Menurut dia, Kecamatan Karangkobar dinilai paling rawan karena memiliki struktur tanah yang gembur dengan posisi kemiringan lerengnya cukup terjal. "Sehingga jika hujan turun, air akan terserap di tanah. Dan jika air yang tergenang cukup banyak, tanah akan mudah meluncur (longsor)," kata dia.
Selain itu, lanjut dia, wilayah itu juga dilalui jalur patahan yang mengakibatkan ikatan batuan-batuan sebagai fondasi tanah, terbelah-belah dan rapuh. Apalagi, jenis batuannya juga merupakan batuan lempung yang licin jika terkena air.
"Sehingga volume longsor akan lebih besar karena juga turut terdorong oleh patahan batuan yang licin," kata dia.
Lebih dari itu, ia juga memperkirakan wilayah rawan longsor itu juga tidak hanya terjadi di satu titik, melainkan juga rentan terjadi di sepanjang jalur patahan. "Karena dilalui jalur patahan, maka yang memiliki potensi longsor bukan hanya di titik itu saja, melainkan masih banyak lagi titik lain," kata dia.
Oleh karena itu ia berharap masyarakat yang tinggal di wilayah itu bersedia direlokasi, atau minimal segera mengungsi ketika terjadi hujan deras. "Misal sudah dilakukan reboisasi pun, wilayah itu tetap berisiko dan tidak aman lagi untuk ditinggali," kata dia.
Korban Tewas Longsor Banjarnegara Terus Bertambah
BANJARNEGARA - Korban akibat longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Jawa Tengah terus bertambah. Hingga Minggu (14/12) pukul 16.00 WIB tim gabungan berhasil menemukan 32 korban tewas akibat longsor.
Sementara korban yang belum ditemukan berkurang menjadi 76 orang, yang semuanya diduga tertimbun masih dicari. "Korban yang sudah teridentifikasi sudah diambil keluarga dan dimakamkan," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, Ahad (14/12).
Sutopo mengatakan, saat ini Tim Inafis Polri masih melakukan identifikasi korban. Lebih dari 2.000 personil tim gabungan dikerahkan mencari korban longsor. Data 32 korban tewas sebagai berikut:
- Ruliah (P/30 th)
- Joko Adi P (L/18 th)
- Sukirno (L/20 th),
- Misman (L/25 th),
- Bahrun (L/17 th),
- Tutur (L/ 30 ),
- Hadi (L/60 th),
- Hendi b Ahmad(L/ 9 th),
- Klimah (P/33 th)
- Munawar (L/80 th)
- Ikhwan (L/30 th)
- Endar (L/11 th)
- Sukamto (L/36 th)
- Andri (L/balita)
- Sunari (P/50 th)
- NN
- NN
- Rohyati (P)
- Camin (33/L)
- NN
- Maryamah (45/P)
- Tursino (L/52 th)
- Marwoto Bundar (L/50 th)
- NN
- Sopan (L/18 th)
- Rebu Tuarsono (L/57 Th)
- Ikah Rohyani (P/18 th)
- Haryoto (L/18 th)
- NN
- Burhan bin Topani (L/28th)
- NN
- NN
Korban Longsor Banjarnegara Jadi 39 Orang
BANJARNEGARA--Tim gabungan hingga Minggu sore menemukan 39 korban meninggal yang tertimbun tanah longsor di Dusun Jemblung Desa Sampang Kabupaten Banjarnegara kata Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB, Harmensyah.
"Data sementara korban yang ditemukan meningal sebanyak 39 orang dan diperkirakan masih 69 korban yang masih tertimbun," katanya di Banjarnegara, Mnggu.
Ia mengatakan pencarian akan dilanjutkan Senin (15/12) dan akan terus dilakukan hingga didapat korban yang diperkirakan masih tertimbun.
Ia menuturkan ada sekitar 2.000 relawan baik dari TNI/Polri, SAR, BPBD, dan Basarnas bahu membahu terlibat dalam pencarian korban bencana tanah longsor ini.
"Setelah seluruh korban meninggal dtemukan, langkah berikutnya adalah bagaimana segera menentukan bagaimana korban yang masih hidup, apakah disewakan rumah atau direlokasi, besok akan dilakukan kooordinasi dengan SKPD terkait," katanya.
Ia mengatakan pihaknya sudah bicara dengan Bupati Banjarnegara agar sepekan ke depan sudah harus ditentukan, kalau mau direlokasi tempatnya di mana dan apakah lokasinya aman atau lokasi longsor tersebut masih bisa direkayasa.
"Secara teknis memang bisa dengan sistem teras, namun semua itu tergantung pemkab dan warga, kami hanya memfasilitasi," katanya.
Ia mengatakan memang hampir seluruh daerah di sini merupakan daerah rawan longsor.
Polisi Masih Identifikasi Korban Tewas Longsor Banjarnegara
JAKARTA-- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan jumlah korban meninggal akibat longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, bertambah menjadi 32 orang, sementara 76 orang masih dalam pencarian.
"Hingga Ahad (14/12) pukul 16.00 (WIB) tim gabungan berhasil menemukan 32 korban tewas akibat longsor di Dusun Jemblung, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Kabupaten Banjarnegara. Sebanyak 76 orang yang diduga tertimbun masih dicari," kata Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Ahad.
Sutopo menyebutkan dari 32 korban tewas akibat bencana longsor itu, tujuh orang di antaranya masih belum dapat diidentifikasi. "Korban yang sudah teridentifikasi sudah diambil keluarga dan dimakamkan, dan Tim Inafis Polri masih terus melakukan identifikasi korban," ujar Sutopo.
Selain itu, kata dia, hingga saat ini pencarian dan penyelamatan korban longsor masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Adapun tim gabungan itu terdiri dari Tim Reaksi Cepat BNPB, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), TNI, Polri, Basarnas, Palang Merah Indonesia (PMI), Taruna Siaga Bencana (Tagana), LSM, relawan dan masyarakat.
Lebih dari 2.000 personel tim gabungan dikerahkan untuk mencari para korban di bagian atas dan bawah lokasi longsor. Pencarian para korban longsor tersebut dilakukan dengan alat berat. Kementerian Pekerjaan Umum mengerahkan 10 alat berat dan tujuh "dump truck" karena sejak Sabtu (13/12) beberapa material longsor telah menutup jalan.
Selanjutnya, data sementara kerusakan akibat longsor di Karangkobar itu, antara lain 35 unit rumah rusak berat dan tertimbun, satu masjid hilang akibat tertimbun, sungai tertutup longsoran hingga satu kilometer, delapan hektar sawah rusak, lima hektar kebun palawija rusak.
Seperti diwartakan, puluhan rumah yang dihuni sekitar 300 jiwa dari 53 keluarga di Dusun Jemblung RT 05 RW 01, Desa Sampang, Kecamatan Karangkobar, Banjarnegara, tertimbun tanah longsor yang terjadi pada Jumat (12/12) sekitar pukul 17.30 WIB.
Sumber : REPUBLIKA.CO.ID
0 Komentar