Begitu pula dengan beberapa negara lain seperti Filipina sebesar 29,04 persen. Sedangkan Brasil dan India masing-masing mencatat rasio cadev terhadap PDB mencapai 16,72 dan 16,77 persen.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara mengatakan, cadangan devisa tanah air sebetulnya cukup untuk membiayai 6,6 bulan impor, atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri (ULN) pemerintah. Serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Namun, menurutnya, diperlukan cadangan devisa yang lebih besar lagi untuk men-cover terjadinya outflows modal asing.
"Semakin besar kepemilikan asing, biasanya lebih rentan pasar finansialnya. Karena itu cadangan devisa juga harus lebih besar. Caranya ya ekspornya harus besar," ungkapnya.
Saat ini, sebagian besar investor yang memburu surat berharga adalah pemodal asing. Misalnya, dia mencontohkan, kepemilikan investor asing pada outstanding obligasi pemerintah hingga kini mencapai 39,4 persen.
Atau lebih tinggi ketimbang beberapa negara lainnya seperti Mexico (37,5 persen), Malaysia (28,6 persen), Brasil (20,4 persen), maupun Turki (29,3 persen). Bahkan asing yang memegang obligasi pemerintah Korea dan India hanya 16,1 persen dan 7 persen. Negara dengan kepemilikan asing lebih besar daripada Indonesia adalah Afrika Selatan sebesar 46,1 persen.
Sebagaimana diketahui, beberapa waktu lalu Indonesia sempat tertekan tren keluarnya modal asing. Hal itu memicu depresiasi rupiah yang cukup tajam mencapai 4,8 persen sepanjang tahun. Rupiah menyentuh angka terendahnya di level Rp 12.900 per USD.
Dalam kondisi tersebut, maka diperlukan cadangan devisa berupa valuta asing (valas) untuk mengamankan posisi rupiah melalui upaya intervensi BI. Misalnya di pasar obligasi, BI telah membeli hingga Rp 1,7 triliun dalam dua hari perdagangan di pasar sekunder.
Namun demikian, kegiatan intervensi tersebut dinilai cukup proporsional sehingga tidak begitu membuat cadangan devisa melorot tajam. Per November 2014, cadangan devisa RI mencapai USD 111,1 miliar.
Atau lebih rendah dibandingkan Oktober 2014 yang sebesar UD 112,0 miliar. "Angkanya (devisa) sekarang tidak jauh-jauh dari angka terakhir meski ada intervensi," ujarnya.
Sementara itu, Deputi Gubernur BI Perry Warjiyo menerangkan, sejauh ini investor asing dengan portofolio jangka panjang cenderung terus berburu surat berharga negara (SB). Sebab, mayoritas dari mereka lebih percaya terhadap fundamental ekonomi Indonesia.
Misalnya optimisme terhadap current account deficit (CAD) atau defisit transaksi berjalan yang diprediksi turun dari akhir 2013 USD 29 miliar menjadi USD 25 miliar.
Sebaliknya, investor jangka pendek lebih banyak menjalankan aksi jual karena mereposisi portofolionya pada akhir tahun.
"Biasanya awal tahun mereka mau balik lagi," tuturnya. Pada kuartal satu dan dua suplai SBN cenderung meningkat karena kementerian keuangan kembali menjual kembali SBN dalam rangka financing dari APBN tahun depan.
"Kalau tahun ini target financing sudah tercapai, sehingga suplai dari SBN di pasar tidak terlalu banyak," jelasnya.
Target Investasi Industri Rp 270 Triliun
JAKARTA - Investasi industri manufaktur diprediksi mencapai Rp 270 triliun pada 2015, naik 28 persen dari estimasi 2014 sebesar Rp 210 triliun.
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) memperkirakan sektor industri mineral bakal menjadi penggerak penanaman modal sektor manufaktur tahun depan.
Sekjen Kemenperin Anshari Bukhari mengatakan, pihaknya akan melanjutkan program percepatan pembangunan industri nasional yang mengacu pada visi kemandirian. Ini terutama dilakukan dengan mendorong pembangunan pabrik pengolahan dan pemurnian (smelter) mineral.
"Investasi smelter nilainya cukup besar, sehingga kami optimistis target investasi sebesar Rp 270 triliun tahun depan tercapai," ujar Anshari kemarin (28/12).
Selain itu, Anshari menambahkan bahwa investasi di sektor makanan minuman serta sektor-sektor yang mengandalkan bahan baku sumber daya alam (SDA) lokal juga akan terus dipacu.
"Target pertumbuhan industri 6,1 persen tahun depan akan didorong melalui investasi. Bahkan kalau semua infrastruktur tersedia sektyor industri non migas mungkin bisa tumbuh tujuh persen," lanjutnya.
Kemenperin, lanjut dia, juga mendorong pembangunan kawasan industri baru. Ini merupakan program quick wins Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin untuk menciptakan pemerataan persebaran industri ke luar pulau Jawa.
"Pemerintah mengutamakan tumbuhnya industri-industri baru skala menengah ke luar pulau Jawa. Tujuannya adalah untuk percepatan industrialisasi secara merata," tambahnya.
Hal itu sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) 2015-2016 yang fokus pada pengembangan perwilayahan industri, penumbuhan populasi industri, serta peningkatan daya saing dan produktivitas industri.
"Kita ingin menambah populasi industri skala besar sedang setidaknya hingga sembilan ribu unit dalam lima tahun mendatang. Separonya kita arahkan keluar pulau Jawa," sebutnya.
Sementara itu, Kemenperin juga berencana memacu tumbuhnya industri skala kecil di Tanah Air sekitar 20 ribu unit selama 2015-2019.
"Strategi utama yang kita lakukan adalah mendorong investasi oleh modal asing dan dalam negeri, yakni di sektor-sektor berbasis pertanian, perkebunan, petrokimia, dan pertambangan. Tapi kita juga dorong industri padat karya seperti elektronika dan tekstil," tukasnya.
Pihaknya juga akan terus mendorong investasi di bidang industri barang konsumsi, komponen, bahan setengah jadi, dan sub-assembly (pendalaman struktur). Kemenperin akan memanfaatkan kesempatan dalam jaringan produksi global.
"Dengan target itu, setidaknya 600 ribu lapangan kerja baru akan tercipta di sektor industri setiap tahun. Tugas kita juga untuk mengurangi pengangguran," jelasnya.
Sumber : jpnn.com
0 Komentar