Lewati ke konten utama
1/3

Gandeng Investor, Pemkab Wonosobo Sulap Sampah Jadi Energi

Superadmin
38 kali dilihat

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo menjalin kerjasama dengan PT Tribaliv Green Solutions dalam proyek pengolahan sampah menjadi energi ramah lingkungan atau waste-to-energy. Kesepakatan tersebut ditandatangani langsung Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat bersama Direktur PT Tribaliv Green Solutions, Trigo Neo Starden, Jum'at (13/3/2026) di Ruang Perundingan Pendopo Bupati Wonosobo.

Kerja sama ini menjadi langkah strategis Pemkab Wonosobo dalam mengatasi persoalan sampah sekaligus mendorong pembangunan rendah karbon. Dimana, melalui kerjasama waste-to-energy akan mengubah sampah menjadi gas yang memiliki nilai ekonomi, tanpa membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menjelaskan, kesepakatan bersama tersebut menjadi pedoman awal untuk pelaksanaan kerja sama yang lebih teknis ke depan.

“Pada 9 Maret lalu sudah dilakukan pembahasan dengan Tim Kerja Sama Daerah dan OPD terkait. Alhamdulillah hari ini kita bisa menandatangani nota kesepakatan sebagai pedoman untuk melanjutkan kerja sama yang lebih teknis melalui perjanjian kerja sama,” ujar Afif.

Dalam kesepakatan tersebut, Pemkab Wonosobo berkomitmen menyediakan pasokan sampah sekitar 350 ton per hari atau bahkan lebih. Selanjutnya, sampah akan dikirim ke fasilitas pengolahan PT Tribaliv Green Solutions di Bandongan, Kabupaten Magelang.

“Total kebutuhan sampah untuk proyek ini sekitar 1.100 ton per hari, sementara dari Wonosobo kita menyiapkan sekitar 350 ton. Nantinya sampah akan kita zonasi dalam beberapa titik TPS untuk memudahkan pengangkutan,” ujarnya.

Afif menambahkan, pengelolaan sampah selama ini memang menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah daerah. Berbagai teori pengolahan sampah sudah banyak dibahas, namun implementasinya tidak mudah dilakukan di lapangan.

Ia berharap kerja sama ini dapat menjadi solusi konkret, terutama dalam menjaga kebersihan kawasan wisata Wonosobo seperti Dieng yang menjadi destinasi andalan.

“Wisatawan tentu ingin datang ke tempat yang bersih dan nyaman, bukan bau sampah. Dengan kerja sama ini kita berharap pengelolaan sampah di Wonosobo bisa lebih baik,” katanya.

Sementara itu, Direktur PT Tribaliv Green Solutions, Trigo Neo Starden, mengatakan pihaknya telah menjajaki berbagai daerah selama sekitar tiga tahun sebelum akhirnya memulai kerja sama dengan Wonosobo.

Menurutnya, respons cepat dari Pemkab Wonosobo menjadi salah satu alasan utama proyek ini dapat segera direalisasikan.

“Saya sangat menghargai komitmen Pak Bupati. Dalam tiga hari saja nota kesepakatan sudah bisa diselesaikan karena beliau memahami kebutuhan proyek ini dan juga manfaat yang akan diberikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Trigo menjelaskan, proyek tersebut akan mengolah sekitar 1.100 ton sampah setiap hari menjadi gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG). Gas yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 149 juta meter kubik per har iatau setara dengan potensi listrik hingga 408 megawatt.

Seluruh investasi proyek ini, lanjutnya, akan didanai sepenuhnya oleh investor dari Jerman sehingga tidak memerlukan dukungan anggaran dari pemerintah daerah.

“Semua investasi 100 persen dibiayai dari Jerman. Kami tidak akan meminta APBD satu rupiah pun. Bahkan armada truk listrik untuk pengangkutan sampah juga akan kami siapkan,” katanya.

Pembangunan fasilitas pengolahan sampah direncanakan berdiri di lahan seluas sekitar lima hektare di Bandongan, Magelang. Peletakan batu pertama ditargetkan dapat dilakukan pada April 2026.

Selain mengolah sampah menjadi energi, proyek ini juga diharapkan memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat. Perusahaan berkomitmen memberdayakan tenaga kerja lokal serta menyediakan program pelatihan bagi sumber daya manusia di daerah.

“Nanti SDM-nya kita utamakan dari masyarakat lokal. Jika diperlukan, kami juga siap memberikan pelatihan termasuk bahasa Jerman,” tambahnya.

Trigo juga memastikan keberadaan fasilitas pengolahan tersebut tidak akan menimbulkan bau maupun penumpukan sampah seperti tempat pembuangan akhir konvensional.

Selain itu, sebagian keuntungan proyek akan dialokasikan untuk program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang mendukung pembangunan masyarakat.

Ke depan, kerja sama pengelolaan sampah ini tidak hanya melibatkan Wonosobo dan Magelang, tetapi juga berpotensi diperluas ke daerah lain di sekitarnya sebagai solusi pengelolaan sampah berkelanjutan.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *