Lewati ke konten utama

Nurani Guru Jadi Penentu Keberhasilan Pendidikan

Admin
26 kali dilihat

Menurut Zulfikri, nurani guru merupakan sebuah identitas dan integritas dalam sebuah proses pengajaran, sebab pengajaran yang baik datang dari nurani bukannya dari teknik. Ketika seorang guru memiliki identitas dan integritas yang baik, maka teknik-teknik pembelajaran akan membantunya menjalankan tugas, bila tidak, maka semua teknik-teknik itu akan sia-sia.

Ia menekan, penalaran berkembang seiring dengan perasaan, jika guru berharap untuk bisa membuka penalaran siswa maka guru harus mampu membuka perasaan mereka terlebih dahulu. Saat ini banyak para guru kehilangan hati nurani seiring dengan berjalanya waktu, ketika mengajar hanya dijalani sebagai tugas atau kewajiban dan rutinitas. Dan ketika guru tidak berusaha untuk mendapatkan kembali hati nuraninya kembali, maka semua yang akan dibangun akan hancur sebelum para guru membangunya secara utuh.

Selain itu, Zulfikri menambahkan, pada dasarnya siswa itu baik, mereka punya kebutuhan untuk berekspresi, mengendalikan diri, memberi atensi dan mencintai, namun beberapa cara yang mereka pilih untuk mengekspresikan kebutuhan, kadang tidak sesuai dengan situasi atau keadaan di kelas. Untuk itu para guru diharapkan bisa menyediakan tempat-tempat produktif untuk melepaskan frustrasi sembari terus memberikan perhatian yang besar pada mereka.

Billy Davideno dari Indonesia mengajar menyampaikan, perlunya menggerakkan para pemimpin, dari pusat sampai daerah, agar segala upaya seperti peningkatan kapasitas guru, kurikulum maupun sarana prasarana pendidikan bisa tepat sasaran dan berjalan dalam koridor yang benar. Belajar dari pengalaman pihaknya, pendidik muda cenderung punya idealisme tinggi dalam proses pembelajaran, namun seiring berjalannya waktu sering berhenti di tengah jalan, karena kurang dukungan, salah satunya dari eksekutif. Ia berharap acara seperti ini bisa menyatukan persepsi semua elemen dalam menciptakan satu sistem pendidikan yang tepat, tidak usah terpancing isu apapun, termasuk perubahan kurikulum 2013 yang akan kembali ke kurikulum 2006. Hal ini perlu disikapi semua pihak secara arif dan bijak, sambil terus memberikan pengajaran yang baik pada anak didik.

Senada hal ini, Wakil Bupati Wonosobo, Maya Rosida, menyampaikan bahwa pendidikan merupakan elemen penting dalam pembangunan bangsa, karena melalui pendidikan, dasar pembangunan karakter manusia dimulai. Pendidikan karakter merupakan salah satu hal penting untuk membangun dan mempertahankan jati diri bangsa.

Sayangnya, pendidikan karakter di Indonesia perlu diberi perhatian lebih khusus karena selama ini baru menyentuh pada tingkatan pengenalan norma atau nilai-nilai. Pendidikan karakter yang dilakukan belum sampai pada tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, selama ini pendidikan di Indonesia cenderung lebih mengedepankan penguasaan aspek keilmuan dan kecerdasan, namun mengabaikan pendidikan karakter.

Untuk itu melalui pengelolaan pendidikan yang efektif, efisien dan akuntabel, diharapkan bisa mewujudkan pendidikan yang ideal, sehingga bisa mewujudkan manusia Indonesia yang bermoral, berakhlak dan berperilaku baik, mencapai masyarakat yang cerdas dan rasional, manusia yang inovatif dan terus mengejar kemajuan, serta memiliki jiwa patriotisme sejati yang mencintai bangsa, negara dan tanah airnya.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga, One Andang Wardoyo, menyampaikan, mengingat tatakelola pendidikan merupakan sebuah konstruksi yang komprehensif dan bersifat multi sektoral, maka ide dan gagasan pemikiran dari berbagai elemen pemangku kepentingan pendidikan diperlukan agar bisa dituangkan dalam kebijakan yang lebih implementatif dan operasional, sehingga melalui kegiatan Rakerda ini diharapkan bisa menggali dan memperkaya metode pendidikan karakter bagi siswa, merumuskan pengembangan atau improvisasi kebijakan untuk penguatan pendidikan yang efektif, efisien dan akuntabel, memberikan panduan dan petunjuk teknis tentang penyelenggaraan administrasi keuangan, manajemen, dan pengadaan barang dan jasa penyelenggara pendidikan serta membangun dialog konstruktif dan menguatkan kolaborasi atau kemitraan antara berbagai pemangku kepentingan pendidikan.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 8 + 6 ?