Lewati ke konten utama
1/3

Peringati Satu Dekade, Bupati Wonosobo Ajak Santri Jadi Pelopor Peradaban Dunia

Admin
70 kali dilihat

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) tahun 2025 di Kabupaten Wonosobo berlangsung khidmat dan penuh semangat di Alun-Alun Wonosobo, Rabu (22/10/2025). Momentum ini menjadi sangat istimewa karena menandai satu dekade ditetapkannya Hari Santri oleh Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 2015.

Mengusung tema “Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia”, Hari Santri 2025 menjadi panggilan bagi para santri untuk tidak hanya menjadi penjaga nilai-nilai keislaman, tetapi juga pelaku sejarah yang berkontribusi nyata dalam membangun peradaban dunia yang damai, adil, dan berkeadaban.

Dalam amanatnya, Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan pentingnya peran santri dalam sejarah dan masa depan bangsa.

“Pesantren telah lama menjadi pusat pendidikan dan peradaban Nusantara. Dari pesantren lahir tokoh-tokoh besar bangsa, pejuang, hingga pemikir. Kini, santri tidak hanya berkiprah di tingkat lokal dan nasional, tetapi juga tampil di panggung dunia,” ungkap Bupati Afif.

Ia juga menekankan bahwa santri modern harus menjadi pribadi yang unggul secara intelektual, matang secara spiritual, dan adaptif terhadap perkembangan zaman, terutama di bidang teknologi, literasi, dan komunikasi global.

“Saya mengajak seluruh santri dan pondok pesantren di Wonosobo untuk terus meningkatkan kualitas diri, menjaga adab, serta menjunjung tinggi nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Jadikan pesantren sebagai pusat lahirnya generasi unggul yang berdaya saing, namun tetap tawadhu’ dan menjunjung akhlak mulia,” lanjutnya.

Selain itu, Bupati juga menegaskan pentingnya peran santri dalam mendukung pembangunan daerah, khususnya dalam program-program strategis seperti pengentasan kemiskinan, pencegahan stunting, serta pemberdayaan masyarakat berbasis nilai keislaman dan kearifan lokal.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga membacakan amanat Menteri Agama Republik Indonesia yang menyoroti makna sejarah HSN sebagai bentuk penghormatan terhadap “Resolusi Jihad” KH. Hasyim Asy’ari pada 22 Oktober 1945. Resolusi inilah yang menjadi pemantik semangat rakyat untuk mempertahankan kemerdekaan, yang berpuncak pada Pertempuran 10 November di Surabaya.

“Hari ini kita hidup dalam suasana aman dan merdeka, sebuah nikmat besar dari Allah SWT hasil perjuangan para ulama dan pejuang bangsa. Mari kita kenang jasa mereka dengan berkarya dan berkontribusi demi kemaslahatan Indonesia,” tegas Bupati Afif.

Afif juga berpesan agar santri terus mengasah kapasitas diri di bidang teknologi, sains, bahasa dunia, dan dakwah digital, serta siap menjadi solusi atas berbagai tantangan bangsa.

“Kepada seluruh santri, jadilah generasi yang berilmu, berakhlak, dan berdaya. Tunjukkan peran aktif kalian di ruang publik, dunia kerja, bahkan hingga kancah internasional. Barangsiapa menanam ilmu, maka ia menanam masa depan, maka tanamlah ilmu dengan sungguh-sungguh, jaga akhlak, hormati guru dan kiai, serta cintai Tanah Air. Karena dari tangan para santrilah, masa depan Indonesia akan ditulis,” pesannya.

Peringatan Hari Santri 2025 di Wonosobo tidak hanya diisi dengan upacara seremonial, tetapi juga ditandai dengan berbagai kegiatan konkret dan simbolik, di antaranya Penyerahan SK Pembentukan Tim Percepatan Pelaksanaan Pengelolaan Lingkungan Hidup di Pondok Pesantren se-Kabupaten Wonosobo, sebagai bentuk komitmen terhadap pesantren ramah lingkungan. 

Selain itu, juga dilaksanakan penyerahan Insentif Guru Keagamaan Non Formal sebesar Rp720 juta, sebagai wujud apresiasi terhadap para pendidik agama yang telah berdedikasi membina generasi muda. Distribusi bibit pohon durian kepada pondok pesantren, untuk mendukung program ketahanan pangan dan penghijauan berbasis pesantren. Long March Santri yang melibatkan ribuan peserta dan mengusung Bendera Merah Putih sepanjang 1 kilometer, sebagai simbol nasionalisme dan cinta Tanah Air para santri.

Peringatan Hari Santri di Wonosobo tahun ini tidak hanya menjadi refleksi sejarah, namun juga menjadi momen kebangkitan dan komitmen kolektif untuk menjadikan santri sebagai garda terdepan dalam menjaga moralitas bangsa dan mewujudkan Indonesia yang unggul di mata dunia.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari Santri Nasional (HSN) Kabupaten Wonosobo, KH. Khoirullah Nurudin, menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Wonosobo terhadap rangkaian kegiatan HSN tahun ini.

"Alhamdulillah, fasilitas dari Bupati dan Wakil Bupati tahun ini sangat luar biasa. Dukungan dari sisi anggaran maupun kebijakan benar-benar kami rasakan dalam pelaksanaan seluruh rangkaian kegiatan Hari Santri. Bisa dikatakan, tahun ini santri seolah merayakan hari rayanya sendiri," ungkap Gus Khoir sapaan akrabnya.

Ia menjelaskan, rangkaian kegiatan dimulai sejak pertengahan Oktober dengan beragam lomba dan acara yang menyasar pesantren-pesantren di seluruh Wonosobo. “Kegiatan yang kita gelar mulai dari lomba mini soccer yang diikuti oleh 36 pesantren, seminar keislaman, resepsi bersama ulama dan tokoh masyarakat, hingga lomba-lomba budaya pesantren seperti paduan suara, lalaran nadzhom Imriti dan Alfiyah, serta lomba video pendek bertema ‘Pesantren Itu Asik, Pesantren Itu Ramah,” jelasnya.

Gus Khoir juga menyoroti bahwa HSN tahun ini memiliki warna dan inovasi berbeda dibandingkan tahun sebelumnya. Jika sebelumnya kegiatan lebih fokus pada perlombaan tradisional pesantren seperti baca kitab kuning dan tilawatil Qur’an, maka tahun ini lebih menekankan pendekatan melalui media dan teknologi digital.

“Yang paling spesial tahun ini adalah kirab santri dengan membawa bendera Merah Putih sepanjang satu kilometer, simbol kuat nasionalisme santri. Ini belum pernah ada di tahun-tahun sebelumnya,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga menekankan komitmen pemerintah daerah yang diwujudkan melalui sejumlah kebijakan strategis, salah satunya adalah penyerahan SK Pembentukan Satgas Percepatan Penataan Lingkungan Hidup Pesantren yang diserahkan langsung oleh Bupati.

“Ini menunjukkan keseriusan Pemkab Wonosobo dalam mendukung terwujudnya pesantren yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Langkah ini juga menjadi bagian dari evaluasi pasca berbagai kejadian yang menimpa beberapa pesantren,” terangnya.

Dalam konteks perlindungan anak, Gus Khoir menekankan pentingnya mewujudkan pesantren sebagai ruang yang aman, nyaman, dan ramah anak. "Sebetulnya, pesantren itu sudah ramah anak. Tapi bagaimana kita bisa menjadikannya lebih ramah lagi? Maka kami bersama Kementerian Agama dan pemerintah daerah berkomitmen melalui kolaborasi membentuk Satgas Pesantren Ramah Anak,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa praktik pendisiplinan di pesantren harus menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan tidak melanggar hukum negara maupun ajaran agama.

“Metode takzir atau hukuman di pesantren tidak boleh mengandung kekerasan fisik. Ini yang kami tekankan melalui Satgas, agar proses belajar mengajar di pesantren dapat berjalan secara aman, nyaman, dan mendidik. Santri harus merasa terlindungi dan damai dalam menuntut ilmu,” tutup Khoirullah.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *