Akan tetapi pada hari Kamis (25/12), kata dia, jumlah rumah yang rusak bertambah menjadi tujuh unit sehingga setiap malam atau saat hujan warga setempat mengungsi ke rumah-rumah penduduk yang aman atau ke rumah saudara-saudaranya maupun masjid yang berjarak satu kilometer dari lokasi gerakan tanah.
Menurut dia, tim dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung telah mendatangi lokasi gerakan tanah di Dusun Cijinjing, Desa Cibeunying, Kecamatan Majenang, untuk melakukan kajian dan hasilnya akan disampaikan satu minggu ke depan. "Dari kesimpulan sementara, daerah tersebut rentan terhadap ancaman longsor sehingga masyarakat perlu hati-hati," katanya.
Dia mengakui bahwa selama ini di Dusun Cijinjing belum dipasangi ekstensometer untuk mengukur parameter pergeseran tanah meskipun wilayah tersebut rentan terhadap ancaman longsor.
Kendati demikian, dia mengatakan bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah meminta BPBD Cilacap untuk segera mengusulkan pengadaan alat peringatan dini tanah longsor atau "landslide early warning system" (LEWS). "Kami akan coba mengusulkan. Dulu, Pertamina pernah memasang LEWS di Desa Negarajati, Kecamatan Cimanggu, kalau di Cibeunying belum ada, kami akan mengusulkannya ke pusat," katanya.
Lebih lanjut, Supriyanto mengatakan bahwa pihaknya bersama TNI/Polri berusaha mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana longsor di Dusun Cijinjing sedini mungkin karena langkah preventif lebih baik daripada penanganan pada masa tanggap darurat.
Menurut dia, hal itu disebabkan bagian bawah Dusun Cijinjing terdapat Sungai Cijalu sehingga jika terjadi longsor dan meterial longsorannya masuk ke sungai akan menjadi sumbatan.
Ia mengatakan bahwa kondisi tersebut dapat mengakibatkan terjadinya limpasan di wilayah yang berada di bantaran Sungai Cijalu. "Tapi mudah-mudahan tidak sampai terjadi longsor. Kami belajar dari pengalaman tempat lain termasuk Banjarnegara (longsor di Dusun Jemblung, red.)," katanya.
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID
0 Komentar