Lewati ke konten utama

Sang Jenderal Minta Disiapkan Pawang Ombak

Admin
35 kali dilihat

Pasalnya, tim evakuasi selalu kesulitan melakukan pencarian korban dan bangkai pesawat akibat cuaca buruk dan gelombang di laut yang besar.

Jenderal itu mengetahui adanya pawang ombak di Berau saat mantan Bupati Berau almarhum Masdjuni pernah mengadakan sebuah acara di Kepulauan Derawan. Saat pelaksaan PON Kaltim pada 2008 silam, panitia pelaksana juga pernah menggunakan jasa pawang ombak di perairan Derawan.

Kemarin (3/1) pagi, Mappasikra bersama Berau Post (Grup JPNN) pun berangkat ke Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, yang berjarak tempuh sekira 2 jam dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau. Tujuannya, mencari pawang ombak.

Jago Jinakkan Ombak, Manusia Perahu Siap Bantu, Ini Caranya

TANJUNG REDEB - Begitu usai menerima telepon dari seorang jenderal di Basarnas yang meminta dicarikan pawang ombak untuk membantu mempermudah proses pencarian dan evakuasi korban dan bangka AirAsia QZ8051, Staf Ahli Bupati Berau Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Mappasikra Mappaseleng, langsung bergerak.

Kemarin (3/1) pagi, bersama Berau Post (Grup JPNN), dia berangkat ke Kampung Tanjung Batu, Kecamatan Pulau Derawan, yang berjarak tempuh sekira 2 jam dari Tanjung Redeb, ibu kota Kabupaten Berau.

Menurut warga setempat, rata-rata manusia perahu yang kini ditampung di Lapangan Bulalung Kampung Tanjung Batu, memiliki "keahlian" tersebut.

Di penampungan itu, Berau Post dipertemukan dengan tiga warga asal Semporna, Malaysia, yang ditampung di Tanjung Batu. Mereka Anggun (44), Latif (50), dan Douglas (50).

Melalui Syamsul, warga Tanjung Batu yang membantu menerjemahkan bahasa Bajau, Berau Post mengorek bagaimana manusia perahu mampu "meredakan" ombak besar di lautan tempat mereka tinggal sehari-hari. "Tapi, semua dari niat dan kuasa dari yang di Atas (Tuhan, Red)," kata Anggun.

Diceritakan pria bersuku Palau itu, selama hidup di laut lepas, ombak yang pernah dihadapinya setinggi 7 meter. Dengan berdoa dan berkomunikasi dengan "penunggu" di laut setempat, lautan di sekitar tempat itu kembali teduh.

"Selama ini, belum pernah ada kapal kami (manusia perahu, Red) yang pernah terbalik atau tenggelam di laut di ombak," ujarnya.

Tak ada syarat atau ritual yang njelimet. Dikatakan Anggun, biasanya dirinya hanya tidur di atas kapal yang sunyi, untuk berkomunikasi dengan "penunggu" lautan tersebut.

Dalam mimpi, nanti diberikan petunjuk-petunjuk. Di samping itu, dia menyiapkan kancing, jarum, kemenyan, kain putih, dan benang yang dirajut menjadi sebuah baju berwarna putih. Baju itu kemudian dibuang ke laut.

"Kami siap membantu kalau memang diminta," kata Anggun didampingi Latif dan Douglas.

Diakui Syamsul, kemampuan manusia perahu dalam "menjinakkan" ombak memang tak perlu diragukan lagi. Lautan adalah rumah mereka. Menurut cerita, dengan ritual khusus, manusia perahu mampu mengubah air laut menjadi air layak minum.

"Ombak besar memang bisa dijadikan teduh. Jadi, laut itu seperti jalan tol saja. Tapi kemampuan ini tidak selalu digunakan, hanya saat-saat tertentu saja," ujarnya.

Soal Kepastian Pawang Ombak, Sang Jenderal Telepon Lagi

TANJUNG REDEB - Rencana menggunakan jasa manusia perahu untuk menjinakkan ombak guna membantu mempermudah pencarian korban dan badan AirAsia QZ8501 seperti diminta seorang jenderal di Basarnas, tampaknya bukan main-main.

Saat Berau Post (Grup JPNN) mewawancarai Anggun, manusia perahu asal Semporna, Malaysia, yang ditampung di Tanjung Batu, beberapa kali jenderal itu menelepon Staf Ahli Bupati Berau Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Mappasikra Mappaseleng.

Sang jenderal itu menanyakan kepastian keahlian pawang tersebut.

"Sekarang tinggal dari Basarnas saja, apa jadi mau pakai jasa mereka. Nanti saya informasikan lagi," terang Mappasikra, mantan Kabag Humas dan Protokol Setkab Berau itu.

Tiga Manusia Perahu Pawang Ombak Dikirim ke Pangkalan Bun

TANJUNG REDEB - Saat dalam perjalanan pulang ke Tanjung Redeb, Staf Ahli Bupati Berau Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Mappasikra Mappaseleng ditelepon Bupati Berau Makmur HAPK.

Pak Bupati bertanya untuk memastikan keberadaan pawang ombak, seperti yang diminta seorang jenderal di Basarnas, guna membantu mempermudah pencarian korban dan badan AirAsia QZ8501.

Bupati meminta agar pawang ombak itu segera dikirim ke Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, untuk membantu tim evakuasi.

Demikian pula Dandim 0902 Tanjung Redeb Letkol Inf Ahmad Hadi Al-Jufri yang menelepon Mappasikra.

Dalam sambungan telepon itu, Dandim menyebutkan bahwa dirinya ditelepon oleh Danrem 091/ASN untuk memastikan keberadaan pawang ombak tersebut.

Menurut Mappasikra, ketiga manusia perahu itu akan diterbangkan ke Pangkalan Bun pagi ini, didampingi Dandim dan warga yang membantu menerjemahkan bahasa Bajau.

Gunakan Jasa Pawang Ombak, Dandim: Tahu Dari Mana?

TANJUNG REDEB - Dandim 0902/TRD Letkol Inf Ahmad Hadi Al-Jufri membenarkan rencana menggunakan jasa manusia perahu yang ahli menjinakkan ombak, membantu mempermudah pencarian korban dan badan AirAsia QZ8501.

”Tau dari mana? Benar, memang ada permintaan seperti itu dari Basarnas. Kita hanya menjembatani saja,” ujarnya, kemarin sore, seperti dilaporkan wartawan Berau Post (Grup JPNN)

Pawang yang akan dibawa ke Pangkalan Bun sebanyak 3 orang. Soal informasi adanya pawang ombak itu merupakan nelayan asing yang merupakan manusia perahu, Dandim tak mempersoalkannya.

”Ya, mungkin karena mereka ini kan sudah biasa di laut, hidup, makan dan semua aktivitas di laut. Mereka lebih paham dengan laut,” jelasnya.

“Kita lihat sekarang ini gelombang nggak reda-reda memang menyulitkan untuk pencarian,” katanya.

Staf Ahli Bupati Berau Bidang Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Mappasikra Mappaseleng sudah menemukan tiga manusia perahu, yang dikenal ahli penjinak ombak. Ketiganya warga asal Semporna, Malaysia, yang ditampung di Tanjung Batu.

Mereka Anggun (44), Latif (50), dan Douglas (50). Pawang ombak ini disiapkan atas perintah seorang jenderal di Basarnas.

Mulai Pesimis Temukan Jenazah

PANGKALAN BUN – Basarnas mulai pesimis bisa menemukan sejumlah jenazah pesawat AirAsia QZ-8501. Mereka menduga nihilnya hasil pencarian kemarin (3/1) karena kondisi jenazah yang mulai rusak dan kembali tenggelam ke dasar laut.

Hal tersebut disampaikan Direktur Operasional Basarnas Marsekal Pertama TNI SB Supriyadi dalam jumpa pers di Posko Pangkalan Bun kemarin. Menurut dia, sampai pukul 18 belum ada laporan penemuan jenazah dari kapal-kapal yang beroperasi.

’’Secara medis di hari ketujuh kemungkinan gelembung gas di tubuh korban sudah pecah dan akhirnya tenggelam kembali ke dasar laut,’’ ujarnya. Menurut Supriyadi, pecahnya gelembung gas itu bisa juga terjadi karena dimakan ikan.

Basarnas sebenarnya berupaya melakukan pencarian dasar laut. Namun cuaca masih menjadi musuh bagi tim SAR. Menurut Supriyadi ombak di area pencarian masih berkisar empat meter. Kecepatan angina juga 35 knot. Ditambah hujan rintik-rintik juga terus mengguyur.

Menurut Supriyadi dengan kondisi itu, baik penyelam maupun piranti pencarian pasti terganggu.

’’Alat sekalipun kalau kondisi seperti itu visibility-nya juga terbatas. Informasi yang saya dapat visibility di dalam laut hanya dua meter, artinya air dalam kondisi butek,’’ jelasnya.

Basarnas berjanji hal itu tak akan mengendur operasi. Pencarian jenazah maupun bangkai pesawat tetap dilanjutkan hingga malam hari. ’’Untuk jenazah kami juga coba penyisiran di pantai. Bisa juga terdampar,’’ katanya.

Sepanjang hari kemarin memang tak ada penemuan jenazah. Namun tim Basarnas dan DVI Mabes Polri bergerak cepat melakukan evakuasi dan pengiriman jenazah ke Surabaya. Sebanyak 12 jenazah dikirim ke Surabaya sekitar pukul 12.21 menggunakan Hercules C-1320 milik TNI AU. Jenazah yang dikirim itu bernomor peti 019 hingga 030.

Entah karena kondisi yang banyak tak utuh atau alasan lain, pihak Basarnas di Pangkalan Bun kini tak mau lagi membeberkan detail jenazah yang ditemukan. ’’Informasi soal propertinya dan ciri-ciri biar disampaikan di Surabaya,’’ kata Direktur Eksekutif Disasster Victims Investigation (DVI) Mabes Polri, Kombespol Anton Castilani.

Anton bersedia memaparkan kelamin dan perkiraan usia saja. Dari 12 jenazah itu, 9 diantaranya laki-laki dan 3 sisanya perempuan. (selengkapnya lihat grafis). Dengan dikirimnya ke-12 jenazah itu, maka sudah ada 30 jenazah yang ditangani DVI di Surabaya. Total ada 17 jenazah laki-laki dan 13 perempuan. Dari jumlah itu tentu masih tersisa 132 jenazah yang belum ditemukan.

Supriyadi mengatakan meskipun menurut peraturan kegiatan pencarian hanya dibatasi tujuh hari, namun dalam kasus ini operasi tetap dilanjutkan dengan perpanjangan. ’’Namun berapa lama durasi perpanjangan pencariannya saya masih belum tahu,’’ katanya.

Sementara itu, laporan fotografer Jawa Pos yang berada di KRI Banda Aceh, Fedrik Yando Tarigan menyebutkan pencarian malam memang terus upayakan. KRI Banda Aceh menuju titik lokasi yang diduga ada bangkai pesawat AirAsia.

Namun sayangnya, rencananya hari ini KRI Banda Aceh akan kembali ke Semarang untuk pengisian bahan bakar atau bekal ulang.

Padahal sebelumnya telah Kepala Basarnas telah memerintahkan pengisian bahan bakar dilakukan di laut karena telah ada kapal tangker bantuan dari SKK Migas.

Pakar DVI Korea dan Singapura Bantu Identifikasi Korban AirAsia

SURABAYA - Tim DVI Indonesia yang menangani proses identifikasi korban jatuhnya AirAsia QZ8501 akan dibantu oleh sejumlah pakar asing. Ketua Tim DVI Polda Jatim, Kombes Budiyono mengatakan pakar DVI itu berasal dari Singapura dan Korea.

"Pakar DVI dari Singapura dan Korea rencananya akan segera datang. Mereka akan kita ajak dalam joint operation kita dalam kerjasama," kata Budiyono seperti yang dilansir RM Online (Grup JPNN.com).

Sejauh ini, telah ada 30 peti jenazah korban jatuhnya pesawat yang bertolak dari Surabaya menuju Singapura itu. Seluruh jenazah telah berada di RS Bahayangkara Surabaya untuk diidentifikasi.

Pengiriman jenazah terbaru dilakukan siang tadi. Sebanyak 12 peti jenazah tiba di Lanud Juanda Surabaya pada pukul 14.05 dan segera dilarikan ke RS Bhayangkara.

Dari total korban tersebut, 6 di antaranya berhasil diidentifikasi. 4 jenazah telah diserahkan ke pihak keluarga, sedangkan dua lainnya baru berhasil diidentifikasi dan baru akan diserahkan ke keluarga hari ini tanpa adanya seremonial formal penyerahan jenazah ke pihak keluarga.

Sumber : jpnn.com

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 8 + 1 ?