Dia mengaku melihat kondisi tersebut saat melakukan pantauan dari udara dengang menggunakan helikopter Basarnas. Menurut dia, rumah-rumah penduduk itu tidak hanya berada di bawah tetapi juga di atas bukit yang longsor sehingga sangat rawan.
"Saya melihat dari udara bahwa sebenarnya memang benar apa yang disampaikan oleh beberapa pejabat sebelumnya, di Banjarnegara ini banyak sekali potensi untuk longsor," katanya.
Dia mengharapkan pemerintah daerah memikirkan kondisi tersebut sehingga dapat mengurangi potensi korban meskipun terjadi longsor. Terkait pencarian korban meninggal dunia, dia mengakui bahwa pada awal operasi terdapat kendala di lapangan, yakni masalah akses masuk ke lokasi dan kondisi cuaca.
"Pada hari pertama terjadi hujan sehingga mau masuk susah. Kemudian, komunikasi ada sedikit hambatan," katanya.
Terkait upaya pencarian korban pada hari ketiga, dia mengatakan bahwa operasi pencarian untuk sementara dihentikan sejak pukul 14.00 WIB karena terjadi hujan. Berdasarkan data sementara di Posko Induk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjarnegara, jumlah jenazah yang telah ditemukan sebanyak 50 orang terdiri 36 laki-laki dan 14 perempuan.
Dari jumlah 50 jenazah tersebut, lima di antaranya belum teridentifikasi, yakni empat laki-laki dan seorang perempuan. Dengan ditemukannya 50 jenazah, diperkirakan masih ada sekitar 58 korban yang masih tertimbun longsor.
BMKG Operasikan Mobile Weather Radar di Banjarnegara
BANJARNEGARA -- Stasiun Meteorologi Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Cilacap mengoperasikan "Mobile Weather Radar" (mobil radar pemantau cuaca, red.) di Banjarnegara, Jawa Tengah, untuk memantau kondisi cuaca di lokasi bencana longsor.
"Mobil radar telah berada di kantor BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Banjarnegara sejak hari Ahad (14/12)," kata Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG Cilacap Teguh Wardoyo di Banjarnegara, Senin (15/12).
Ia mengatakan bahwa mobil radar tersebut sengaja ditempatkan di kantor BPBD agar bisa mendeteksi awan di lokasi bencana longsor, Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar. Menurut dia, radar tidak bisa mendeteksi awan dalam radius 3 kilometer.
"Harus dalam radius di atas 3 kilometer, hingga 150 kilometer bisa," jelasnya.
Menurut dia, mobil radar berada di Banjarnegara hingga tiga hari guna memantau kondisi cuaca di lokasi longsor. "Tergantung perkembangan. Kalau cuacanya membaik, mobil radar ditarik kembali ke Cilacap, tapi kalau memburuk akan lama di sini," jelasnya.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa berdasarkan hasil pantauan mobil radar, kondisi cuaca di Kecamatan Karangkobar dan sekitarnya dalam beberapa hari ke depan diprakirakan berpotensi hujan ringan hingga sedang.
Longsor di Banjarnegara, Loncatan Tanah Mencapai 600 Meter
YOGYAKARTA— Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan assessment terhadap bencana tanah longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara. Hasilnya, longsor tersebut berkertinggian 100 meter dengan lebar 500 meter.
“Loncatan tanah mencapai 600 meter,” kata Wahyu Pilopo dari Fakultas Geologi UGM saat jumpa pers di Gedung Pusat UGM, Senin (15/12).
Menurut Wahyu, berdasarkan data Badan Geologi terdapat beberapa faktor terjadinya tanah longsor yaitu karena lereng yang curang hingga sangat curam. Selain itu, lapisan tanah yang sangat tebal yang dipengaruhi proses alterasi.
Kemudian, struktur geologi yang kompleks dan ditemukan banyak jalur patahan. Posisi sawah atau kebun, kata Wahyu, yang kurang sesuai. Oleh karena itu, tempatnya memang cenderung terjadi longsor. Drainase yang buruk juga menjadi akibat dari terjadinya longsor tersebut.
Wahyu menjelaskan, banyak rumah di lokasi longsor yang berada di bawah sawah. Hal tersebut yang membuat bencana longsor di Banjarnegara mengakibatkan banyaknya korban. Ia menambahkan, intensitas hujan merupakan faktor pemicu terjadinya longsor.
Menurut Wahyu, hujan yang terjadi pada saat longsor terjadi sebesar 101,8 milimeter (mm) perhari. Padahal batas wajar hujan perhari yaitu 55 mm atau selama dua jam berturut-turut. “Situasi ini sama dengan longsor yang terjadi 2006,” katanya.
Dikatakan Wahyu, langkah pencegahan merupakan hal yang terpenting dilakukan kedepannya. Menurut Wahyu, UGM akan segera melakukan identifikasi daerah yang rawan longsor. Rappid maping data juga akan dilakukam baik melalui peta, citra satelit, dan data cuaca.
Sejumlah Pengungsi Longsor Banjarnegara Mulai Terserang Penyakit
BANJARNEGARA -- Sejumlah pengungsi bencana tanah longsor Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, mulai terserang penyakit.
"Sejak dua hari terakhir, lebih dari 50 orang pengungsi memeriksakan kesehatannya di sini," kata petugas Posko Kesehatan, dr. Reza Rahardian di Desa Ambal, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, Senin (15/12).
Menurut dia, sebagian besar pengungsi itu mengeluhkan sakit flu, batuk, dan pusing-pusing. Bahkan, kata dia, banyak pengungsi berusia lanjut yang mengalami tekanan darah tinggi.
Kendati mulai banyak pengungsi yang terserang penyakit, dia mengatakan bahwa persediaan obat-obatan di Posko Kesehatan masih mencukupi kebutuhan. "Pasokan obat selain dari Dinas Kesehatan, dari Puskesmas juga mengalir," kata dia yang berasal dari Pusat Kesehatan Umum (PKU) Muhammadiyah Temanggung.
Salah seorang pengungsi, Badriah (45) mengaku demam dan pusing sejak Minggu (14/12) malam. "Namun sekarang sudah mulai membaik," kata dia yang kehilangan 12 orang keluarganya akibat longsor.
Pengungsi lainnya, Toflani (60) mengaku sakit flu dan batuk sejak dua hari terakhir dan hingga sekarang belum sembuh meskipun telah minum obat dari dokter. "Mungkin karena capek dan banyak pikiran, jadi belum sembuh," katanya.
Bupati Banjarnegara Keluarkan Status Tanggap Darurat Longsor
JAKARTA-- Pemerintah Kabupaten Banjarnegara telah mengeluarkan status tanggap darurat bencana longsor sejak 4 hingga 19 Desember 2014. Hingga saat ini, bencana tersebut telah menewaskan 51 korban jiwa.
"Selanjutnya status tersebut bisa diperpanjang melihat kondisi di lapangan," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, Senin (15/12).
Selama masa tanggap darurat, BNPB dan BPBD setempat akan terus melakukan evakuasi korban. Menurut Sutopo, apabila telah lewat masa tanggap darurat, BNPB akan berdialog dengan masyarakat setempat untuk menentukan apakah pencarian korban hendak dilanjutkan atau dihentikan.
Saat ini, penanganan bencana masih difokuskan pada evakuasi korban. Sebab, masih ada 57 korban lagi yang belum ditemukan. Menurut Sutopo, total pengungsi hingga saat ini ada 577 jiwa yang tersebar di sepuluh titik posko pengungsian.
Jumlah tersebut terdiri dari warga Dusun jemblung sebanyak 200 jiwa dan 377 orang lainnya adalah warga dari dusun sekitar yang ikut terdampak longsor.
Jumlah Korban Tewas Longsor Capai 52 Orang
BANJARNEGARA-- Jumlah korban meninggal yang ditemukan dari proses evakuasi Tim SAR Gabungan di Dusun Jemblung Desa Sampang Kecamatan Karangkobar Kabupaten Banjarnegara, terus bertambah. Hingga proses pencarian dihentikan sementara pada Senin (15/12) sore sekitar pukul 15.00, jumlah keseluruhan korban yang ditemukan telah mencapai 52 orang.
''Khusus hari ini, Tim SAR Gabungan menemukan 11 korban meninggal,'' jelas Mulwahyono, koordinator Basarnas pos Cilacap, yang diperbantukan dalam proses evakuasi tersebut.
Menurutnya, masalah angka korban yang ditemukan tersebut memang maasih berbeda-beda. Hal ini karena korban meninggal yang ditemukan sebelum Tim SAR Gabungan melakukan pencarian, sebenarnya ada dua orang.
''Dua orang korban itu, ditemukan warga yang melakukan pencarian pada Jumat (12/12) petang, sesaat setelah terjadi bencana,'' jelasnya.
Secara rinci, kata dia, jumlah korban meninggal yang ditemukan pada Jumat (12/12) ada dua orang, yang ditemukan pada Sabtu (13/12) ada 18 orang, yang ditemukan Ahad (14/12) ada 21 orang, dan korban meninggal yang ditemukan Senin (15/12) ada 11 orang.
Dengan temuan korban meninggal yang sudah mencapai 52 orang tersebut, maka jumlah temuan tersebut sudah mencapai sekitar separuh dari seluruh korban yang diperkirakan tertimbun tumpukan longsor. Dia juga menyebutkan, pada proses pencarian dan evakuasi korban pada Senin (15/12), waktu pencariannya lebih pendek dari hari sebelumnya.
Pada proses pencarian dua hari sebelumnya, pencarian dilakukan hingga pukul 17.00. Namun pada pencarian Senin (15/12), pencarian hanya dilakukan hingga pukul 15.00 WIB. Hal ini karena kondisi cuaca mendung, dan di bagian atas wilayah Karangkobar sedang terjadi hujan.
''Dengan pertimbangan keselamatan petugas Tim SAR Gabungan, maka pencarian korban dihentikan pukul 15.00 WIB,'' jelasnya.
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID
0 Komentar