‘’Itu data yang kami peroleh dari laporan kabupaten/kota se DIY sampai hari ini. Alhamdulillah selama 2014 desa rawan pangan banyak yang berhasil dientaskan dan hal ini di luar dugaan kami. Padahal targetnya setiap tahun desa rawan pangan berkurang rata-rata sembilan desa,’’ungkap dia.
Penentuan desa rawan pangan dinilai berdasarkan tiga indikator yakni ketersediaan pangan, akses pangan (kemiskinan) dan pemanfaatan pangan(kesehatan).
‘’Di DIY desa yang dikategorikan rawan pangan karena disebabkan oleh salah satu indikator saja. Penyebab terbesar desa rawan di DIY adalah kemiskinan (akses pangan). Biasanya desa rawan pangan dengan indikator ketersediaan pangan, dialami oleh warga yang tinggal di daerah pinggiran seperti di Kasihan, Depok, dan sebagainya. Karena mereka tidak memiliki lahan. Namun daya beli mereka tinggi,’’jelas Arofah.
Selanjutnya dia mengatakan untuk mengurangi desa rawan pangan yang karena indikator akses pangan, harus dillakukan pengentasan kemiskinan. Desa rawan pangan dengan indikator pemanfaatan pangan ini bisa dilihat dari kecukupan gizi yang kurang. Di DIY Kecukupan kalori karbohidrat sekitar 96 persen sedangkan kecukupan kalori nasional 98 persen. Sementara itu kecukupan kalori protein sudah melampaui yakni 104 persen.
Di tahun 2015 BKPP DIY selain mengurangi desa rawan pangan juga akan mengurangi desa waspada pangan sebanyak 16 desa yakni: masing-masing tujuh desa di Kabupaten Kulonprogo dan Sleman serta masing-masing satu desa di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.
Desa Rawan Pangan di DIY Tersisa 26 Desa
YOGYAKARTA – Jumlah desa rawan pangan di DIY tinggal 26 desa dari target 62 desa rawan pangan yang masih ada di akhir tahun 2013, berarti selama 2014 tercapai 36 desa yang sudah tidak rawan pangan/berhasil dientaskan dari desa rawan pangan.
‘’Artinya bagus,’’ kata Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Arofah Noor Indriani pada Republika, Senin (22/12).
Apabila dilihat per kabupaten dari 26 desa yang masih rawan pangan perinciannya adalah: Kabupaten Kulonprogo sebanyak 12 desa, kabupaten Gunungkidul sebanyak tujuh desa, kabupaten Bantul sebanyak lima desa dan kabupaten Sleman sebanyak dua
Penentuan desa rawan pangan dinilai berdasarkan tiga indikator yakni: ketersediaan pangan, akses pangan (kemiskinan) dan pemanfaatan pangan(kesehatan).
‘’Di DIY desa yang dikategorikan rawan pangan karena disebabkan oleh salah satu indikator saja. Penyebab terbesar desa rawan di DIY adalah kemiskinan (akses pangan). Biasanya desa rawan pangan dengan indikator ketersediaan pangan, dialami oleh warga yang tinggal di daerah pinggiran seperti di Kasihan, Depok, dan sebagainya. Karena mereka tidak memiliki lahan. Namun daya beli mereka tinggi,’’jelas Arofah.
Di DIY Kecukupan kalori karbohidrat sekitar 96 persen sedangkan kecukupan kalori nasional 98 persen. Sementara itu kecukupan kalori protein sudah melampaui yakni 104 persen.
Pada BKPP DIY menargetkan untuk mengurangi desa rawan pangan dan desa waspada pangan sebanyak 16 desa yakni: masing-masing tujuh desa di Kabupaten Kulonprogo dan Sleman serta masing-masing satu desa di Kabupaten Bantul dan Gunungkidul.
Pengunjung Taman Pintar Yogyakara Antusias Donor Darah
YOGYAKARTA -- Menyambut Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember kemarin, Sarihusada bekerjasama dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Yogyakarta menggelar aksi donor darah. Ajang tersebut dilaksanakan pada Ahad (21/12) kemarin.
“Meski secara umum donor darah dimanfaatkan untuk siapa saja yang membutuhkan, namun kegiatan donor darah hari ini juga kami dedikasikan untuk para ibu yang mengalami pendarahan dan sangat membutuhkan transfusi darah ketika peristiwa seperti itu terjadi,” ujar Arif Mujahidin, Head of Corporate Affairs Sarihusada di Gedung Ex-Hall Taman Pintar, Yogyakarta.
Ia berharap sumbangan darah melalui kegiatan ini bisa membantu ketersediaan cadangan darah untuk transfusi pada saat dibutuhkan.
"Berdasarkan data, kematian ibu melahirkan sering disebabkan karena perdarahan pascapersalinan," ujar Arif seraya mengatakan aksi donor darah sebagai rangkaian peringatan ulang tahun ke-60 dan juga ulang tahun Taman Pintar ke-6.
Kegiatan donor darah ini diikuti 450 pendonor yang terdiri dari karyawan Sarihusada dan Taman Pintar serta pengunjung Taman Pintar dan juga masyarakat umum. Dalam kegiatan ini terkumpul lebih dari 400 kantong darah yang siap disalurkan kepada ibu dan masyarakat umum yang membutuhkan darah.
Selain melakukan aksi donor darah, rangkaian kegiatan lain yang dilaksanakan antara lain aksi konsultasi gizi oleh nutrisionis Sarihusada, minum susu gratis dan hiburan. Selain itu, ada juga Mobil SGM yang berupa sarana edukasi untuk anak-anak yang terdiri dari berbagai permainan sesuai dengan pertumbuhan anak dari usia 3 sampai 12 tahun.
"Kegiatan yang bertemakan ‘Tetesan Cinta untuk Kehidupan' merupakan kegiatan yang bertujuan menolong sesama melalui kegiatan donor darah. Donor darah sangat bermanfaat bagi yang memerlukannya guna kelangsungan hidup," ujar Arif dalam pernyataanya.
2.300 KK di Bantul Terancam Tanah Longsor
BANTUL -- Kepala Pelaksana Badan Penanggulanggan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Dwi Daryanto mengatakan sebanyak 2.300 kepala keluarga (KK) tinggal di perbukitan dengan kecuraman lereng mencapai 40 derajat. Mereka tersebar di 15 desa dan termasuk warga yang terancam bahaya tanah longsor.
Menurut Dwi Daryanto, memasuki musim penghujan di Kabupaten Batul telah terjadi bencana tanah longsor. Bencana yang terjadi di Dusun Kaligatuk, Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan menyebabkan rumah satu warga rusak.
"Saat musim penghujan tahun lalu di dusun tersebut terjadi dua ekor sapi hanyut dibawa derasnya air sungai," kata Dwi Daryanto di Bantul, Selasa (23/12).
Salah satu solusi bagi warga yang terancam longsor, pihaknya memberi alternative yaitu relokasi lokal, baik dilakukan pemerintah ataupun secara mandiri.
Permasalahan yang sekarang dihadapi adalah biaya yang harus dikeluarkan dan lahan untuk relokasi."Memang ada kendala yang dihadapi termasuk kesedian warga untuk direlokasi," kata Dwi.
Lebih jauh Dwi mengatakan selain tanah longsor potensi terjadinya banjir lahar dingin mengancam warga yang tinggal di bantaran sungai Code, Gajah Wong dan Kali Kuning, Sungai Opak yang berhulu di Gunung Merapi.
"Di lereng Merapi masih terdapat jutaan meter kubik material erupsi Merapi yang bisa berpotensi menjadi bencana banjir lhar dingin jika hujan lebat dan dalam waktu yang lama," katanya.
Bawang Merah Menjanjikan di DIY
YOGYAKARTA -- Menanam bawang merah ternyata cukup menjanjikan sebagai usaha di bidang pertanian di DI Yogyakarta. Pasalnya berdasarkan hasil survei Badan Pusat Statistik (BPS) Yogyakarta, usaha tanaman bawang merah di DIY menghasilkan untung yang cukup besar dibandingkan usaha tanaman lainnya.
Kabid Statistik Produksi BPS Yogyakarta Muhammad Lausepa mengatakan, total biaya produksi untuk usaha tanaman bawang merah untuk sekali masa tanam dalam satu hektar lahan adalah Rp 76,4 juta. Biaya produksi tanaman bawang merah ini paling besar adalah untuk benih sebanyak 36,52 persen dari ongkos produksi.
Selanjutnya 33,30 persen untuk upah pekerja dan sewa lahan 8,08 persen. Meski begitu hasil produksi yang diperoleh sangat besar yaitu Rp 102,4 juta untuk satu hektare lahan per satu musim tanam.
"Keuntungannya mencapai 30 persen lebih. Ini cukup menjanjikan untuk usaha dibidang pertanian," katanya saat paparan pers hasil survei ongkos produksi usaha di DIY 2014 di kantor BPS setempat, Selasa (23/12). Survei sendiri dilakukan di lahan usaha milik petani DIY selama 2014.
Selain bawang merah, usaha tanaman cabe rawit juga sangat menjanjikan untuk dikembangkan di DIY. Berdasarkan survei, ongkos produksi per satu hektare lahan sekali musim tanam dan dipanen sendiri sebanyak Rp 53,2 juta. "Biaya produksi ini paling besar ada di upah pekerja sebesar 61,16 persen dari total biaya," ujarnya.
Menurutnya, selain upah pekerja biaya produksi terbanyak juga berada di pemanenan dan pemeliharaan yang mencapai 22,21 persen dan 13,15 persen. Meski begitu nilai produksi tanaman usaha cabe rawit di DIY sekali musim tanam per hektarnya mencapai Rp 76,4 juta. "Untungnya cukup besar juga, bisa jadi alternatif usaha lain di bidang pertanian," katanya.
Hal tersebut berbeda dengan usaha tanaman cabe merah besar. Keuntungan usaha tanaman cabe merah besar di DIY lebih sedikit dibandingkan cabe rawit. Berdasarkan survei BPS, ongkos produksi usaha tanaman cabe merah besar sekali musim tanam untuk satu hektare lahan mencapai Rp 67,5 juta. Sementara hasil produksinya mencapai Rp 79,3 juta. Keuntungan yang didapat lebih banyak usaha tanaman cabe rawit.
Sementara kata dia, jika dibandingkan dengan usaha tanaman padi maka hasilnya jauh. Total biaya tanaman padi sekali musim tanam dengan luas lahan satu hektare mencapai Rp 13,7 juta. Dari jumlah tersebut 52 persennya habis untuk upayh pekerja. Nilai produksi tanaman padi dalam satu hektarnya pun hanya Rp 17,5 juta. Dari segi keuntungan cukup sedikit dibandinghkan tanaman lainnya.
Tingginya Wisatawan, Berpengaruh Naikkan Harga Kebutuhan Pokok
YOGYAKARTA -- Hasil Pemantauan TPID (Tim Pemantau Inflasi Daerah) DIY menunjukkan kebanyakan harga komoditas kebutuhan pokok yang stabil sehingga harga terkendali.
Dari 30 komoditas yang dipantau, sebanyak sembilan komoditas harga stabil, 11 komoditas harga naik dan hanya empat komoditas yang naiknya lebih dari lima persen serta 10 komoditas justru harganya turun.
Hal itu dikemukakan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda DIY Didik Purwadi dalam jumpa pers Hasil Pemantauan Harga Kebutuhan Pokok TPID DIY di lima pasar di DIY (Pasar Beringharjo, Pasar Prambanan, Pasar Wates, Pasar Bantul, Pasar Argosari Gunungkidul), di Gedung Pracimosono Kepatihan Yogyakarta, Selasa (23/12). Sejak pekan lalu wisatawan sudah memadati kota Yogyakarta.
Dia mengungkapkan keempat komoditas yang kenaikan harganya di atas lima persen adalah kacang tanah (6,92 persen), daging ayam potong (6,50 persen), cabe merah besar (6,94 persen), bawang merah (6,67 persen). Harga komoditas yang cenderung turun adalah ikan seperti ikan nila hitam (turun dua persen), nila merah (turun dua persen), ikan kembung (turun 2,19 persen).
Sementara itu untuk harga daging sapi stabil dan relatif turun. Menurut Didik, kedatangan wisatawan yang memadati DIY dan banyaknya hajatan berpengaruh terhadap kenaikan harga. Hal senada juga dikemukakan Kepala Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan (BKPP) DIY Arofah Noor Indriani. Dari pantauan harga di pasar selama dua hari menunjukkan harga komoditas kebutuhan pokok rata-rata stabil.
Jumlah konsumen rumah tangga tidak mengalami peningkatan, tetapi terjadi peningkatan kebutuhan untuk katering karena banyak yang hajatan. Karena itu pemda DIY berupaya untuk meningkatkan manajemen stok di pedagang Beringharjo, Argosari Wonisari, Wates dan Bantul. Di samping itu, adanya kenaikan BBM juga berpengaruh terhadap kenaikan harga.
Selanjutnya Kepala Perwakilan Bank Indonesia Arif Budi Santoso mengatakan dengan kedatangan wisatawan cukup banyak dan umumnya mengambil uang di ATM Yogyakarta pihaknya sudah melakukan koordinasi dengan Perbankan di DIY dan telah disepakati untuk Natal dan Tahun Baru Bank Indonesia menyiapkan Rp 1,6 triliun.
"Hal itu lebih banyak untuk mengisi mesin ATM dengan pecahan Rp 50 tibu dan Rp 100 ribu. Dengan harapan dengan penyediaan tersebut dapat mencukupi kebutuhan penarikan tunai masyarakat selama menjelang Natal dan Tahun Baru," tutupnya.
Jelang Natal dan Tahun Baru, Harga Kebutuhan Pokok Naik
SLEMAN -- Jelang hari raya natal 2014 dan tahun baru 2015 tim pemantau harga dan stok kebutuhan pokok kabupaten Sleman melakukan pemantauan ke Pasar Prambanan. Hasilnya, sejumlah harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan.
Pemantaun ini dilakukan bersama tim pemantauan dari Daerah Istimewa Yogyakarta yang dipimpin oleh Arif Budi Santosa, ketua tim pengendali inflasi DIY. Menurut Arif, pemantauan harga dan stok kebutuhan bahan pokok merupakan kegitan rutin setiap menjelang hari raya natal dan saat bulan puasa.
"Memang saat natal dan puasa harga sering mengalami kenaikan," ujar Arif, di pasar Prambanan, Selasa (23/12).
Harga kebutuhan pokok yang mengalami kenaikan dari hasil pentauannya yaitu beras dari Rp 9.000 menjadi Rp 9.500. Menurutnya, kenaikan harga beras dari semua jenis rata-rata sebesar Rp 500. Namun, untuk beras merah, hitam, dan ketan tidak mengalami kenaikan.
Selain beras, harga daging sapi dan ayam juga mengalami kenaikan namun tidak signifikan. Saat ini harga daging sapi Rp 110.000 per kilogram (kg). Sementara untuk daging ayam Rp 25.000 per kg. Kenaikan sendiri berlangsung sejak tiga hari terakhir dengan kenaikan Rp 1.000.
Ia menambahkan, harga cabai juga mengalami kenaikan sejak kemarin. Misalnya untuk cabai keriting merah dari Rp 75.000 per kg menjadi Rp 80.000. Harga telur juga mengalami kenaikan dari Rp 19.000 per kg menjadi Rp 20.000.
Kepala Bulog DIY, Langgeng Wisnu Adi Nugraha, stok sembilan bahan pokok di DIY cukup terkendali. Operasi ke lima kabupaten di DIY sudah dilakukan oleh Bulog DIY. "255 ton beras sudah disalurkan," katanya.
Menurut Langgeng, dalam waktu dekat Bulog akan melakukan operasi khusus ke pasar yang ada di DIY. Nantinya akan berkoordinasi dengan Disperindagkop kabupaten dan kota.
76 Ribu Rumah Tangga DIY Tinggal di Kawasan Hutan
YOGYAKARTA -- Jumlah penduduk di DI Yogyakarta yang tinggal di kawasan hutan ternyata cukup banyak. Berdasarkan hasil survei kawasan hutan (SKH) yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) DIY 2014 diketahui bahwa jumlah penduduk yang tinggal di kawasan hutan sebanyak 76.333 rumah tangga.
Menurut Kepala BPS DIY, Bambang Kristianto, jumlah tersebut meningkat signifikan dalam sepuluh tahun terakhir. "Pada SKH 2004, jumlah penduduk yang tinggal di kawasan hutan di DIY sebanyak 52.126 rumah tangga saja," ujarnya, Selasa (23/12).
Kenaikan jumlah penduduk yang tinggal di kawasan hutan ini mencapai 50 persen. Dari hasil survei tersebut kata dia, diketahui bahwa 35,42 persen penduduk yang tinggal di kawasan hutan mengusai lahan kawasan hutan itu sendiri.
Meski begitu pola perladangan yang dilakukan penduduk di kawasan hutan di DIY sudah mengadopsi pertanian modern dan tidak berpindah-pindah. Dari jumlah penduduk yang tinggal di kawasan hutan tersebut hanya 5 persen saja yang mengandalkan hidupnya dari memungut hasil hutan atau menangkap saatwa liar. Sedangkan 95 persennya mengandalkan hidup dari hasil lainnya di luar hasil hutan.
Sementara itu, menurut Kabid Statistik Produksi BPS DIY, Muhammad Lausepa, berdasarkan survei itu juga diketahui bahwa 67,41 persen penduduk yang tinggal di kawasan hutan mengetahui dengan pasti keberadaan kawasan hutan yang ada di sekitarnya. Dari jumlah itu 13,44 persen tidak mengetahui batas kawasan hutan dan 3,06 persen menyatakan tidak ada batas kawasan hutan.
"Meski begitu sebagian besar 83,50 persen tahu persis batas kawasan hutan di sekitarnya," katanya.
Hasil survei kawasan hutan yang dilakukan 10 tahun sekali tersebut bisa digunakan untuk pijakan pengambilan keputusan bagi masyarakat kawasan hutan, maupun pengembangan hutan di DIY.
289 Tambak Ilegal di Bantul Segera Ditutup Paksa
BANTUL – Sebanyak 289 tambak illegal yang berada di sepanjang pantai Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) akan ditutup paksa, Rabu (31/12) mendatang. Tambak tersebut sebagian besar milik pengusaha dari luar daerah yang digarap masyarakat pesisir Bantul.
“Tambak yang dibuat telah melanggar aturan. Yang pertama tidak punya izin dari pemilik tanah dalam hal ini Keraton Yogyakarta, melanggar sepadan jalan jalur lintas selatan (JJLS) Jawa, sepadan pantai, sepadan sungai dan gumuk pasir," kata Bupati Bantul, Sri Surya Widati kepada wartawan di sela-sela rapat koordinasi penutupan tambak udang yang dihadiri jajaran kepolisian, Kodim, Kejaksaan, DPRD dan tokoh masyarakat, Selasa (23/12).
Dijelaskan bupati, tambak ilegal tersebut tersebar di tiga kecamatan. Sebanyak 225 tambak berada di Kecamatan Srandakan, 42 tambak di Kecamatan Sanden dan 22 tambak berada di Kecamatan Kretek.
Penutupan, kata bupati, akan dilakukan secara bertahap. Tahap awal yang akan ditutup adalah petak tambak yang menyalahi sepadan JJLS, menyusul sepadan laut, gumuk pasir dan sepadan sungai. "Teknis penutupan baru kita rapatkan dengan unsur terkait," jelas Sri Surya Widati.
Penutupan paksa, lanjut bupati, sudah didahului dengan pemberian surat peringatan tiga kali. Bahkan ada pemilik tambak yang nekat dalam beberapa hari ini masih menabur lagi bibit udang (benur). "Tetap akan kita tutup meski baru tebar benih. Mereka sengaja melakukan itu," tegasnya.
Meski menutup nantinya akan ada relokasi bagi pemilik tambak udang yang ‘tidak nakal’saat ditertibkan tambak udangnya. "Kita menyiapkan lahan di Dusun Wonoroto yang cukup luas untuk menampung warga yang akan membuat tambak udang baru. Kita juga telah berkomunikasi dengan pihak Keraton untuk penggunaan Sultan Ground untuk membuat tambak,” terangnya.
Kapolres Bantul, AKBP Surawan yang dimintai konfirmasinya mengatakan siap untuk memback up kebijakan Pemkab Bantul dalam penutupan tambak udang illegal. “Kita sudah menyiapkan alat dan personil untuk mendukung penutupan tambak udang tersebut,” kata Surawan.
Kapolres menegaskan pembuatan tambak udang jelas tidak memiliki izin dari pemilik lahan yaitu Keraton Yogyakarta.
“Saya sudah sowan (menghadap, red) Gusti Hadi (KGPH Hadiwinoto) sebagai pihak yang mengurusi masalah tanah Keraton Yogyakarta. Beliau berbicara tidak pernah mengeluarkan izin pembuatan tambak udang di lahan pasir meski banyak yang mengajukan izin ke pihak Keraton," katanya.
Polda DIY Terjunkan 1.600 Personel Amankan Natal dan Tahun Baru
SLEMAN -- Polda Daerah Istimewa Yogyakarta menerjunkan 1.600 personel dalam Operasi "Lilin Progo 2014" untuk pengamanan hari raya natal 2014 dan tahun baru. Pengamanan akan berlangsung sepuluh hari dimulai sejak 24 Desember 2014.
Kapolda DIY Brigjen Pol Oerip Subagyo mengatakan dalam operasi lilin salah satu tindakan yang hendak dicegah adalah terorisme.
“Agar kenyamanan dan keamaan masyarakat terjamin,” ujar Oerip usai gelar pasukan Operasi Lilin Progo 2014 di halaman Polda DIY, Selasa (23/12).
Ia menjelaskan, beberapa titik yang akan menjadi fokus pengamanan diantaranya tempat ibadah, tempat wisata, hotel, dan hiburan. Selain itu sentra perekonomian, perbankan, dan pemukiman yang ditinggal oleh penghuninya.
Menurut Oerip, titik fokus pengamanan merupakan tempat yang rawan terjadinya gangguan keamanan. Sehingga, perlu dilakukan penjagaan ketat.
Selain itu beberapa tempat yang rawan kecelakan lalu lintas dan kemacetan juga menjadi fokus dari operasi. Misalnya untuk daerah Sleman, yaitu sepanjang jalan Jombor sampai Tempel. Kemudian Jalan Solo, Prambanan, dan Kaliurang.
Kabid Humas Polda DIY, AKBP Anny Pujiastuti menambahkan, gereja merupakan tempat ibadah yang dilakukan pengamanan ekstra. Di Yogyakarta terdapat 322 gereja yang tersebar di seluruh wilayah DIY.
Sedangkan 52 tempat wisata di wilayah DIY juga akan mendapatkan pengamanan. Ia menjelaskan, seluruh personel di seluruh kabupaten atau kota di DIY dilibatkan. Untuk personel dari Polresta Yogyakarta sebanyak 300 personel.
Kemudian, sebanyak 290 dari polres Sleman dan 251 dari polres Bantul. Selanjutnya, sebanyak 230 personel masing-masing dari polresta Kulon Progo dan Gunung Kidul.
“Nanti juga akan dibantu oleh personel TNI,” katanya.
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID
0 Komentar