Cara kerjanya, terdapat sebuah tabung yang mirip rudal dimasukkan ke lautan. Kemudian ada kabel yang terhubung dengan sebuah layar. "Tabung itu fungsinya mengirim gelombang. Jadi, ini sonar, tapi jenis yang canggih," paparnya, seperti dikutip dari Jawa Pos, Jumat (2/1).
Dijelaskannya, setelah tabung itu mengirim gelombang, maka ada pantulan gelombang atau biasa disebut sinyal lemah yang ditangkap tabung tersebut. Pantulan gelombang itu kemudian secara otomatis membuat grafik di layar. "Dalam grafik itu diketahui bagaimana kondisi dari dasar laut," ujarnya.
"Yang pasti, alat ini bisa mendeteksi adanya logam dan jenazah di dalam lautan. Dengan begitu, dapat dipastikan dimana adanya lokasi serpihan pesawat atau jenazah. Lalu, tinggal dilakukan penyelaman," tuturnya.
Alat tersebut akan diangkut dengan helikopter untuk diturunkan di kapal perang milik Singapura yang selama ini membantu operasi SAR. Alat akan dipasang dan setting di atas kapal tersebut. Nantinya, kapal dengan alat itu akan dikerahkan untuk menuju lokasi pencarian.
Perangkat AUV itu akan mendukung perangkat pendeteksi sonar lainnya. Sebelumnya telah disiapkan alat dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), satu alat dari KRI Bung Tomo, dan satu alat dari TNI AL. "Nanti, ada tambahan lima AUV dari Amerika. Ya, rencana ada sepuluh alat, tapi informasi yang saya terima di lapangan baru lima," ujar Sunarbowo.
KNKT Telat Datang, Penyelaman Evakuasi Korban Batal, Kapal Basarnas Batal Berangkat Karena Menunggu
PANGKALAN BUN - Upaya pencarian korban pesawat AirAsia QZ 8501, Kamis (1/1) kembali menemui kendala. Tim penyelam gagal berangkat ke lokasi jatuhnya pesawat karena menunggu kedatangan tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). Kedatangan tim tersebut terlambat lebih dari empat jam.
Informasi yang diperoleh Jawa Pos (Induk JPNN.com) yang mengikuti langsung di kapal Basarnas, 69 penyelam dari Basarnas dan TNI-AL serta kru Kapal Negara (KN) 101 SAR Purworejo sudah siap sejak pagi. Mesin kapal sudah dihidupkan sejak pukul 06.00 dan dijadwalkan bertolak dari pelabuhan Panglima Utar, Teluk Kumai, pukul 07.00. Namun, kapal tidak kunjung berangkat.
Sekitar pukul 07.30, Kapten KN 101 Adil Triyanto mengumumkan bahwa keberangkatan sedikit tertunda. Pusat operasi meminta dia menunggu kedatangan tim KNKT. Rupanya, hingga tengah hari tim KNKT tidak kunjung muncul.
Selama berjam-jam menunggu, para penyelam Basarnas dan TNI-AL mencoba mengisi waktu luang dengan sejumlah kegiatan. Ada yang mengecek ulang peralatan, menambah isi tabung oksigen, maupun bercanda dengan sesama penyelam. Sebagian lagi memilih tidur di kursi penumpang untuk menyimpan tenaga saat penyelaman dilakukan.
Sekitar pukul 11.00, cuaca di sekitar pelabuhan Kumai dilanda hujan deras disertai angin kencang. "Tidak mungkin kita berangkat dalam kondisi seperti ini. Apa mau nambah korban?" ujar salah seorang kru kapal yang mewanti-wanti agar identitasnya tidak disebutkan.
Meski yang dibawa adalah para penyelam andal, tidak mungkin pencarian dilakukan. Bahkan, informasi terakhir yang diperoleh Jawa Pos di KN 101 menyebutkan bahwa tinggi ombak di sekitar wilayah pencarian korban Kamis siang (1/1) sudah mencapai empat meter.
Kekecewaan serupa juga dirasakan penyelam. Saat pagi, wajah mereka tampak bersemangat. Basarnas Special Group (BSG) sempat memamerkan beberapa peralatan canggih yang akan dipakai menyelam kepada wartawan. Di antaranya, Remote Operated Vehicle (ROV) dan Diver Through Water Communication (alat komunikasi bawah air).
Pilot ROV Muhammad Muslih menjelaskan cara kerja ROV dengan antusias. Dimulai dengan deteksi benda di bawah air menggunakan sonar ROV. Setelah sonar mendapatkan satu objek, ROV turun ke dalam air untuk mendapatkan visualisasi dalam bentuk video. "Kalau visual sudah dapat dan dipastikan pesawat, barulah tim penyelam turun," tuturnya.
Sementara, alat komunikasi bawah air digunakan untuk koordinasi antarpenyelam maupun antara penyelam dengan operator di darat. Mereka bisa saling bercakap-cakap satu sama lain dari bawah air. "Jadi, begitu menemukan sesuatu, bisa langsung disampaikan ke atas dan pimpinan bisa mengambil keputusan saat itu juga," tutur operator alat komunikasi bawah air Priyo Prayudha Utama.
Setelah menunggu KNKT tanpa kejelasan, wajah-wajah para penyelam berangsur kecut. Beberapa dari mereka mulai mulai menggerutu. "Nggak usah datang saja sekalian mereka. Kalau black box ketemu kan baru mereka bekerja. Sekarang ini kami mau evakuasi jenazah," tutur salah seorang penyelam.
Adil menjelaskan, jarak dari Pelabuhan Kumai ke titik pencarian cukup jauh. "Perjalanan dari sini ke lokasi penyelaman memakan waktu paling cepat empat jam," terangnya. Artinya, apabila tim penyelam memaksakan berangkat tengah hari, mereka baru tiba di lokasi menjelang petang. Tentu saja penyelaman tidak bisa dilakukan malam hari.
Dia menolak berkomentar mengenai keterlambatan KNKT. Pria asli Semarang itu juga tidak menjelaskan siapa saja anggota tim KNKT yang akan on board di kapal maupun apa yang akan dilakukan di atas kapal.
Pukul 14.45, KN 101 akhirnya bertolak dari pelabuhan setelah mendapat perintah untuk mengantar tim penyelam TNI-AL ke KRI Banda Aceh. Hingga saat kapal berangkat, tim KNKT tidak muncul di pelabuhan.
Informasi yang diperoleh Jawa Pos, KNKT hendak menaikkan peralatan pendeteksi blackbox dan peralatan tersebut baru tiba di Pangkalan Bun Kamis malam (1/1). Alhasil, tim penyelam kehilangan waktu satu hari. Memang penyelam yang boleh mengevakuasi blackbox dari dalam hanya penyelam dari KNKT. Karena jika dilakukan penyelam lain, dikhawatirkan kotak hitam yang merekam percakapan pilot sebelum kecelakaan itu bisa rusak.
Rencananya, setelah mengantar tim selam TNI-AL, KN 101 SAR akan kembali ke pelabuhan. Kemudian, pagi ini sekitar pukul 05.00 akan kembali ke tengah laut beserta anggota KNKT. "Yang jelas, keberangkatan kami tetap berpatokan pada kondisi cuaca di tengah laut," tutur Adil.
Jenazah Korban AirAsia Diawetkan dengan Kapur Barus
PANGKALAN BUN - Jenazah yang berhasil dievakuasi ke RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun rata-rata sudah mulai mengalami pembusukan. Jasad korban diawetkan dengan kapur barus untuk memperlambat proses pembusukan.
“Itu dilakukan untuk memperlambat proses pembusukan, karena kondisi jenazah rata-rata sudah membengkak dan mulai menghitam,” ujar Kepala Pusat Kedokteran dan Kesehatan (Kapusdokkes) Mabes Polri Brigjen Arthur Tampi kepada Radar Sampit (Grup JPNN), di Posko DVI Biddokkes Polda Kalteng, RSUD Sultan Imanuddin Pangkalan Bun, Kamis (1/1).
Pemberian kabur barus tersebut dilakukan agar beberapa informasi penting mengenai identitas korban bisa terselamatkan. Perlakuan terhadap jenazah tersebut juga untuk mempermudah dan mempercepat tim DVI di Surabaya.
“Kita tidak mungkin menyuntikkan formalin ke jasad tersebut karena akan menyulitkan proses pengambilan sampel DNA oleh tim DVI di Surabaya,”
Sidik jari, terutama di jempol tangan juga dilakukan pembalseman (diawetkan), selanjutnya dibungkus plastik. Selain itu, petugas juga melakukan upaya pencegahan agar lidah tidak mendorong gigi keluar untuk mempermudah proses pembuatan odontografi.
Proses identifikasi secara visual, kata Arthur Tampi, sulit untuk dilakukan karena kondisi jenazah sulit dikenali. “Ini hari kelima, kondisinya sudah bengkak dan proses pembusukan mulai terjadi,” katanya.
Setelah pemberikan kapur barus untuk memperlambat proses pembusukan, petugas melakukan wrapping (dibungkus plastik) agar cairan jenazah tidak rembes saat diterbangkan ke Surabaya.
Arthur Tampi tidak menjelaskan secara gamblang kondisi korban yang diberi tanda nomor 5 dan 6 di peti jenazah yang selanjutnya dikirim ke Surabaya. Pihaknya hanya menyebutkan salah satu jenazah tersebut mengenakan kaos biru dongker dan celana jeans.
“Kita di sini hanya melakukan pembersihan dan pengemasan, selanjutnya untuk ciri-ciri baik berupa pakaian atau pun aksesoris yang digunakan korban kita catat dan itu bagian dari labeling untuk mempermudah proses identifikasi nanti,” terangnya.
KNKT Telat, Deputi Potensi SAR: Ya, Sabar Saja
PANGKALAN BUN - Lambatnya kedatangan dari KNKT memang diakui menghambat proses evakuasi, Deputi Potensi SAR Marsekal Muda TNI Sunarbowo menjelaskan, rencana awalnya KNKT akan datang ke Pangkalan Bun sekitar pukul 07.00. Namun, ternyata ditunggu beberapa jam belum datang.
"Ya, evakuasi akhirnya belum banyak perkembangan," jelasnya.
Apalagi, Kamis (1/1) ternyata kondisi cuaca yang cukup bersahabat hanya dari 06.00 hingga pukul 10.00. Maka, seharusnya waktu efektif yang bisa digunakan untuk evakuasi itu sekitar empat jam. Praktis, karena menunggu KNKT, evakuasi di dasar laut batal dilakukan. "Peralatan siap semua, tapi belum bisa meluncur," ujarnya.
Soal waktu yang sia-sia tersebut, Sunarbowo mengatakan bahwa yang penting Jumat (2/1) hari ini akan dilanjutkan kembali proses evakuasi tersebut. Lagi pula, evakuasi jenazah tetap bisa dilakukan, buktinya sudah ada delapan jenazah yang dievakuasi hingga hari ini.
"Ya sabar saja, kita tunggu besok. Semoga cuaca membaik," ujarnya ditemui di ruang khusus Basarnas.
Terkait penyebab lambatnya kedatangan KNKT, sesuai informasi sebenarnya KNKT menunggu kedatangan ahli dari Prancis. Tapi, tidak diketahui siapa dan ahli dalam bidang apa.
"Memang menunggu seorang ahli dari Prancis, tapi akhirnya ahli ini balik kanan alias pulang," tuturnya.
Ini Dua Analisis Penyebab Jatuhnya AirAsia QZ8501
JAKARTA - Sejumlah Analis Penerbangan dalam dan luar negeri sepakat, jatuhnya Airbus 320-200 AirAsia QZ8501 di perairan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada Minggu (28/12) memang karena cuaca super ekstrem dan aneh. Tak ada yang bisa dilakukan pilot untuk menyelamatkan 162 orang di dalamnya...
Analis menggambarkan, AirAsia QZ8501 jatuh dengan turun secara vertikal seolah-olah didorong oleh tangan raksasa. "Airbus 320-200 itu naik dengan cara yang tidak mungkin dicapai oleh pilot, kemudian tidak jatuh dari langit seperti pesawat terbang," kata analis penerbangan Indonesia, Gerry Soejatman kepada Fairfax Media, dan dilansir oleh The Sydney Morning Herald, Kamis (1/1).
Gerry menjelaskan, pesawat yang sedang dalam perjalanan Surabaya-Singapura itu terjebak dalam cengkeraman cuaca yang tak bisa dibayangkan secara umum. "Seperti sepotong logam yang dilemparkan ke bawah. Ini sangat sulit untuk dipahami, berbatasan di tepi logika," ujarnya.
Setelah merangkum bocoran angka kecepatan dan ketinggian AirAsia QZ8501, Gerry mengatakan bahwa pesawat itu dilengkapi dengan radar mode S, peralatan relatif baru yang bisa mengirimkan informasi yang lebih komprehensif, secara real time, dari pesawat ke darat.
Angka bocoran menunjukkan pesawat naik pada tingkat hampir belum pernah terjadi sebelumnya dari 6000-9000ft per menit. "Dan Anda tidak bisa melakukannya di ketinggian itu bersama Airbus 320 dengan tindakan pilot. Yang paling bisa biasanya diharapkan akan 1000-1500 kaki secara berkelanjutan, dengan sampai 3000 meter di burst," katanya.
Pesawat kemudian jatuh pada tingkat yang lebih luar biasa: 11.000 kaki per menit dengan lonjakan hingga 24.000 kaki per menit. Gerry membandingkan, Air France A330 Airbus yang jatuh pada tahun 2009 menewaskan 228 penumpang juga mencapai tingkat pendakian dan keturunan memusingkan.
"Kita tidak bisa mengesampingkan bahwa data yang salah, namun data ini berasal dari pesawat itu sendiri, dikirim melalui radar mode S. Ini misterius," ujarnya.
Sementara ahli penerbangan Australia, Peter Marosszeky, mengatakan tingkat naik dari 6000 kaki per menit akan menunjukkan peristiwa memang terjadi dalam cuaca buruk. "Tingkat pendakian adalah domain untuk jet tempur. Namun itu mungkin karena daerah tropis," katanya.
Dalam kasus Air France, penyelidikan mengungkap bahwa kesalahan pilot telah diperparah kondisi cuaca yang sulit sehingga terjadi kecelakaan.
Dalam kasus AirAsia, Kapten Iriyanto, pilot, adalah mantan pilot Angkatan Udara pilot dan dihormati dengan pengalaman 23.000 jam terbang pengalaman, Pesawatnya berusia enam tahun dan terakhir telah melalui perawatan rutin di bulan November.
"Jadi salah satu kemungkinan (penyebab) adalah updraft yang sangat kuat, diikuti oleh ground draft yang kuat, atau kegagalan struktural dari pesawat," pungkas Marosszeky.
KNKT: Kami Tidak Memperlama Pencarian, Justru Mempercepat
PULUHAN penyelam TNI AL dan Basarnas gagal diterjunkan untuk mencari korban dan pesawat AirAsia QZ8501, Kamis (1/1). Mereka yang sudah bersemangat sejak pagi untuk menyelam harus mengurungkan niatnya karena menunggu perintah karena menunggu kedatangan tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) yang tak kunjung datang.
Jawa Pos (induk JPNN) pun ingin meminta keterangan tentang penyebab penundaan jadwal penyelaman tidak mendapatkan jawaban dari KNKT. Berkali-kali dihubungi lewat telepon, Ketua KNKT Tatang Kurniadi tidak menjawab.
Akhirnya, Jawa Pos mendatangi Kantor KNKT di Jalan Medan Merdeka Timur. Kantor yang bersebelahan dengan Gedung Pramuka itu sepi. Tempat parkir mobil pun kebanyakan lowong. Tampaknya seluruh pegawai sedang menikmati liburan tahun baru. Padahal, sampai kini keluarga korban pesawat AirAsia QZ8501 berharap KNKT segera menyingkap penyebab jatuhnya pesawat tersebut.
Salah seorang petugas sekuriti yang ditanya koran ini menjawab tidak ada pejabat di kantor. ”Tidak ada. Pak Tatang juga tidak ada,” ujarnya.
Jawa Pos akhirnya menghubungi Masruri, ketua Subkomite Udara KNKT. Saat ini Masruri berada di Surabaya. Dalam sambungan telepon, Masruri menolak anggapan bahwa KNKT memperlama pencarian black box. ”Saya tidak tahu. Tapi, kami tidak memperlama pencarian. Justru kami ingin mempercepat,” ujarnya.
Masruri menuturkan, saat ini KNKT bekerja sama dengan KNKT Prancis dan pihak Airbus, produsen pesawat. Mereka turut membantu pencarian black boxdan bangkai pesawat. Mungkin pencarian itu lambat karena menunggu tim ahli dari Prancis tersebut. ”Tadi saya dapat informasi bahwa baru saja tim dari Prancis diterbangkan dengan pesawat CN-235 ke Pangkalan Bun dari Tanjung Pandan,” ujarnya.
Analisis Ahli: AirAsia QZ8501 Mendarat di Laut, Tidak Meledak di Udara
JAKARTA - Sejumlah analis penerbangan mencoba mengungkap misteri AirAsia QZ8501. Pesawat Airbus A320-200 itu hilang kontak usai meninggalkan Surabaya menuju Singapura, Minggu (28/12).
Setelah 3 hari Tim SAR melakukan pencarian, Flight QZ8501 itu mulai 'menampakkan' diri di perairan Selat Karimata, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. Dengan fakta atau bukti yang sudah ada, analis mulai membeberkan hasil pengamatannya, sebelum Kotak Hitam menyingkap hal sesungguhnya penyebab kejadian.
Ada ahli yang menyimpulkan, pilot kemungkinan telah berhasil melakukan pendaratan darurat di air, setelah berjuang keluar dari jebakan badai. Namun pesawat gagal mengirim transmisi ketika kecelakaan atau hingga akhirnya terendam.
Sejumlah ahli sepakat, pilot Kapten Iriyanto sudah menunjukkan 'kelasnya' sebagai sosok yang berpengalaman dan mantan pilot angkatan udara, terbukti dengan dampak kerusakan yang dicap tak seberapa.
"Emergency Locator Transmitter (ELT) akan bekerja dengan baik jika ada benturan, bisa di darat, laut atau sisi gunung. Dan itu tidak berhasil karena tidak ada benturan," ungkap ahli penerbangan dari majalah Angkasa, Dudi Sudibyo, seperti dilansir dari The Straits Times, Kamis (1/1).
"Pilot berhasil mendaratkannya di permukaan laut itu," tambahnya.
Pesawat yang membawa 162 orang ke Singapura, sedang mengudara di ketinggian 32.000 kaki, ketika pilot meminta perubahan untuk menghindari badai. Meskipun izin diberikan untuk berbelok ke kiri, pilot tidak segera diizinkan untuk naik karena lalu lintas udara yang padat. Kemudian, pesawat menghilang dari radar segera setelah itu. "Kita hanya bisa mengetahui pastinya dari Kotak Hitam," kata Sudibyo.
Ada juga analis yang menilai, pesawat terhenti karena terlalu lambat atau naik terlalu tajam. Tidak jelas mengapa tidak ada sinyal marabahaya mayday dari kokpit. Tim pencari sudah menjelajahi laut selama lebih dari 48 jam sebelum puing-puing pertama terlihat, berkat informasi awal dari nelayan.
Sejauh ini tim pencari telah menemukan sembilan jenazah yang tampak utuh. "Kesimpulan saya, pesawat tidak meledak di udara, dan itu tidak menderita dampak ketika menghantam permukaan, karena jika melakukannya maka tubuh tidak akan utuh," ujar ahli dari kalangan militer, Chappy Hakim.
Pesawat ini juga dianggap masih utuh, setelah tim pencari melihat semacam bayangan di dasar laut, di mana operasi dipusatkan. Pintu keluar darurat dan slide tiup di antara item pertama juga sudah ditemukan oleh tim pencari. Hal ini mengindikasikan bahwa penumpang pertama mungkin sudah memulai proses evakuasi setelah pesawat mendarat di atas air.
Mantan Menteri Perhubungan, Jusman Syafii Djamal juga yakin, penemuan pintu keluar boleh diartikan bahwa seseorang di dalam pesawat itu sudah membukanya.
"Penumpang mungkin telah menunggu seorang pramugari untuk mengembangkan rakit, ketika gelombang tinggi menghantam hidung dan menenggelamkan pesawat," jelas Jusman.
Penyebab dan rincian lebih lanjut tentang kecelakaan itu akan tetap tidak jelas sampai peneliti menemukan Kotak Hitam yang sangat penting, yang akan menjawab semua pertanyaan.
Modus via Telepon, Calo Sasar Keluarga Korban AirAsia
SURABAYA – Kegundahan keluarga korban penumpang pesawat AirAsia QZ8501 dimanfaatkan oknum tak bertanggung jawab untuk meraup untung. Salah satunya dengan menghubungi keluarga korban dan menjanjikan bantuan untuk mengurus administrasi jenazah. Termasuk, soal ganti rugi.
Hal itu dialami sejumlah keluarga penumpang AirAsia yang menunggu kabar saudaranya di Crisis Center Polda Jatim. Mereka melapor kepada petugas di Polda Jatim bahwa ada orang yang menghubungi via telepon. Penelepon itu mengaku bisa membantu pengurusan jenazah hingga ganti rugi.
Berdasar laporan keluarga korban, tidak ada seorang pun penelepon yang mau menyebutkan identitas dan keberadaannya. Kemarin kejadian itu dilaporkan ke petugas Polda Jatim untuk diverifikasi.
”Bisa jadi itu ulah oknum yang tidak bertanggung jawab karena ingin mengambil keuntungan,” kata Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Awi Setiyono.
Menurut dia, penelepon seperti itu tidak perlu dihiraukan. Semua pengurusan jenazah sudah ditangani tim dari Polda Jatim dan AirAsia. Awi memastikan, keluarga korban tidak perlu melibatkan pihak lain yang hanya akan membingungkan. Ketika ada kesulitan apa pun selama menunggu proses evakuasi, hendaknya mereka melapor kepada petugas yang sudah disiagakan.
Mantan Wadirlantas Polda Jatim itu memastikan, petugas akan melayani keluarga korban di crisis center dengan baik. Termasuk, mencarikan informasi terkini terkait dengan perkembangan pencarian maupun proses identifikasi jenazah yang sudah ditemukan.
Ditemukan Lagi Delapan Jenazah
PANGKALAN BUN - Proses pencarian pesawat AirAsia terus menunjukkan hasil signifikan. Di hari keenam pencarian, Tim Pencari Pesawat AirAsia menemukan delapan jenazah dan serpihan pesawat yang diprediksi merupakan pintu bagian dalam pesawat AirAsia. Dengan demikian tim pencari telah menemukan 16 jenazah.
Sesuai data Basarnas, dua dari delapan jenazah itu ditemukan kapal KRI Yos Sudarso dan enam sisanya ditemukan kapal USS Sampson. Untuk puing yang diduga pintu bagian dalam juga ditemukan KRI Yos Sudarso.
Direktur Operasional Basarnas Supriyadi menjelaskan, untuk enam jenazah saat ini masih berada di USS Sampson.
Kemungkinan jam 11.00 hari ini akan dievakuasi dan dibawa ke Lapangan Udara Iskandar, Pangkalan Bun. "Untuk dua jenazah dari KRI sudah berada di RSUD Imanudin," terangnya.
Soal ciri-ciri jenazah, dia mengaku belum mengetahuinya. Yang pasti dua jenazah dari KRI Yos Sudarso itu semuanya perempuan. Lalu, ada beberapa luka di tubuh dua jenazah perempuan itu.
”Yang enam jenazah belum dicek. Dengan ini total 16 jenazah telah ditemukan dalam enam hari," paparnya.
Soal serpihan pesawat itu diketahui terdapat bagian yang dipergunakan untuk mengunci dan beberapa selang. "Karena itu diasumsikan merupakan pintu dalam pesawat. Ini cuma kalau dilihat ya. Identifikasi nanti KNKT," paparnya.
Menurut dia, semua temuan dan jenazah itu berdekatan dalam radius lima kilo meter di Selat Karimata. Yang mengejutkan, titik penemuan ini dekat sekali dengan titik koordinat kontak terakhir Airasia dengan Air Traffic Control (ATC). Keadaannya saat ditemukan mengapung.
"Artinya, kemungkinan dengan banyaknya penemuan itu, lokasi pesawat berada di dekat tempat penemuan," jelasnya.
Namun, Basarnas dan TNI akan memastikannya terlebih dahulu. Sebab, bisa jadi delapan jenazah itu telah terbawa arus. "Cek dululah. Ya pakai alat sonar itu," paparnya.
Sumber : jpnn.com
0 Komentar