Sedikitnya 150 orang yang berasal dari aktivis perempuan dan anak ikut ambil bagian dalam aksi yang juga diwarnai dengan pembagian bunga dan leaflet kepada para pengguna jalan yang melintas serta di alun-alun kota.
Ditemui di sela-sela aksi, Ketua UPIPA Wonosobo, Nuraini Ariswari, menuturkan, aksi tersebut digelar sebagai keprihatinan atas tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak di Wonosobo selama ini.
Aksi tersebut juga dimaksudkan agar masyarakat memiliki tanggung jawab untuk peduli terhadap kekerasan yang dialami perempuan dan anak serta paham bahwa isu-isu kekerasan ini harus bersama-sama dicegah, dihindari dan ditangani bersama-sama.
Ditambahkannya, peserta berasal dari beberapa unsur seperti FORKOS, Organisasi Perempuan yang tergabung dalam GOW, Tim Penggerak PKK dan DWP, sejumlah 150 orang lebih. Angka ini bertambah saat hari H, dari perkiraan semula 75 orang, karena banyak yang antusias dan ingin ikut berpartisipasi, khususnya dalam ikut mengkampanyekan aksi damai 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan dan anak, setiap tanggal 25 November sampai 10 Desember, dan juga sebagai momen peringatan hari Ibu ke 86.
Ia juga bersyukur, dari KODIM, POLRES dan beberapa SKPD lain juga terlibat aktif, bahkan start jalan aksi damai dilepas oleh Asisten Pemerintahan Sekda, Aziz Wijaya.
Sementara itu, pendamping Forum Anak Kreatif Wonosobo (FORKOS), Suranti, menuturkan, laporan kasus kekerasan pada anak yang semakin banyak justru menunjukkan bahwa masyarakat peduli kekerasan terhadap anak. Menurutnya bukan karena kekerasannya yang semakin meningkat, melainkan kepedulian dan keterbukaan mereka terhadap kekerasan yang dialami semakin meningkat, sehingga mereka peduli untuk bergerak, minimal dengan melapor ke instansi terkait seperti Kepolisian atau UPIPA.
0 Komentar