Dalam laporan setebal 10 halaman tersebut, Supratman juga menguraikan bahwa sejak Kamis 17 hingga 21 Desember, pihaknya menerima laporan rusaknya fasilitas dari 3 Desa, yaitu Sumberwulan, Semayu, dan Balekambang. Di Semayu, kerusakan justru terjadi di Kantor Desa sendiri, yaitu berupa longsornya pondasi bangunan kantor, sehingga mengancam bangunan utama, dan sebuah rumah warga yang berada di sisinya. Longsornya pondasi tersebut diperkirakan memunculkan kerugian materi mencapai 200 Juta Rupiah. Sementara, di Desa Balekambang, hujan lebat juga menyebabkan amblesnya pondasi tembok halaman SD N setempat, sepanjang 15 meter dan tinggi 3 meter, runtuh. Kerugian material yang timbul dari runtuhnya tembok itu menurut Supratman mencapai 15 juta Rupiah.
Masih di Desa Balekambang, laporan kerusakan fasilitas juga menimpa saluran irigasi Siragu, yang tertimpa longsoran tanah sepanjang 300 meter dan lebar 10 meter. Diperkirakan, pemulihan saluran irigasi Siragu membutuhkan dana tak kurang dari 70 Juta Rupiah. Saluran irigasi lain yang rusak akibat longsor juga menimpa Salauran Sijeruk di Desa Sumberwulan. Tercatat 3 titik saluran irigasi Sijeruk tertimbun longsor, yaitu pada HM 13, HM 14 dan HM 17. Di ketiga titik tersebut, longsoran mencapai panjang 70 meter, 60 meter, dan 40 meter, dengan lebar 2 meter. Saluran irigasi tersebut, menurut Supratman merupakan sumber air untuk sekitar 76 hektar lahan pertanian.
Meski dari kejadian longsor di ketiga Desa itu tak menimbulkan korban jiwa, pihak Kecamatan berupaya agar kerusakan-kerusakan yang timbul dapat ditanggulangi secepatnya. Untuk tindakan selanjutnya, Supratman mengaku telah berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk mengupayakan bantuan berupa material untuk merenovasi bangunan yang rusak.
0 Komentar