Lewati ke konten utama

Kerugian Pasar Klewer Sekitar Rp 10 Trilyun

Admin
36 kali dilihat

Kusbani mengatakan, hingga saat ini dirinya memperkirakan jumlah kerugian mencapai angka Rp 10 triliun. Ini berdasar hitungan kasar. ''Jika dilihat dari sedikitnya jumlah barang yang berhasil diselamatkan, kami memerkirakan total kerugian sekitar Rp 10 triliun,'' kata Kusbani.

Disinggung mengenai asuransi, Kusbani mengaku dari 1.660 kios dan los terbakar hanya sekira sepuluh sepuluh persen diasuransikan. ''Data yang kami miliki, tidak semua pedagang melindungi barang dagangan dengan asuransi. Hanya sekitar sepuluh persen saja yang dilindungi asuransi,'' katanya.

Sekedar diketahui, kendati Pasar Klewer dijadikan rujukan bisnis batik, tekstil dan produk tekstil bertaraf nasional, namun bisnis transaksi di sana masih dikenal model tradisional. Kadang transaksi antar pedagang dilakukan diatas secarik kertas bekas. Tulisan mirip seperti 'cek' tersebut, sudah laku dipindah tangankan ke pedagang lain.

Sejak dari dulu, trasaksi bisnis di sini masih mengandalkan kepercayaan. Kadang, banyak pedagang luar kota yang mengambil barang dagangan dari sini. Awalnya, mereka mengambil barang lancar dalam pembayaraan. Belakangan, buntutnya ngemplang. Atau sering memberi GB (Giro Bilyet) bodong. Tidak sedikit yang berakhir hingga menja pengadilan.

Pemkot Diminta Bangun Pasar Darurat

SOLO -- Wakil Ketua DPRD Kota Solo, Umar Hasyim, mendesak pemerintah kota (pemkot) secepatnya memberikan solusi terkait musibah kebakaran Pasar Klewer. Politisi asal PAN itu menyarankan, pemerintah segera membangun pasar darurat untuk pedagang terkena musibah. ''Kami berharap ada tindakan cepat dan nyara dari pemkot. Ini dilakukan supaya persoalan paska kebakaran pasar tidak berlarut-larut,'' tambah Umar saat ditemui di lokasi Pasar Klewer, Ahad (28/12) pagi.

Umar mengaku, dirinya merasa prihatin dengan musibah menimpa pedagang. Dalam waktu dekat ini, Dewan juga segera berkoordinasi dengan pihak terkait. Ini agar pedagang tertimpa musibah tidak tertekan terus-menerus. Kasus kebakaran Pasar Klewer sepertinya dijadikan bahan pelajaran semua pihak. Artinya, semua pihak musti mengambil pelajaran darfi kasus ini. Dan, diharap tak terulang dikemudian hari.

10 Jam Berjibaku Menjinakan Kobaran Api Pasar Klewer

SOLO -- Aktivitas bisnis batik, tekstil dan produk tekstil di Kota Solo, memasuki masa buram. Ini setelah pusat yang dijadikan ajang perdagangan, Pasar Klewer, ludes, dilalap 'si jago merah', Sabtu hingga Ahad dini hari.

Gumpalan asap tebal membumbung tinggi membuat langit diatas Kota Solo dalam cuaca hujan, tambah gelap gulita. Semburan api menyala selama 10 jam -- sejak Sabtu (27/12) pukul 20.00 WIB hingga Ahad pagi -- melalap bangunan pusat grosir pakaian dab bahan pakaian terbesar di Jateng ini.

Kobaran api yang melumat bangunan maupun dagangan isi kios Pasar Klewer sulit dipadamkan. Petugas mengalami kesulitan menjinakan api. Lima armada pemadam kebakaran milik BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), dan armada /water canon/ milik Polresta Solo dikerahkan. Armada dari BPBD Karanganyar, Sragen, Boyolali, dan Klaten, juga diperbantukan.

Ratusan petugas pemadam kebakaran dikerahkan untuk melokalisir kobaran api. Namun, setelah petugas berjibaku menjinakkan api selama 10 jam, kobaran api yang disertai hembusan angin, berhasil dipadamkan.

Mobil pemadam kebakaran masih terus menyemprotkan air dari mesin water canon. Faktor angin berembus kencang diduga menjadi penyebab susahnya pemadaman api dibagian dalam pasar. Disamping itu, dua alat berat juga tampak membuka akses bagi pemadam kebakaran, sekaligus membuka terali pagar toko bagian bawah. Ini dilakukan supaya api tak ikut menyambar pakaian dibagian bawah pasar.

Setelah berjuang 10 jam, akhirnya tim pemadam kebakaran berhasil memadamkan api di pasar Klewer, Ahad (28/12) pagi.

Polisi Periksa Saksi Kebakaran Pasar Klewer

SOLO -- Polisi melakukan pemeriksaan sejumlah saksi terkait peristiwa kebakaran Pasar Klewer, Solo, Sabtu (27/12) malam. Sejumlah saksi, seperti satpam, pedagang maupun warga sekitar pasar, dimintai keterangan penyidik Polres Solo.

Kapolresta Solo, Kombes Pol Iriansyah, Ahad (28/12), mengatakan, dari hasil pemeriksaan saksi, pihaknya memperoleh informasi, lokasi bagian dalam pasar, rangkaian kabel listrik tidak tertata dengan baik. Sehingga terkesan amburadul dan semrawut.

''Kalau sampai sejauh ini, jika berdasarkan keterangan dari saksi, tak heran jika terjadi korsleting. Percikan api membakar bahan yang mudah terbakar, hingga menghanguskan isi kios pasar,'' tutur Iriansyah.

Meski demikian, polisi belum memperoleh hasil resmi dari penyelidikan Laboratorium Forensix (Labfor) Semarang terkait identifikasi penyebab kebakaran. Aparat masih terus menunggu hingga seluruh api dinyatakan padam oleh tim pemadam kebakaran.

Iriansyah minta,''sabar ya. Jika api sudah dijinakkan, baru tim Labfor akan bertindak untuk mengumpulkan informasi dari lokasi kejadian''. Jadi, tim Labfor turun setelah api padam semua.

Pasar Klewer Riwayatmu Kini

SOLO -- Mungkin lirik lagu langgam Jawa lawas 'Pasar Klewer Nggone Wong Pamer' yang dilantunkan 'Si Walangkekek', Waldjinah, tak bisa disaksikan kasat mata lagi. Hal ini setelah terjadi kasus kebakaran hebat yang terjadi, Sabtu (28/12) hingga Ahad (29/12) pagi.

Memang, dulu Pasar Klewer boleh dikatakan tempat pamer. Ini karena semua pedagang memajang dagangan dengan cara menggantung, hingga kleweran menjuntai ke bawah. Atau ada pedagang pakaian kelilingan, menjual dagangan dipanggul dipundak, hingga kelihatan kleweran.

Kini, lirik lagu langgam Jawa tersebut tak bisa disaksikan lagi. Ini setelah pasar pusar grosir pakaian, batik, tekstil terbesar di Jawa tersebut, ludes dilalap 'si jago merah'. Pedagang tidak bisa menjajakan dagangan lagi, karena lokasi, berikut barang dagangan habis ludes terbakar.

Sekadar diketahui, Pasar Klewer terdiri dari lantai dua lantai menampung 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit. Seorang pedagang Pasar Klewer, Siti Aisyah, mengatakan, nilai transaksi di sini cukup besar.

Ia mengatakan dalam kondisi paling sepi, satu kios bisa bertransaksi hingga Rp 10 juta sehari. Padahal, di Pasar Klewer terdapat seribu kios, serta seribu lapak pedagang oprokan. Menurut Siti Aisyah, kebanyakan pedagang menyimpan barang dalam kios pasar. Namun, sebagian besar disimpan dalam gudang.

Nilai barang dalam kios bisa mencapai Rp 100 juta perorang. Barang-barang itu tidak sempat diselamatkan saat kebakaran terjadi di pasar yang diresmikan Presiden Soeharto, 9 Juni 1970 itu.

Pasar Klewer sudah berkembang sejak 1942. Keberadaan sebagai pusat pasar tekstil membuat Pasar Klewer menjadi tempat bagi pedagang dari Yogyakarta, Surabaya, dan Semarang, Tegal, Pekalongan, Purwokerto, sebagian darn wilayah Jawa Timur, berburu barang dagangan.

Pada zaman pendudukan Jepang, kawasan Pasar Klewer yang bersebelahan dengan Keraton Surakarta, merupakan tempat pemberhentian kereta api. Saat itu, pasar ini lebih dikenal dengan nama Pasar Slompretan, Ini berasal dari kata 'slompret' yang berarti suara kereta api yang mirip bunyi terompet.

Di Pasar Slompretan ini, pedagang kecil menawarkan kain batik yang diletakkan di bahu badan. Sehingga barang dagangan menjuntai tak kararuan alias kleweran. Dari sinilah muncul istilah Pasar Klewer.

Puncak kejayaan Pasar Klewer era 1990-an. Saat itu, Pasar Klewer menjadi magnet utama ekonomi di Kota Solo. Perputaran uang mencapai Rp 8 milyar per hari. Satu kios ukuran empat meter persegi, bisa laku Rp 200 juta. Kini, ada 2.000-an pedagang yang menempati kios, dan 500-an pedagang oprokan.

Di dekat kompleks Pasar Klewer tumbuh kegiatan ekonomi baru yang berkembang menjadi Pasar Cenderamata dan Pasar Kacamata, makanan camilan khas Solo.

Pasar Klewer memang unik. Salah satu bentuk keunikan pasar ini, terjadi tawar menawar antara penjual-pembeli. Mereka melakukan kesepakatan harga, atau tawar menawar.

Unik, karena tawar-menawar dilakukan secara terbuka. Saking sempitnya area, diantara pengunjung lalu-lalang orang tak saling menyenggol, atau menabrak pengunjung lain, yang tengah menawar barang.

Tawar-menawar itu 'seni' di pasar tradisional. Itulah yang membedakan dengan mall. ''Kalau tidak ada tawar-menawar, pasar ilang kumandange(hilang gaungnya),''kata Siti Aisyah (53), pedagang kain koden.

Pasar Klewer merupakan pusat pasar dimana sebagian besar aktivitas warga Solo berpusat di sana. Dari pakaian atau tekstil yang mendominasi, makanan, sampai ke pernak pernik perhiasan dijual disana. Letak berdekatan dengan Keraton Solo dan Masjid Agung Surakarta.

Sejak dibangun tahun 1970, perkembangan pasar yang terdiri dari dua lantai ini memang pesat. Kini, Pasar Klewer menjadi salah satu pasar tekstil terbesar di Indonesia.

Dari data Himpunan Pedagang Pasar Klewer (HPPK) dan Dinas Pasar Klewer, pasar ini mampu menampung 1.467 pedagang dengan jumlah kios sekitar 2.064 unit. Jumlah pedagang sebanyak itu, uang yang berputar setiap hari berkisar Rp 5 milyar – Rp 6 milyar.

Catatan 10 tahun yang lalu, pasar ini menghasilkan pendapatan dari retribusi Rp 3 milyar. Jumlah yang cukup besar, karena jika dikalkulasi, jumlah pendapatan retribusi itu telah memenuhi hampir 5% RAPBD Kota Solo 2004 dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) Rp 53,5 milyar.

Dalam dunia pariwisata Kota Solo, antara Keraton, Masjid Agung dan Pasar Klewer, sudah menjadi satu kesatuan utuh. Yang kemudian membuat semacam garis kunjungan wisata. Bisa jadi, inilah jalur 'three in one' bagi wisatawan.

Pasar Klewer menjadi salah satu nadi pusat perdagangan Kota Solo. Di sinilah, enam kota lain di Soloraya -- Solo, Wonogiri, Sukoharjo, Klaten, Boyolali, Karanganyar, dan Sragen, melakukan transaksi dagang batik, tekstil dan produk tekstil. Ada juga pernik khas Solo, busana temanten dan segala makanan khas.

Dari dulu, Pasar Klewer dikenal pusat grosir batik. Baik tulis, cap, maupun printing. Ada juga berbagai jenis batik Solo, batik antik kraton, batik pantai, daster batik, batik putri Solo, batik 'kelelawar'. Selain itu, terdapat juga berbagai macam jenis batik Yogyakarta, Pekalongan, Banyumas, Madura, Betawi, dan berbagai jenis batik dari kota lain.

Pasar Klewer juga menyediakan kain batik untuk baju, sprei, sarung bantal, dan segala aksesoris lain yang bernaunsa unsur batik. Khusus bagi penikmat menu Thengkleng Kambing, masih bisa menikmati.

Tengkleng yang dijajakan Bu Edi dibawah Gapura Wewangunan dibangun era Keraton Kasunanan dibawah pemerintahan Sinuhun Paku Buwono X, masih bisa bernostalgia ke sana.

Gubernur Jateng Tinjau Langsung Kebakaran Pasar Klewer

SOLO -- Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo meninjau langsung Pasar Klewer di Solo, Jawa Tengah, yang terbakar. Ganjar tiba di lokasi sekitar 18.30 WIB.

"Sudah tidak ada apa-apanya lagi, sekarang bicaranya bagaimana memberikan kesempatan kembali bagi pedagang," ujarnya di sela-sela memantau lokasi kebakaran, Ahad (28/12).

Menurutnya, Pemprov Jawa Barat telah meminta kepada Wali Kota Solo untuk segera mencarikan lokasi untuk pasar sementara.

Mengenai biaya untuk pasar sementara maupun tindak lanjut dari perbaikan pasar tersebut, kata Ganjar bisa diambil dari mana saja.

Sementara itu, Wali kota Solo FX Hadi Rudyatmo yang ikut mendampingi Ganjar mengaku belum memastikan lokasi pasar sementara. "Belum masih akan dirapatkan," katanya.

Pantauan Republika, pukul 20.00 WIB api masih menyala di beberapa titik. Seperti di tengah pasar lantai I dan lantai II.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 5 + 5 ?