"Gunungan adalah wujud rasa syukur raja atas keberhasilan pembangunan pertanian. Oleh karena itu, isi dari gunungan yang diperebutkan adalah berbagai macam hasil bumi," kata KRT Achmad Muhsin Kamaludiningrat di Yogyakarta, Sabtu.
Kelima gunungan yang diperebutkan di Masjid Gedhe Kauman adalah Gunungan Lanang, Wadon, Gepak, Pawuhan, dan Bromo.
Pada Garebek Maulud Tahun Ehe 1948, Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengeluarkan tujuh gunungan.
Selain diperebutkan di Masjid Gedhe Kauman, dua gunungan lainnya dibawa ke Kantor Kepatihan dan ke Pura Pakualaman untuk diperebutkan oleh warga. Kedua gunungan tersebut adalah Gunungan Lanang.
"Dalam satu tahun, keraton menyelenggarakan tiga kali garebek, yaitu saat Idul Fitri, Idul Adha dan saat Maulud Nabi. Namun, garebek terbesar adalah saat Maulud Nabi," katanya.
Ia berharap, masyarakat tidak mempercayai bahwa gunungan yang diperebutkan tersebut dapat memberikan berkah dalam kehidupan mereka sehari-hari karena sejatinya, seluruh berkah tersebut berasal dari Tuhan.
"Gunungan yang merupakan sedekah dari raja ini terbuat dari makanan. Jika memang dimanfaatkan secara benar, maka gunungan ini akan memberikan berkah dan manfaat yang jauh lebih besar," katanya.
Seluruh gunungan Garebek Maulud tersebut diberangkatkan dari Keraton Ngayogyakarta dengan iringan bergada prajurit keraton di antaranya prajurit Wirabraja, Patangpuluhan, Ketanggungan, Daeng, Jogokaryan, Mantrijeron, dan Bugis.
Sementara itu, salah seorang warga Fandi (30) berhasil memperoleh bagian teratas dari Gunungan Lanang.
"Rumah saya di dekat sini, di Kauman. Setelah didoakan, saya langsung lari untuk merebut gunungan. Biasanya memang dapat bagian yang paling atas," katanya.
Ia mengatakan akan menyimpan bagian gunungan yang diperolehnya.
Dua Ekor Gajah Iringi Dua Gunungan Grebeg Maulud
YOGYAKARTA -- Puncak peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW yang merupakan tradisi rutin Keraton Yogyakarta ditandai dengan Gerebeg Maulud, Sabtu (3/1). Untuk tahun ini, tujuh gunungan diarak dari Kraton menuju Masjid Gede, Kauman.
Ketujuh gunungan ini menggambarkan sedekah raja kepada rakyatnya dan menyimbolkan kesejahteraan terdiri dari: tiga gunungan kakung, satu gunungan putri, satu gunungan gepak, satu gunungan pawuhan, dan satu gunungan darat.
Selanjutnya Dua Gunungan didoakan dan diperebutkan di Alun-alu Utara sedangkan dua Gunungan Kakung masing-masing dibawa ke Kantor Pemda DIY Kepatihan dan Kadipaten Puro Pakualaman Yogyakarta. Gunungan Kakung yang dibawa oleh Kantor Pemda DIY diusung oleh sekitar 20 abdi dalem Gladhag dengan dengan diiringi oleh dua ekor gajah, sebanyak 104 orang abdi dalem Narakarya, dan sebanyak 60 orang prajurit Bugis.
Gunungan tersebut tiba di Pendopo Wiyoto Projo Kepatihan sekitar pukul 11.00. Utusan Dalem Sultan Hamengku Buwono X yakni KRT Rinto Isworo menyerahkan Gunungan Kakung kepada Sekda Pemda DIY Ichsanuri. Pada kesempatan ini Ichsanuri atas nama Pemerintah Daerah DIY menerima Gunungan Kakung yang merupakan pemberian dari Sultan Hamengku Buwono X.
‘’Puju Syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang teelah memberikan barokah keselamatan, kesehatan sehingga dapat menerima hajat Dalem Sultan Hamengku Buwono X yang berupa Gunungan Garebeg Mulud Tahun EHE 1948 ini,’’tuturnya dengan bahasa Jawa.
Sekda DIY juga mendakan Sultan HB X serta permaisuri, para putra dalem (red. anak) kerabat dan para sentana dalem, prajurit dalem agar sehat selalu, panjang umur dan bahagia. Setelah berdoa yang dipimpin Achad Sidqi, Sekda DIY Ichsanuri mengambil secara simbolis gunungan yang terbuat dari hasil bumi Yogyakarta diantaranya: kacang panjang, cabe dan telur asin.
Kemudian diserahkan kepada beberapa pejabat eselon II diantaranya Kepala Dinas Kesehatan DIY dan Kepala Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan dan Aset Bambang Wisnu Handoyo.Para pejabat Pemda DIY eselon II dan III yang semuanya mengenakan busana tradisional adat Jawa pun juga mengambil secara simbolis gunungan tersebut. Selanjutnya Gunungan dibawa ke halaman depan Masjid Sulthoni Kepatihan untuk diperebutkan masyarakat Yogyakarta dan sekitarnya.
Seperti halnya yang dilakukan oleh seorang warga Sorogeneng, Sleman Ny. Heru (67 tahun). Dia mengaku setiap ada Gerebeg Maulud selalu datang untuk memperebutkan gunungan. ‘’Sebagai kawula ratu, sejak sebelum nikah yakni tahun 1965 saya selalu datang untuk memperebutkan gunungan. Tujuannya supaya banyak rejeki, panjang umur dan awet muda,’’katanya sambil tersenyum. nneni ridarineni
Harga BBM Turun, Harga Cabai dan Daging Ayam Tetap Tinggi
YOGYAKARTA -- Harga bahan bakar minyak (BBM) terutama jenis premium turun signifikan sejak 1 Januari 2015 lalu.
Harga premium saat ini menjadi Rp 7.500 per liter dari sebelumnya Rp 8.500 per liternya.
Meski begitu sejumlah kebutuhan pokok dan sayur mayur di pasar tradisional Kota Yogyakarta harganya masih tetap tinggi.
Berdasarkan pengamatan Republika di Pasar Giwangan dan Kotagede Yogyakarta, harga daging ayam masih Rp 30.000 per kilogramnya. Harga daging ayam ini tidak turun sejak naik menjelang libur akhir tahun 2014 lalu.
"Belum ada penurunan, masih stabil," ujar Harti (34) pedagang daging ayam di Pasara Giwangan, Yogyakarta, Sabtu (3/1).
Selain daging ayam harga cabai rawit merah juga masih menjulang. Harga cabai rawit merah masih Rp 85.000 per kilogram. Harga ini menurut pedagang sulit turun karena pasokan berkurang. "Banyak yang gagal panen karena busuk jadi pasoka kurang," ujar Wasto pedagang sayur di Pasar Giwangan.
Meski pasokan berkurang namun stok cabai dinilai masih cukup. Hanya saja permintaan tinggi karena banyak warga yang melakukan hajatan.
Harga telur ayam ras juga tetap stabil tinggi sebesar Rp 21.000 per kilogram. Harga ini stabil sejak memasuki libur akhir tahun lalu.
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID
0 Komentar