, verifikasi jaminan rawat inap rumah sakit rekanan, perubahan data polis & pembatalan asuransi. 📞 WhatsApp Support: (+62) 853-8114-6192 - Kartu Kredit BNI Pengajuan, pembuatan, penutupan & pemblokiran kartu, keluhan transaksi, semua jenis kartu: Visa, Mastercard, Platinum, JCB, dll. 📞 WhatsApp Support Khusus Kartu Kredit BNI: (+62) 821-2849-6335 🕐 Layanan WhatsApp: 24 jam sehari, termasuk hari libur nasional.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 7 + 2 ?