Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo mengakui, intervensi BI terhadap pasar valas beberapa hari terakhir ini cukup besar. Misalnya meningkatkan pengelolaan likuiditas di pasar, dan mengerek intensitas lelang instrumen moneter seperti lelang sertifikat BI (SBI) tenor 9 bulan.
"Kami lihat pelemahan terlalu berlebihan. Makannya kami intervensi lebih banyak dan (nilai tukar) sudah kembali ke sekitar Rp 12.600 per USD. Kondisi kemarin (Senin, red) agak berat, tapi hari ini (Selasa, red) stabil," ujarnya di Kantor Kementerian Perekonomian, kemarin.
Merujuk data Bloomberg, rupiah kemarin sempat menyentuh level terendahnya di posisi Rp 12.938 per USD di pasar spot. Kemudian kembali melandai dan masuk ke posisi terkuatnya di Rp 12.650 per USD.
Di samping itu, tekanan juga terjadi di pasar obligasi. Berdasarkan laporan Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), kondisi yield atau imbal hasil obligasi Indonesia mencuat hingga 8,55 persen untuk surat berharga negara (SBN) acuan 10 tahun. Meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di posisi 8,39 persen.
Perry menjelaskan, selain menjaga stabilitas di pasar valas, pihaknya juga mengintervensi pasar obligasi melalui pembelian di pasar sekunder. "Kami beli cukup besar. Senin (15/12) beli Rp 1,5 triliun dalam satu hari. Pagi ini (kemarin, red) kami beli hampir Rp 200 miliar. Tapi sekarang sudah tidak banyak yang lepas (obligasi)," ujarnya.
Pembelian SBN mencapai Rp 1,7 triliun dalam dua hari itu merupakan yang terbesar selama setahun terakhir ini. Meski, jumlahnya masih di bawah intervensi saat terjadi kontraksi ekonomi Mei-Juni 2013 silam.
Yang jelas, menurutnya, kebijakan intervensi di pasar SBN cukup efektif memangkas yield SUN yang sebelumnya sempat mencapai level 8,7-8,8 persen.
"Yang perlu ditekankan, investor long term tetap stay. Yang jual besar itu investor short term, dan kemarin (Senin, red) memang ada penjualan SBN besar. Jadi kami belinya juga besar," terangnya.
Sejauh ini, tutur Perry, investor asing dengan portofolio jangka panjang cenderung terus memegang SBN. Sebab, mayoritas dari mereka lebih percaya terhadap fundamental ekonomi Indonesia. Misalnya optimisme terhadap current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan yang diprediksi turun dari akhir 2013 USD 29 miliar menjadi USD 25 miliar.
Sebaliknya, investor jangka pendek lebih banyak menjalankan aksi jual karena mereposisi portofolionya pada akhir tahun. "Biasanya awal tahun mereka mau balik lagi," tuturnya. Pada kuartal satu dan dua suplai SBN cenderung meningkat karena kementerian keuangan kembali menjual kembali SBN dalam rangka financing dari APBN tahun depan. "Kalau tahun ini target financing sudah tercapai, sehingga suplai dari SBN di pasar tidak terlalu banyak," jelasnya.
Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, financial market saat ini tengah mengalami tekanan dipicu oleh antisipasi terhadap hasil rapat dewan gubernur The Federal Reserve atau bank sentral AS.
Rapat yang dikenal dengan Federal Open Market Committee (FOMC) itu digelar pada 16-17 Desember 2014. Dikabarkan bahwa pertemuan itu membahas arah kebijakan moneter AS pasca pembaikan pertumbuhan ekonomi di AS.
"Suku bunga AS yang sekarang 0,25 persen akan segera meningkat. Bisa di semester satu atau dua 2015. Jadi pasar lakukan antisipasi melalui pembelian dolar," ungkapnya.
Menurut Mirza, kontraksi ekonomi ini tidak hanya terjadi di Indonesia. Namun juga melanda negara berkembang lain. Salah satu negara yang patut dicermati adalah Rusia. Jatuhnya rubel, mata uang Rusia hingga 48,8 persen year to date (ytd) memicu stabilisasi ekonomi oleh bank sentral Rusia. Yakni dengan menaikkan suku bunga acuannya hingga 650 basis poin (bps), dari 10 persen ke 17 persen.
"Yang pasti kita berbeda. Moneter kita lebih pruden. Pemerintah juga inisiatif dan displin melonggarkan ruang fiskal dan membuka investasi satu pintu untuk mengundang modal masuk ke Indonesia," jelasnya.
Di sisi lain, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga mengantisipasi pelemahan rupiah. Dari sisi pasar modal, Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman D. Hadad mengatakan, apabila indeks harga saham gabungan (IHSG) terus melanjutkan eskalasi, maka pihaknya siap menerapkan kebijakan untuk membeli kembali saham (buyback), dan menunda marked to market.
"Sudah ada peraturan kalau dalam tiga hari turun terus hingga 5 persen, maka kebijakan itu diberlakukan. Tapi mudah-mudahan tidak sampai (terjadi)," ungkapnya.
Menurut Muliaman, indikasi penurunan indeks sebetulnya terjadi di beberapa belahan negara lainnya. Misalnya indeks Nikkei Jepang yang drop 1,9 persen. Sementara indeks Strait Times Singapura yang anjlok 1,3 persen. Sementara Filiphina dan Jerman masing-masing drop 1,2 persen dan 2,7 persen.
Sedangkan indeks Inggris jatuh 1,87 persen. IHSG sendiri melemah 1,7 persen pada perdagangan Selasa pagi. "Artinya tidak hanya tercermin di nilai tukar. Tapi (kontraksi) juga di indeks pasar modal global terutama emerging market," paparnya.
Sementara itu, dalam hal industri keuangan, antisipasi yang dilakukan OJK adalah memperketat demand valas khususnya dolar AS melalui underlying. "Kami minta industri keuangan membantu agar tidak ada langkah yang bersifat spekulatif. Sementara ini memang belum ada indikasi spekulasi. Semua masih genuine demand," teranganya.
Ketahanan industri perbankan terhadap pelemahan rupiah juga dinilai cukup positif. Bank-bank kecil pada umumnya tidak memiliki eksposure valas karena bukan merupakan bank devisa. Sehingga, risiko terhadap pelemahan rupiah terhadap dolar AS kecil.
Sebaliknya, bank besar memiliki kemungkinan eksposure valas yang besar sehingga ada risiko. "Tapi kami sudah pantau seberapa terbuka dia (bank besar) dari eksposure. Dan mereka dalam keadaan baik. Semua under controlled," jelasnya.
Curigai Ada Permainan di Pasar Uang
JAKARTA - Direktur Eksekutif INDEF (Institute for Development of Economics and Finance) Ahmad Erani Yustika tak habis pikir dengan tajamnya pelemahan rupiah kali ini.
"Banyak sekali hal-hal yang susah dimengerti terkait dengan pelemahan ini. Kalau mengingat tentang fundamental rupiah, tentu situasinya tidak sejauh ini," tuturnya kemarin.
Erani khawatir bahwa situasi kali ini disebabkan adanya permainan di pasar uang. "Selain ada unsur kepanikan yang akibatnya semua orang banyak yang lebih beli dolar, dikhawatirkan ada permainan di pasar uang," katanya.
Faktor eksternal diungkapkannya cukup banyak mempengaruhi kondisi tersebut. Diantaranya yakni upaya The Fed yang disebut-sebut dalam waktu dekat akan menaikkan suku bunga acuannya.
"Sudah pasti The Fed akan menaikkan suku bunga. Menanggapi hal itu, BI (Bank Indonesia) pasti punya pertimbangan tersendiri," katanya.
Sejauh ini, menurutnya, upaya BI dalam mengintervensi pergerakan rupiah patut diapresiasi.
"Tapi dalam mengintevensi, BI harus tetap mempertimbangkan cadangan devisa. BI harus tetap memonitoring sejauh mana pelemahan rupiah akan berlangsung," katanya.
Selain itu, semua pihak diharapkan dapat berkoordinasi agar dapat mengembalikan keperkasaan rupiah. Semua regulator yang ada di pasar harus turut andil, tidak hanya BI.
"Sebab hal ini merupakan turbulensi ekonomi yang fluktuatif. Jika semua dapat berkoordinasi dengan baik, diharapkan tahun depan rupiah bisa menguat di level Rp 10.800 hingga Rp 11.000," ujarnya.
Rupiah Melemah, Eksportir-Importir Terpukul
JAKARTA - Pelemahan rupiah kian mengalami puncak. Kemarin, Rabu (16/12) rupiah tercatat menembus level Rp 12.937 per USD setelah sehari sebelumnya pada perdagangan non-delivery forward (NDF) melemah 11 poin ke Rp12.725 per USD dibandingkan dengan penutupan sebelumnya di level Rp12.713 per USD.
Pelemahan tersebut tentu membawa pengaruh yang sangat tajam pada dunia usaha, khususnya pelaku ekspor dan impor.
Direktur Eksekutif Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) Bambang SN mengungkapkan bahwa sebagai pelaku usaha kinerjanya mengalami pengaruh yang signifikan.
"Sebetulnya dari sisi importir yang kami inginkan hanya kestabilan dan kepastian. Sebab hal tersebut membawa pengaruh dalam hal pengaturan cashflow," ujarnya kepada Jawa Pos, Rabu (16/12).
Toto mengungkapkan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar yang terlalu tajam membuat pengusaha mengalami kerugian bukan hanya dari produksi, namun juga rugi kurs.
Padahal, menurutnya, importir biasanya telah menyetujui kontrak mendatangkan barang dengan jumlah tertentu selama jangka waktu tertentu, pada kurs tertentu yang telah disepakati.
"Kemarin estmasi kami di level Rp 12 ribuan, tapi dengan terus melemahnya rupiah, otomatis importir harus mendatangkan barang dengan harga lebih tinggi, padahal sudah ada kontrak dengan proyeksi kurs tertentu. Importir jelas rugi," tambahnya.
Dia mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah memberatkan karena mempengaruhi harga jual dalam negeri yang naik. Sedangkan, daya beli masyarakat lemah. "Namun, meski demikian kami juga tidak bisa serta merta menaikkan harga," tuturnya.
Dia menambahkan bahwa hingga kini masih banyak bahan baku yang belum dapat diproduksi dari dalam negeri.
"Gandum saja masih impor. Belum lagi bawang putih yang lebih dari 90 persennya impor karena di dalam negeri hanya mampu memenuhi paling banter 7 persen dari kebutuhan nasional," tambahnya.
Secara terpisah, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Eksportir Indonesia (GPEI) Toto Dirgantoro mengungkapkan hal senada.
"Meski dalam beberapa hal eksportir diuntungkan, tapi hal ini akan berdampak pada situasi mendatang. Ini sudah bukan masalah untung rugi, namun lebih pada harapan kestabilan rupiah," katanya.
Bagi pengusaha eksportir yang berbasis bahan baku lokal, seperti furnitur, memang seolah-olah lebih menguntungkan dalam penerimaan kurs rupiah. Namun, dengan melemahnya rupiah, biaya-biaya beban yang lain juga ikut naik. Sementara, bagi pengusaha ekspor yang bahan bakunya impor juga tidak banyak menolong akibat beban kurs.
"Secara industrial semua pihak terpukul dengan situasi ini. Daya beli masyarakat juga lemah," katanya. Fluktuasi ini juga dianggap akan menyulitkan dunia usaha dalam menghitung level aman rupiah.
Hal tersebut akan semakin diperparah dengan kebijakan pemerintah yang akan menerapkan kenaikan tarif listrik tahun depan. "Tantangan kami sangat berat, cost logistik naik seiring dengan kenaikan BBM, biaya pelabuhan juga berat, infrastruktur yang belum mumpuni juga pastinya mempengaruhi beban distribusi," ujarnya.
Depresiasi Rupiah Peluang Genjot Ekspor
JAKARTA - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, Pemerintah terus memantau kondisi pasar SBN di tengah pelemahan rupiah.
"Kami sudah siapkan buyback SBN kalau alami tekanan. Tapi sejauh ini belum diperlukan. Kami juga koordinasi dengan BI untuk bantu beli surat berharga di pasar sekunder. Skema bond stabilization framework juga disiapkan," tuturnya.
Bambang menambahkan, pihaknya juga mendorong BUMN untuk melakukan hedging terhadap transaksi yang bersifat mata uang asing. Hal ini diharapkan bisa mengurangi tekanan pada pasar valas.
Sebetulnya, turunnya daya tukar rupiah tersebut bisa menjadi peluang tersendiri bagi para pelaku usaha. Menteri Koordinator Perekonomian Sofyan Djalil menuturkan tekanan terhadap rupiah bakal menjadi kesempatan sebaik-baiknya bagi eksporter.
"Tapi kita mesti pikirkan kembali manufaktur. Manufaktur harus direvitalisasi karena selama ini cenderung stagnan atau malahan negatif. Sehingga kadang peluang ini tidak bisa dimaksimalkan," ujarnya.
Sumber : jpnn.com
0 Komentar