"Seolah-olah mereka sudah tahu penyebab jatuhnya pesawat tersebut. Padahal mereka tidak mengerti apa-apa," kata Sylvester Matutina dalam keterangannya kepada wartawan, Jumat (2/1).
Komentar yang tidak berdasar itu, kata dia, justru dapat memunculkan keresahan di masyarakat, khususnya keluarga korban. Karena itu, Syl menyarankan agar semua pihak menunggu sampai black box yang berisi rekaman data penerbangan FDR (Flight Data Recorder) dan perekam suara kokpit CVR (Cockpit Voice Recorder) ditemukan.
"Bagaimana bisa disimpulkan penyebabnya. Black Box saja belum ditemukan. Percayakan saja kepada Komite Nasional Keselamatan Transportasi(KNKT) yang akan menyelesaikan penyidikan," tukasnya.
Syl mengatakan menganalisis kecelakaan pesawat terbang bukan hal yang mudah karena membutuhkan waktu yang terbilang lama. Selain itu, untuk menyimpulkan penyebab sebuah kecelakaan pesawat ada berbagai macam metode yang dapat digunakan, di antaranya CCSA, FTA, ETA, dan Bow Tie Anilysis.
Dia mencontohkan peristiwa jatuhnya pesawat Air France Flight 477 di Atlantic Ocean pada 1 Juni 2009 baru diketahui penyebabnya pada 5 Juli 2012. Begitu juga dengan pesawat Trans Airworld Flight 800 yang jatuh di Atlantic Ocean pada 17 Juli 1996, penyebabnya diketahui pada 23 Agustus 2000.
"Dari dua kecelakaan pesawat ini, membutuhkan waktu 3 sampai 4 tahun untuk memastikan penyebabnya," tandasnya.
Mabes Polri Perintahkan Tim DVI Percepat Idenfitikasi Korban AirAsia
JAKARTA -- Tim Disaster Victim Identification Polri bekerja cepat dalam melakukan identifikasi jenazah korban kecelakaan pesawat AirAsia QZ 8501.
Mabes Polri sudah menugaskan Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri Brigjen Arthur Tampi dan Tim DVI membantu Basarnas dalam rangka mengidentifikasi korban-korban yang ditemukan.
"Kita berupaya untuk mengidentifikasi secepat mungkin," kata Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Ronny Franky Sompie, Jumat (2/1).
Identifikasi jenazah dilakukan dengan berbagai cara. Sebab, kondisi jenazah itu berbeda-beda.
"Dari antemortem keluarga semoga bisa mempermudah identifikasi," ungkap Ronny.
Dia mengatakan, Tim DVI sudah berpengalaman melakukan identifikasi korban. Sebelumnya, upaya identifikasi ini sudah pernah dilakukan pada berbagai musibah yang terjadi. "Tim DVI sudah dikenal untuk mengidentifikasi korban-korban bencana," paparnya.
Lokasi Ekor Pesawat AirAsia QZ8501 Ditemukan
PANGKALAN BUN - TNI Angkatan Laut memastikan bahwa KRI Bung Tomo telah mendeteksi lokasi badan pesawat yang diduga bagian belakang dari AirAsia yang hilang pada Minggu lalu (28/12).
TNI-AL mengetahui keberadaan bagian belakang pesawat itu semenjak Jumat (2/1) siang. Namun, belum bisa dipastikan bagian belakang pesawat itu terdapat jenazah atau tidak. Yang pasti, KRI Bung Tomo mendeteksi adanya bagian belakang pesawat dari alat pendeteksi bawah laut yang ada di kapal milik Armatim tersebut.
Perwira Pelaksana KRI Bung Tomo Letkol Laut (P) Ashari Alamsyah menjelaskan, penemuan ekor pesawat itu bisa dilakukan karena ada alat pendeteksi bawah laut. Jadi, setelah dipancarkan gelombang dan ada sinyal lemah (gelombang pantulan), tergambar pencitraan adanya bagian belakang pesawat.
"Namun, bagian belakang itu sebesar apa belum diketahui," ujarnya.
Sebesar apakah bagian belakang pesawat tersebut? Dia menuturkan dalam pencitraan itu belum diketahui Sebab, langkah selanjutnya harus dicek oleh penyelam dari TNI. "Nanti, semuanya masih dalam pemeriksaan," tuturnya.
Yang pasti lokasi adanya bagian belakang pesawat itu berdekatan dengan lokasi penemuan jenazah dan pintu darurat yang ditemukan KRI Bung Tomo. "Dekat penemuan awal kami," ujarnya ditemui di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, kemarin.
Lalu, apakah terdapat jenazah atau tidak dalam bagian belakang, itu juga masih dalam penelusuran. Pasalnya, KRI Bung Tomo tidak bisa melakukan evakuasi, nantinya direncanakan ada kapal lain yang mengevakuasi. "Penyelam ada di kapal yang lain juga," tuturnya.
Sementara itu, Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya TNI F Henry Bambang Soelistyo mengaku belum bisa memastikan keberadaan ekor pesawat tersebut. Menurutnya, belum ada laporan resmi dari unit pencari mengenai penemuan bagian-bagian pesawat besar.
Meski begitu, Soelistyo menegaskan, tim gabungan terus berusaha untuk mencari bagian-bagian pesawat yang ada. Salah satunya, penugasan tiga kapal dengan teknologi deteksi bawah laut dari kemarin malam hingga pagi ini.
Posko DVI Dipersiapkan Pindah ke Pangkalan Bun
PANGKALAN BUN – Direktur Eksekutif DVI Mabes Polri Kombes Pol Anton Castilani mengatakan, saat ini pihaknya sedang mempertimbangkan kemungkinan dipindahkannya posko utama Tim DVI dari Surabaya ke Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Alasan rencana pemindahan itu agar Tim DVI bisa bekerja lebih cepat dengan kondisi jenazah yang ditemukan sudah mulai tidak utuh.
"Kami masih pertimbangkan pemindahan tim DVI ke Pangkalan Bun," kata Anton di RS Sultan Imanudin seperti yang dilansir Kalteng Pos (Grup JPNN.com), Sabtu (3/1).
Pertimbangan pemindahan tersebut, jelas Anton, mengingat jenazah yang saat ini ditemukan rata-rata dengan kondisi sudah mengalami pembusukan lanjut. Apalagi saat ini sudah hari keenam pencarian, sehingga pada saat ditemukan kondisi jenazah tidak berbentuk kembali.
Terkait rencana tersebut, Bupati Kotawaringin Barat H Ujang Iskandar bersama beberapa pejabat serta Dirut RS Sultan Immanudin pun tadi sore terlihat sudah mulai melakukan pengecekan lokasi yang mungkin nantinya akan digunakan.
Maskapai Langgar Izin Rute dan Tidak Ambil Data BMKG, Izin Terbang AirAsia Surabaya–Singapura Dibekukan
JAKARTA – Sedikit demi sedikit, penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 mulai terkuak. Salah seorang pilot yang menerbangkan pesawat rute Surabaya–Singapura itu ternyata tak mengambil laporan cuaca yang disediakan AirNav Indonesia.
Pihak maskapai asal Malaysia itu ternyata baru mengambilnya pada pukul 07.00, setelah air traffic control (ATC) kehilangan kontak dengan pesawat.
Kepastian itu disampaikan Staf Khusus Menteri Perhubungan Hadi M. Djuraid saat jumpa pers Jumat (2/1) di Kementerian Perhubungan (Kemenhub).
Bukti itu terungkap setelah Menteri Perhubungan (Menhub) Ignasius Jonan bertanya kepada pihak ATC.
”Pak Jonan kaget ketika AirAsia ternyata tidak brifing terlebih dulu dengan ATC ketika ingin terbang. Bahkan, tidak hanya sekali. Menurut catatan kami, beberapa kali AirAsia tidak melakukan brifing,” ujarnya.
Menurut Hadi, setelah mendengar kabar itu, kemarin pagi Jonan bersama pejabat Kemenhub langsung melakukan sidak di Cengkareng. Dia mengunjungi konter perusahaan penerbangan seperti AirAsia, Garuda, dan Sriwijaya.
Dia melanjutkan, di konter AirAsia, karena penasaran, Jonan bertanya kepada manajemen alasan tidak melakukan brifing sebelum terbang. Padahal, dalam aturan, dua jam sebelum take off, pilot harus menyerahkan flight plan. Setelah itu, pilot akan menerima informasi cuaca dari AirNav. ”Mereka bilang cara brifing itu sudah kuno,” ujarnya.
Mendengar penjelasan salah satu pihak manajemen tersebut, Jonan marah. Saat itu juga mantan Dirut PT Kereta Api Indonesia (KAI) tersebut memerintahkan seluruh maskapai, termasuk AirAsia, harus brifing sebelum terbang. ”Mulai saat ini, semua maskapai ketika mau terbang harus brifing,” ungkapnya.
Hadi menuturkan, meski terbilang kuno dan konservatif, brifing terbilang ampuh untuk meningkatkan safety. Sebab, dengan pertemuan singkat selama 10–20 menit itu, pilot dan ATC bisa berdiskusi. Pertemuan tersebut juga dihadiri pilot senior.
”Jadi, ada saling diskusi. Bagaimana rutenya, lalu kondisi cuacanya. Pilot senior memaparkan pengalamannya mengatasi kendala yang dihadapi di lapangan,” papar dia.
Hadi menyatakan, ke depan, kinerja AirAsia akan dievaluasi. Kemenhub bakal membentuk tim investigasi untuk memeriksa seberapa besar pelanggaran AirAsia. Jika terbukti bersalah, maskapai milik Tony Fernandes itu dijatuhi sanksi. Hukumannya ada tiga, yaitu teguran, pencabutan rute penerbangan, dan pencabutan izin penerbangan di Indonesia.
Sanksi awal pun sudah dijatuhkan Kemenhub. Lewat Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara No AU.008/1/1/DRJU-DAU-2015 yang bertanggal 2 Januari 2015, Kemenhub membekukan sementara rute penerbangan Surabaya–Singapura.
AirAsia dinilai melanggar persetujuan rute. Pada Surat Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Nomor AU.008/30/6/DRJU-DAU-2014 yang bertanggal 24 Oktober 2014 tentang izin penerbangan luar negeri periode winter 2014–2015, rute Surabaya–Singapura PP yang diberikan kepada AirAsia Indonesia sesuai dengan jadwal penerbangan pada Senin, Selasa, Kamis, dan Sabtu.
Namun, dalam pelaksanaannya, penerbangan AirAsia Indonesia rute Surabaya–Singapura PP dilakukan di luar izin yang diberikan, antara lain Minggu. ”Mereka sudah mengajukan izin, belum disetujui tapi sudah berangkat,” ujar Kepala Pusat Komunikasi (Kapuskom) J.A. Barata.
Barata mengatakan, pembekuan sementara itu dilakukan berdasar audit administrasi oleh Kemenhub. Menurut dia, pembekuan tersebut berbeda dengan investigasi yang dilakukan Kemenhub dan KNKT nanti.
”Itu beda lagi. Nantinya tim investigasi akan paparkan hasil investigasi,” ujar dia. Sedangkan untuk penumpang yang telanjur memesan tiket, Kemenhub akan mengalihkan ke penerbangan maskapai lain.
Sementara itu, pengamat penerbangan Ruth Hana Simatupang mengatakan, sebenarnya aturan brifing tersebut masuk standard operating procedure (SOP). Namun, tahap itu disepelekan karena maskapai menganggap informasi cuaca bisa didapat dari website.
Perempuan yang dulu pegawai Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) itu juga mengkritik Kemenhub lantaran tidak tegas dalam menjalankan aturan. Menurut dia, tidak datangnya pilot saat brifing tersebut terjadi sejak dulu. ”Saat saya di KNKT sudah gitu,” ujarnya.
Menurut dia, Kemenhub lemah di bidang pengawasan. Sebab, sejak dulu belum ada petugas yang mengecek apakah pilot sudah brifing atau belum. ”Saya rasa, menteri perhubungan harus melihat itu. Harus ada petugas yang mengawasi. Sama dengan perubahan jadwal. Kan seharusnya Kemenhub memperingatkan sejak awal. Ini kok diam saja,” tutur dia.
Selain itu, Kemenhub harus membuat pola hubungan antara ATC, maskapai, dan BMKG lancar. Dengan begitu, ketiganya mau tidak mau harus bertemu sebelum pesawat take off.
Presiden Direktur PT AirAsia Indonesia Sunu Widyatmoko mengatakan bahwa pihaknya selalu menggunakan data cuaca dari BMKG dalam operasi penerbangan.
”Data cuaca seluruh Indonesia kami peroleh melalui e-mail dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pusat dalam bentuk pdf berwarna,” ujarnya melalui pesan singkat kepada Jawa Pos.
Dengan begitu, Sunu ingin menegaskan bahwa data cuaca BMKG tidak hanya diperoleh secara fisik dengan mendatangi Kantor BMKG, tetapi juga bisa dengan cara lain. Dia tidak menjelaskan kapan e-mail tersebut diperoleh dari BMKG.
Dia hanya menegaskan bahwa data cuaca BMKG itulah yang menjadi acuan dalam operasi penerbangan AirAsia. ”Data tersebut kami kirimkan ke seluruh station kami,” jelasnya.
Di bagian lain, saat ini beredar isi percakapan antara pilot AirAsia dan ATC. Pada pukul 06.12, pilot meminta izin ATC untuk menyimpang ke kiri sejauh 7 mil dan naik ke ketinggian 38 ribu kaki.
Namun, pihak ATC hanya memberikan izin menyimpang ke kiri. Sedangkan permintaan untuk naik ke ketinggian 38 ribu kaki belum diizinkan.
Sebab, ada tujuh pesawat lain yang berada di jalur penerbangan tersebut. ”Benar kami meminta dia hold dulu sebelum naik. Dia jawab roger, AirAsia QZ8501,” papar Dirut AirNav Bambang Tjahjono.
Bambang menambahkan, pilot tidak memaparkan alasan harus naik dari 32 ribu kaki ke 38 ribu kaki. Dia menebak, pesawat yang dikemudikan pilot Iriyanto itu ingin mencapai economic level, yakni ketinggian paling nyaman lantaran tidak ada ancaman awan cumulonimbus dan lebih hemat bahan bakar.
”Namun, kami belum memberi izin lantaran banyak pesawat di atasnya,” jelas dia.
Basarnas Sebut Badan Pesawat AirAsia Ditemukan di Kedalaman 30 Meter
BADAN SAR Nasional menyatakan badan pesawat AirAsia QZ8501 resmi ditemukan semalam, Jumat (2/1). Badan pesawat terletak di kedalaman 30 meter, dan terdiri dari dua bagian dengan letak posisi berdekatan.
“Dari hasil operasi semalam, pada pukul 23.40 WITA, kami berhasil mendeteksi dua objek dengan dimensi cukup besar,” kata Kepala Basarnas Marsekal Madya FHB Soelistyo di kantor pusat Basarnas, Jakarta Pusat, Sabtu (3/1).
“Posisi kedua objek berdekatan satu sama lain. Semua berada pada kedalaman 30 meter. Itu adalah bagian dari pesawat AirAsia yang kita cari selama ini,” ujar Soelistyo, yang dilansir CNN Indonesia.
Dari dua objek yang terdeteksi, satu berhasil dideteksi dalam tiga dimensi, sedangkan satu lagi terdeteksi dalam dua dimensi. Objek yang terdeteksi dalam 3D berukuran 9,2 x 4,6 x 0,4 meter. Sementara yang terdeteksi dalam 2D berukuran 7,2 x 0,5 meter.
Saat ini tim sedang menurunkan ROV ke bawah permukaan air laut untuk mendapatkan gambaran sesungguhnya terhadap kedua benda tersebut. Namun penurunan ROV masih sulit dilakukan karena terhadang gelombang tinggi dan arus kuat.
Badan pesawat, menurut Direktur Operasional SAR Posko Pangkalan Bun Marsekal Pertama Supriyadi, diperkirakan berada di Teluk Kumai, sebab serpihan barang dan jenazah ditemukan di perairan tersebut.
Sumber : jpnn.com
0 Komentar