Lewati ke konten utama

Lokasi Longsor bakal Jadi Kawasan Konservasi

Admin
24 kali dilihat

Ia menungkapkan, relokasi bagi warga yang menjadi korban tanah longsor sudah pasti akan dilakukan oleh pemkab Banjarnegara. Namun langkah-langkah pascatanggap darurat masih akan dibahas dalam rapat malam ini, yan akan melibatkan Pemkab, BNPB, BPBD Jawa Tengah dan Banjarnegara.

Sedangkan warga yang tinggal di luar Dusun Jemblung, tidak akan direlokasi. Hanya saja warga di sekitar kawasan terdampak longsor perlu meningkatkan kewaspadaan. “Karena kawasan perbukitan di lingkungan mereka juga rentan terjadi longsor, seperti halnya di Dusun Jemblung,” tambahnya.

Sejumlah warga korban tanah longsor di Dusun ini mengaku belum tahu nasib mereka ke depan. Baik terkait hunian maupun lahan yang selama ini menjadi sumber nafkah mereka. “Saya belum tahu, kalau nantinya rumah diberi apakah itu juga termasuk lahan pertanian kami yang masih berada di sekitar Dusun Jemblung,” ungkap Tuplani (64), salah seorang korban.

Berdasarkan data Posko BPBD Banjarnegara, jumlah warga Dusun Jemblung yang tertimbun longsor pada tanggal 12 Desember 2014 diperkirakan sebanyak 108 orang. Masih ada sekitar 22 korban yang belum ditemukan.

Hujan Deras, Pencarian Korban Longsor Terpaksa Dihentikan

BANJARNEGARA -- Hujan deras yang mengguyur lokasi longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara sejak siang membuat proses pencarian korban dihentikan. Hal tersebut untuk menghindari terjadinya longsor susulan.

Suyatno, relawan dari Banser Banjarnegara yang juga ikut proses pencarian mengatakan penghentian korban dikarenakan hujan merupakan prosedur. "Jangankan sampai hujan, gerimis bahkan kabut saja harus berhenti," ujar Suyatno di Posko Banser kepada Republika, Kamis (18/12).

Menurut Suyatno, hujan deras mengguyur Karangkobar sejak sekitar pukul 13.00 WIB. Hingga hingga pukul 16.00 WIB hujan deras masih belum reda.

Suyatno mengakui turunnya hujan menjadi kendala dalam pencarian korban. Sehingga terpaksa harus dihentikan.

Korban Longsor Banjarnegara Jadi 86 Orang

BANJARNEGARA - Korban bencana longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara terus bertambah. Bertambahnya jumlah korban menjadikan total korban sebanyak 86 orang.

Jumlah tersebut berdasarkan data terbaru di posko induk bencana longsor. "Hari ini tiga orang ditemukan," kata Petugas di Posko Induk, Kamis (18/12).

Sebelumnya, Wakil Bupati Banjarnegara, Hadi Supeno mengatakan, warga korban longsor akan direlokasi. Lokasi longsor nantinya akan dijadikan kawasan konservasi. Meski demikian, saat ini masih akan dibacarakan terkait tempat relokasi.

Pantauan Republika, bantuan berupa logistik terus berdatangan. "Bahkan untuk seminggu kedepan logistik Insya Allah cukup," katanya.

Pencarian Korban Longsor Dihentikan Sementara

JAKARTA-- Pencarian korban tanah longsor di Dusun Jemblung, Karangkobar, Banjarnegara, Jawa Tengah, dihentikan sementara karena hujan lebat dan rencananya akan dilanjutkan pada Jumat (19/12) pagi.

"Perkembangan Penanganan Darurat Bencana Tanah Longsor Kab. Banjarnegara hari ke-7 atau 18 Desember 2014 adalah sementara operasi dihentikan sejak pukul 13.00 WIB dikarenakan hujan lebat di lokasi. Pencarian akan dilanjutkan besok pagi," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho saat dihubungi dari Jakarta, Kamis.

Dia mengatakan, operasi pencarian korban pada Kamis oleh tim gabungan berhasil menemukan tiga jenazah sehingga total ditemukan 86 jenazah sementara 22 korban masih dicari. Sementara itu, ruas jalan Banjarnegara-Pekalongan telah berhasil dibuka kendati akses belum terbuka untuk umum hingga proses pembersihan jalan selesai dan dianggap cukup aman untuk dilalui.

Sebanyak 15 alat berat dikerahkan untuk pembersihan. Mobil-mobil tangki air digunakan untuk menyemprot jalan. Pelayanan pengungsi sendiri tersebar di 10 titik pengungsian untuk menampung 1.397 jiwa. Dia mengatakan, pada Kamis malam digelar rapat koordinasi di BPBD Yogyakarta untuk membahas sistem peringatan dini longsor.

Kepala BNPB akan memimpin rapat yang dihadiri Badan Geologi, UGM, Lipi, BPPT, Lapan, dan komunitas iptek. Untuk kebutuhan deteksi longsor, UGM telah memiliki lima unit alat yang siap dipasang, sedangkan kebutuhan lain akan diproduksi nanti. Aspek sosial budaya menjadi yang paling menentukan dalam keberlanjutan sistemnya.

Sumber : REPUBLIKA.CO.ID

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 8 + 6 ?