"Kami tidak dapat mendarat untuk memastikan benda tersebut karena lokasi berada di kawasan hutan belantara. Tidak mungkin helikopter mendarat," ujarnya.
Namun demikian, kata dia, untuk memperjelas benda kuning tersebut, salah satu wartawan luar negeri dari Xinhua mengambil gambar dengan menggunakan kamera berkualitas tinggi. Dari hasil gambar yang diperlihatkan, kuat dugaan benda tersebut adalah puing dari Air Asia.
"Untuk membuktikan benda tersebut, tim akan kembali melakukan penyisiran yang lebih intensif dengan melibatkan pihak lain yang berkompeten," ujarnya.
Ia berharap, penemuan tersebut bisa menjadi salah satu awal titik terang hilangnya pesawat Air Asia yang kini masih menjadi tanda tanya.
"Secepatnya kita akan kembali melakukan penyisiran ke lokasi yang sama untuk memastikan apakah benda kuning tersebut merupakan puing pesawat atau bukan," katanya.
AirAsia dengan nomor penerbangan QZ 8501 membawa 155 orang penumpang tersebut berangkat dari Bandara Juanda Surabaya pada pukul 05.12 WIB dan hilang kontak di perairan Pulau Belitung dengan titik koordinat 03.22.46 LS dan 108.50.07 BT.
Sebanyak 155 orang penumpang yang terdiri dari 138 orang dewasa, 16 orang anak-anak dan satu orang balita.
Di dalam pesawat itu juga warga negara asing dan awak kabin yakni Singapura, Inggris, Malaysia dan Perancis masing-masing satu orang dan warga Korea Selatan tiga orang.
6 Pesawat Berada di Antara AirAsia QZ8501 yang Hilang
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan mengatakan Indonesia membuka diri terhadap bantuan negara lain untuk mencari keberadaan pesawat AirAsia QZ 8501 Rute Surbaya-Singapura yang hingga kini belum ditemukan keberadaannya. Dipastikan sudah ada bantuan dari dua negara yakni Malaysia dan Singapura yang berdekatan dengan lokasi diduga hilangnya pesawat.
Ignasius Jonan menjelaskan dua negara yaitu Singapura dan Malaysia, secara resmi sudah mengirimkan masing-masing tiga kapal untuk membantu melakukan pencarian terhadap pesawat naas yang membawa 155 penumpang tersebut.
“Ini (membuka diri menerima bantuan negara asing, red) dilakukan untuk memaksimalkan pencarian dari udara maupun laut,” katan Jonan seperti yang dilansir INDOPOS (Grup JPNN.com), Senin (29/12).
Ignasius menjelaskan hingga saat ini belum dapat dipastikan keberadaan pesawat AirAsia jenis Airbush 320-200 yang hilang tersebut. Saat ini terang Ignasius, pencarian saat ini difokuskan untuk mendeteksi pancaran sinyal dari pesawat.
Masih menurut Jonan, kejadian hilangnya pesawat AirAsia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura akan menjadi untuk me-review dan round check bisnis penerbangan di Indonesia. Review dan round check terang Jonan bakal dilakukan untuk memastikan keselamatan penumpang menjadi prioritas dalam penerbangan.
“Semua maskapai yang ada akan dilakukan round check dan review. Ini untuk memastikan, penumpang memiliki kenyamanan keselamatan saat menggunakan transportasi udara,” kata Jonan.
Hanya saja, Jonan belum dapat menjelaskan lebih jauh review dan round check yang bakal dilakukan terhadap masing-masing maskapai baik milik luar negeri maupun dalam negeri tersebut.
Soal review dan round check yang bakal dilakukan, Plt Dirjen Perhubungan Udara Djoko Muratmodjo menjelaskan hal tersebut sudah berjalan saat ini bagi seluruh maskapai penerbangan yang beroperasi di Indonsia. Sesuai prosedur, review dilakukan untuk memastikan keamanan penumpang dalam menggunakan fasilitas transportasi udara.
“Review dilakukan bukan untuk membatasi bisnis transportasi udara. Lebih kepada memastikan keamanan penumpang diprioritaskan. Tidak hanya AirAsia namun semua maskapai penerbangan,” ucapnya.
Masih ditempat yang sama, Direktur Utama Air Navigation (Airnav) Bambang Cahyono di Kantor Otoritas Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjelaskan berdasar hasil analisa Airnav, sebelum pesawat AirAsia hilang kontak, ada enam pesawat pada waktu bersamaan dengan ketinggian tidak berbedah jauh dengan pesawat AirAsia.
Dijelaskannya, saat pesawat AirAsia meminta ijin kepada ATC untuk naik dari ketinggian 32 ribu kaki ke 38 ribu kaki guna menghindari awan Cumulonimbus atau kumpulan awan yang berisi hujan besar,belum dapat diberikan karena pada posisi tersebut berada pesawat Garuda Indonesia yang berada di atas AirAsia. Dijelaskannya enam maskapai yang ada berdekatan dengan AirAsia yang hilang kontak tersebut antara lain,Garuda Indonesia, Lion Air, Uni Emirates dan lainnya.
“Saat meminta naik ke ketinggian 38000 kaki, ternyata ada Garuda Indonsia sehingga tidak bisa menambah ketinggian. Akhirnya pesawat berbelok ke kiri dan sesaat kemudian hilang kontak,” ujarnya.
Basarnas Perluas Lokasi Pencarian AirAsia QZ8501
JAKARTA - Badan SAR Nasional (Basarnas) akan memperluas wilayah jangkauan pencarian Pesawat AirAsia QZ8501 yang hilang kontak saat menuju Singapura. Selama 2 hari ini pencarian sudah dilakukan di 7 sektor di kawasan Pulau Belitung sampai perairan Selat Karimata.
"Untuk besok pencarian tetap menggunakan sektor yang sekarang. Tapi ditambah setidaknya 4 sektor lagi," ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya FHB Soelistyo dalam jumpa pers di Kantor Basarnas, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (29/12).
Empat sektor tambahan itu terdiri dari 2 sektor di daratan Kalimantan Barat, dan 2 sektor lagi di selatan Pulau Belitung, atau tepatnya di sekitar lokasi ditemukannya genangan minyak.
"Kita tetap melakukan pencarian di sektor yang telah ada. Tapi perluasan akan kita lakukan," tegasnya.
Seperti diketahui pesawat yang hilang itu berpenumpang 155 orang, terdiri atas 138 penumpang dewasa, 16 penumpang anak-anak, dan 1 bayi. Penumpang didominasi dari warga negara Indonesia, 1 WN Singapura, 1 WN Inggris, 1 WN Malaysia, dan 3 WN Korea Selatan. Saat ini keluarga masih menunggu kabar terbaru dari pencariann tersebut.
Penumpang Pesawat Anjlok 26 Persen
JAKARTA - Jumlah pengguna moda transportasi udara langsung anjlok di hari terjadinya hilang kontak pesawat AirAsia rute penerbangan Surabaya-Singapura Minggu (28/12) pagi.
Untuk penerbangan ke luar negeri turun 26 persen, dan penerbangan domestik turun 9 persen.
Hal itu diketahui dari laporan tujuh bandara utama kepada Kementerian Perhubungan. Berdasar data tersebut diketahui penumpang yang berangkat ke luar negeri pada hari kamis (25/12) mencapai 40.770 orang, Jumat (26/12) 40.052 orang dan Sabtu (27/12) sebanyak 38.443 orang.
"Sementara di hari Minggu (28/12) hanya 28.414 orang," kata Ketua Harian Posko Nasional Tingkat Nasional Monitoring Angkutan Natal 2014 dan Tahun Baru 2015, Taufik Madjid kemarin (29/12).
Dengan begitu, jumlah penumpang pesawat ke luar negeri pada saat hilangnya pesawat AirAsia menurun 26 persen jika dibanding hari sebelumnya.
Sayangnya Taufik tidak bisa memastikan apakah hal itu terjadi karena banyak calon penumpang yang membatalkan penerbangannya keluar negeri.
"Yang pasti hari itu ada kejadian menonjol yaitu hilangnya pesawat AirAsia dalam perjalanan ke Singapura," ungkapnya.
Penurunan jumlah penumpang pesawat juga terjadi pada penerbangan domestik. Berdasar laporan 31 bandara yang diterima Posko diketahui bahwa jumlah penumpang pesawat yang berangkat dengan rute dalam negeri pada hari kamis (25/12) sebanyak 238.691 orang, lalu di Jumat (26/12) mencapai 235.869 orang, di Sabtu (27/12) sebanyak 215.847 orang, dan di hari Minggu (28/12) hanya 197.055 orang atau turun 9 persen dibanding hari sebelumnya.
Terkait hal itu, Vice President Corporate Communication PT Garuda Indonesia Tbk, Pujobroto membantah bahwa telah terjadi penurunan jumlah penumpang akibat tragedi hilangnya pesawat AirAsia.
Sebab pihaknya tidak menerima laporan adanya pembatalan keberangkatan secara masif. "Saat ini penerbangan kita malah mengalami peningkatan karena Natal dan menjelang Tahun Baru," tukasnya.
Pujo menilai masih banyak masyarakat yang melakukan perjalanan dengan rute perjalanan di dalam negeri maupun ke luar negeri. Bahkan karena permintaan terus bertambah, Garuda terpaksa melakukan penambahan 9.800 kursi terrutama ke kota-kota yang menjadi tujuan perayaan seperti Medan, Manado, Denpasar, Singapura, Bangkok dan Perth."Load factor rata-rata masih terjaga di 90 persen," ungkapnya.
Hal yang sama disampaikan Direktur Umum Lion Air, Edward Sirait yang menilai hilangnya pesawat AirAsia tidak langsung akan membuat masyarakat takut bepergian menggunakan pesawat. Apalagi sebagian besar sudah membeli tiket jauh-jauh hari sebelum Natal dan Tahun Baru.
"Sekarang ini lagi peak season jadi wajar kalau mereka berebut tiket sejak jauh hari. Rasanya agak berat kalau batal pergi," tuturnya.
Kondisi itu yang membuat Edward yakin bahwa tragedi hilangnya pesawat AirAsia tidak akan membuat penurunan penjualan tiket pesawat. Mengenai turunnya jumlah penumpang pesawat pada hari minggu lalu, dia memperkirakan hal itu terjadi hanya efek sesaat.
"Permintaan tiket Lion Air tetap tinggi, tidak ada penurunan atau pembatalan yang patut dikhawatirkan," jelasnya.
Berbekal Kecanggihan si Bongsor
JAKARTA - Pencarian pesawat AirAsia QZ8501 digarap keroyokan. Diantara armada yang terlibat dalam misi ini adalah kapal canggih Baruna Jaya IV milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
Kapal bongsor (lebar 12,1 meter) rancangan Perancis itu aslinya bukan kapal penyelamat (rescue), tetapi kapal penelitian.
Deputi Bidang Teknologi Pengembangan Sumber Daya Alam (TPSDA) BPPT Ridwan Djamaluddin menuturkan, dalam misi pencarian pesawat AirAsia QZ8501 adalah instrumen echo sounder. Instrument ini bisa mendeteksi objek hingga kedalaman 2.500 meter di bawah permukaan laut.
"Cara kerjanya adalah, mengirim sinyal suara ke dasar lautan. Kemudian menangkap lagi pantulan gema dari suara itu," jelas dia. Dalam alat penangkap pantulan yang ada di badan kapal, sinyal akan digambar berdasarkan objek yang memantulkan gelombang tadi.
Dari hasil gambar citra pantulan sinyal itu, akan dianalisa lalu dipastikan apakah puing kapal, badan kapal utuh, atau objek lainnya. Jadi tidak selalu objek yang memantulkan balik gelombang suara itu adalah badan kapal yang sedang dicari.
Dalam misi ini, Baruna Jaya IV berlayar menuju lokasi pencarian dari daerah Banten. Berbekal bahan bakar HSD (high speed diesel) 190 ribu liter dan minyak 11 ribu liter, Baruna Jaya IV bisa melakukan misi pencarian 30 hari tanpa kembali untuk mengisi bahan bakar.
Pamor kapal Baruna Jaya IV dalam misi pencairan objek-objek yang diduga tenggelam tidak bisa diremehkan. Kapal mencolok dengan warga orange ini pernah mengeluarkan scan posisi bangkai kapal motor (KM) Gurita yang tenggelam di Sabang pada 1996.
Kapal dengan sandi panggilan "PLIQ" ini juga pernah menemukan posisi jatuh pesawat Boeing 737 milik maskapai Adam Air di Selat Makassar (2007). Selain itu kapal Baruna Jaya IV juga pernah menemukan bangkai KM Bahuga Jaya di Selat Sunda (2012).
"Pesan Bapak Wapres Jusuf Kalla cukup jelas. Semua kemampuan instansi pemerintah dikerahkan untuk mencari AirAsia," katanya.
JK Tetapkan Pencarian tanpa Batas Waktu
WAKIL Presiden (Wapres) Jusuf Kalla mendatangi keluarga korban di Posko Terminal 2 Bandara Internasional Juanda kemarin (29/12). Turut bersamanya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Gubernur Jatim Soekarwo, dan beberapa pejabat lainnya.
Rombongan Wapres tiba di posko pukul 15.10. Dia disambut General Manager PT Angkasa Pura I Trikora Harjo, pemilik maskapai AirAsia Tony Fernandes, Kepala Basarnas Jatim Agus Hernanto, serta pejabat Pemkot Surabaya dan Pemprov Jatim. JK - sapaan Jusuf Kalla - sempat berdialog dengan Tony sebelum masuk pintu X-ray. Tidak diketahui pasti topik yang mereka bicarakan.
Tidak lebih lima menit, rombongan JK masuk ke ruang tunggu keluarga korban. Pria yang menjabat Wapres dua kali itu langsung disambut haru. Banyak yang berebut salaman dengan mantan ketua umum Partai Golkar tersebut. JK pun menyambut sambil berusaha menenangkan mereka.
Dalam ruangan tertutup itu, JK menyampaikan salam dari Presiden Joko Widodo (Jokowi). Ucapan belasungkawa disampaikan sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Peristiwa yang menimpa pesawat AirAsia QZ8501 adalah duka banyak orang.
"Kami berharap semua keluarga yang ditinggalkan tetap sabar," tuturnya.
JK meyakinkan keluarga korban bahwa pencarian terus berlangsung. Saat ini tim sudah bergerak di lapangan. Tim dari luar negeri juga sudah bergabung dengan Basarnas, TNI, dan Polri. Harapannya, secepatnya pesawat yang ditumpangi 155 penumpang itu ditemukan.
JK yang didampingi Mufidah Kalla juga meminta masyarakat percaya kepada tim yang bergerak di lapangan. Pemerintah mengerahkan semua tenaganya untuk menemukan pesawat tersebut. Tidak ada batasan waktu pencarian. Targetnya harus ketemu.
"Sampai kapan pun. Tapi, kami harap secepatnya," ujar JK.
Setelah menerima penjelasan JK, warga mendapatkan kabar terakhir upaya pencarian yang dilakukan tim di lapangan. Saat ini semua armada, baik udara maupun laut, dikerahkan. Sekarang pencarian sudah memasuki titik koordinat hilangnya pesawat.
JK mengungkapkan, batas waktu pencarian pesawat tidak bisa ditentukan. Hal tersebut melihat kenyataan bahwa pesawat Malaysia Airlines MH370 belum ditemukan hingga kini, Lion Air baru ditemukan dua bulan kemudian, dan pesawat yang hilang lainnya.
"Sudah 30 kapal laut turun, puluhan pesawat udara, dukungan dari negara berdatangan. Kita terus berupaya dan melakukan yang terbaik dan maksimal," katanya.
"Pemerintah tidak akan pernah putus asa dalam mencari keberadaan AirAsia QZ8501 dan tak akan berikan batas waktu sampai kapan pun itu," tegasnya.
Terkait layanan kepada keluarga penumpang, JK meminta pusat informasi pesawat dipindahkan ke Hotel Ibis. Permintaan tersebut disampaikan JK dalam pertemuan tertutup dengan keluarga korban.
Perintah itu menanggapi keluhan seorang keluarga korban, yakni Ebent, yang mengaku kelelahan bila crisis center tetap ditempatkan di Terminal 2 Bandara Juanda. Namun, perintah JK tersebut tidak terlaksana. Sebab, setelah bertemu JK, keluarga penumpang sepakat bahwa pos informasi tetap ada di Juanda.
Ketua Basarnas Jatim Agus Hernanto memerinci, pencarian terbagi dalam empat area. Semua tim bergerak di area masing-masing. Sampai sekarang pihaknya masih menunggu informasi dari tim di lapangan.
"Begitu ada informasi, langsung kami sampaikan," ucapnya.
Kabarnya, pencarian mengalami kesulitan. Cuaca di perairan Teluk Kumai kemarin sore buruk. Agus membenarkan informasi tersebut. Namun, dia tidak bisa memerinci berapa kecepatan angin dan ketinggian gelombang.
"Kami masih menunggu kabar dari Jakarta," katanya.
Agus menyatakan, tim di lapangan menyesuaikan dengan kondisi yang ada. Bila cuaca baik, pencarian dilaksanakan semaksimal mungkin. Namun, ketika cuaca memburuk, pencarian dihentikan. Bagaimanapun, tutur dia, upaya pencarian tetap mempertimbangkan keselamatan tim yang lain.
Bung Tomo juga Dilibatkan
SURABAYA - TNI AL melipatgandakan unsur kapal dalam mencari AsiaAir QZ8501. Setelah menugaskan KRI Sutedi Senaputra, KRI Patimura, dan tiga KAL kelas Manau sejak pencarian hari pertama, Minggu (28/12), Komando Armada RI Kawasan Timur memberangkatkan lagi tiga kapal perang dari dermaga Ujung.
KRI Bung Tomo, KRI Yos Sudarso, dan KRI Pulau Rengat kemarin (29/12) menyusul ke lokasi pencarian.
KRI Bung Tomo merupakan kapal mutakhir yang baru didatangkan dari Inggris. Komando utama TNI AL itu juga menyiagakan KRI dr Soeharso.
"Misi pencarian di bawah kendali Basarnas," tegas Kepala Staf Koarmatim Laksma TNI Aan Kurnia di sela-sela mendampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla mengunjungi keluarga penumpang di terminal selatan (T2) Juanda.
Aan menjelaskan, titik yang disisir unsur TNI AL mengacu area yang dibagi Basarnas bersama unsur lain. Namun, jajarannya turut melebarkan pencarian di titik-titik kemungkinan lain.
Selain menerjunkan prajurit pengawak kapal, mereka turut menugaskan tim medis. Tim terdiri dari dokter dan paramedis yang didukung obat-obatan dan peralatan pendukung penyelam dari Dislambair dan Satkopaska.
Bergabungnya tiga KRI menambah panjang deretan penugasan operasi militer selain perang. Seperti KRI Yos Sudarso yang terlibat dalam misi penyelamatan kapal MV Sinar Kudus yang dirompak di Teluk Aden, perairan Somalia. Kapal itu dilengkapi Sonar PHS-32 yang sanggup mendekteksi kehadiran kapal selam.
Sedangkan KRI Pulau Rengat merupakan kapal perang jenis pemburu ranjau laut. Lambung kapal dibangun dari material khusus yang tidak menimbulkan jejak magnetik. Yakni mengadopsi jenis plastik diperkuat kaca (glass-reinforced plastic).
Selain kemampuan sonar, KRI Pulau rengat memiliki poisson auto propulsion. Peranti itu sanggup mendeteksi keberadaan pesawat di laut dalam sampai jangkauan satu kilometer.
"Hingga kini TNI AL sudah mengerahkan delapan KRI, dua KAL, dua pesawat udara patroli maritim CN235 dan 2 helikopter NBell dan Bolcow," imbuh Aan.
Hari Ini Tim Pencari AirAsia QZ8501 Melacak Lagi, Serpihan Misterius di Selat Gaspar
BABEL - Hingga hari kedua kemarin (29/12), pencarian atas hilangnya pesawat naas AirAsia QZ8501 belum membuahkan hasil.
Kemarin, Polisi Udara Mabes Polri yang memantau dari udara dengan Helikopter Jenis Dauphin AS 365N3 mengikutsertakan sejumlah media termasuk Babel Pos (Grup JPNN), sempat melihat beberapa objek mencurigakan di Selat Gaspar (antara Pulau Bangka dan Pulau Belitung).
Helikopter berangkat dari Bandara Depati Amir, pukul 13.40 WIB menuju blok pencarian di sekitar area Perairan Tanjungpandan dan Selat Gaspar. Perjalanan ditempuh sekitar 1 jam.
Sepanjang perjalanan menuju area tersebut, beberapa tim dari polisi udara dan awak media melihat benda yang mengapung dan bertebaran. Melihat itu, pilot pun mencoba mengitari sekitar terlihatnya benda yang mencurigakan tersebut.
Karena terlihat masih samar-samar dari kejauhan, helikopter turun pada ketinggian 200 kaki atau sekitar 80 meter di atas permukaan laut. Namun masih juga belum tampak jelas.
Bahkan hasil jepretan fotografer salah satu media asing tak mampu menangkap jelas objek tersebut, meski sudah menggunakan kamera dengan lensa jarak jauh.
Dari hasil pantauan tersebut, tim Polisi Udara Polri secara berhati-hati mengaku masih belum bisa menyimpulkan apa gerangan objek itu.
Usai menyusuri area Selat Nasik, tim bergegas memantau daratan Pulau Bangka Bagian Selatan. Dalam pantauan kali ini tidak tampak lagi objek yang mencurigakan seperti sebelumnya.
Hampir 2,5 jam mengudara di blok pencarian, tim kemudian memutuskan kembali ke landasan udara Depati Amir dan tiba sekitar pukul 16.00 WIB.
Hasil pantauan itu langsung dilaporkan kepada Presiden RI, Jokowi Widodo melalui telenconfrence di Posko Taktis, Bandara Depati Amir, Pangkalpinang, kemarin sore.
Kapten Pilot Dauphin AS 365 N3, AKP. Yosi Hermawan kepada wartawan Babel Pos menjelaskan terbang heli dalam pencarian pada ketinggian 1000 fit/kaki, dan saat menelusuri daratan Bangka bagian Selatan hanya berada pada ketinggian 200 fit. Area pencarian tercatat pada Koordinat biru, kordinat 02 derajat 32 menit 107 derajat 32 menit.
"Saat dari arah Tanjungpandan menuju Pulau Bangka atau arah Tenggara dari Pangkalpinang, kita sempat curigai kira-kira terlihat seperti serpihan. Kita turun 200 kaki, tapi belum jelas. Belum bisa dipastikan apakah serpihan pesawat atau bisa saja sisa sampah dari kapal," ujarnya hati-hati.
Lebih lanjut Yosi mengatakan, pihaknya telah berupaya melakukan pencarian seoptimal mungkin dan berharap agar pencarian berikutnya membuahkan hasil.
"Sejauh ini kita belum temui kendala berarti. Untuk blok atau rute pencarian berikutnya, kita tunggu instruksi dari teman-teman Basarnas," imbuhnya.
Menanggapi benda diduga serpihan pesawat dari hasil pantauan tim dari udara tersebut, Kepala Staf Korem (Kasrem) Garuda Jaya 045/Bangka, Letkol Inf Eko Prayitno menuturkan hasil pantauan tersebut akan menjadi petunjuk baru bagi tim pencarian pada hari ini.
"Kita akan prioritaskan pada titik yang diduga objek mirip serpihan tersebut. Seperti yang dilihat tim dan teman-teman wartawan yang juga katanya melihat," ujarnya.
Tak Ada Emergency Manual di QZ8501
SELAIN empat fakta yang terungkap setelah rapat di Kemenhub kemarin, ada kepingan fakta yang lain tidak kalah penting. Yaitu terkait keberadaan emergency manual yang diwajibkan oleh EASA (badan keselamatan penerbangan Eropa).
Berdasar penelusuran Jawa Pos, EASA pada 9 Desember 2014 lalu merilis Emergency Airworthiness Directive atau perintah terkait kelaikan terbang saat kondisi darurat. Aturan ini berlaku efektif mulai 11 Desember 2014.
Perintah tersebut dikeluarkan untuk seluruh pesawat Airbus jenis A318, A319, A320, dan A321. Sebagaimana diketahui, pesawat QZ8501 berjenis A320.
Alasan diterbitkannya aturan itu, beberapa waktu sebelumnya EASA menerima laporan insiden sebuah pesawat Airbus jenis A321. Pesawat itu mengalami gangguan pada mekanisme Angle of Attack (AOA) saat mencoba naik ke posisi yang lebih tinggi.
Insiden itu terjadi saat beberapa sensor membeku saat melalui cuaca buruk. EASA tidak merinci penerbangan yang terganggu tersebut, hanya menyebut jika akhirnya pesawat bisa mendarat dengan selamat.
AOA adalah sudut antara sayap pesawat dan aliran udara yang melewati pesawat. Jika sudut ini terlalu besar, maka sayap bisa stall (macet) dan kehilangan daya angkat. Nah, pilot pun harus cepat tanggap, jika tidak maka bisa kehilangan kendali dan pesawat bisa menukik ke bawah.
Karena itu, EASA lantas memerintahkan agar Airbus segera merevisi Airplane Flight Manual (AFM) atau petunjuk manual penerbangan pesawat. Alternatif lain adalah, menambahkan lampiran terkait prosedur kondisi darurat sebagaimana yang terlampir dalam perintah bernomor AD No: 2014-0266-E dalam buku manual penerbangan.
EASA juga sudah meminta Airbus untuk menginformasikan kepada seluruh kru penerbangan yang mengoperasikan pesawat jenis A318, A319, A320, dan A321 untuk berjaga-jaga jika menghadapi kondisi darurat.
Nah, berdasar dokumen Flight Dispatch Release dikeluarkan Kementerian Perhubungan, pesawat QZ8501 ternyata tidak memiliki Emergency Respon Manual maupun Security Program and Manual. Itu terlihat dari dokumen yang ditandatangani Pilot Iriyanto.
Pengamat Penerbangan Alvin Lie mengatakan, pihak EASA memang selalu menerbitkan arahan berdasar investigasi atas suatu kasus. Dalam hal ini, EASA memerintahkan Airbus agar menginformasikan kepada seluruh perusahaan penerbangan yang menggunakan pesawat jenis A318, A319, A320, dan A321 terkait prosedur darurat terbaru.
"Hal seperti itu memang harus disosialisasikan ke pilot atau kru pesawat, bahkan biasanya ada pelatihan khusus. Tapi, itu memang butuh waktu, apalagi aturannya baru berlaku 11 Desember lalu," ujarnya.
Berdasar analisis sementara, kondisi pesawat yang ingin naik dari ketinggian 32 ribu kaki menuju 38 ribu kaki, memang sesuai dengan pola gangguan AOA pada kasus Airbus A321.
Kondisi cuaca buruk terhadang awan cumulonimbus yang berpotensi membekukan sensor juga mirip dengan kasus Airbus A321.
Menurut Alvin, berbagai kemungkinan memang terbuka. Termasuk kemungkinan terjadinya musibah seperti kasus pesawat Air France yang jatuh di Samudera Atlantik dalam perjalanan dari Rio De Janeiro (Brasil) ke Paris (Perancis) pada Juni 2009.
Ketika itu, pilot juga kesulitan mengendalikan pesawat akibat cuaca buruk. "Tapi, saya belum punya analisa kuat karena apa sebab pastinya harus menunggu ditemukannya kotak hitam pesawat," jelasnya.
Alvin memang terus memantau perkembangan kasus hilangnya pesawat Air Asia ini. Apalagi, dua keponakannya, atas nama Christien Aulia Pornomo dan Ferny Yufina Pornomo asal Lumajang, Jawa Timur, termasuk penumpang pesawat nahas tersebut.
Area Pencarian Diperluas Dibagi Lima Blok
BABEL - Nihilnya pencarian AirAsia QZ8501 hari pertama dan kedua, membuat pencarian di hari ketiga akan diperluas. Hari ini, rencananya pencarian terbagi atas 5 blok yakni wilayah utara 3 blok dan selatan 2 blok.
Tidak hanya zona pencarian yang diperluas, armada pesawat pencarian pun terus bertambah dengan total sebanyak 19 pesawat dengan berbagai jenis dan 4 helikopter.
Demikian disampaikan Kasrem Garuda Jaya 045/Bangka, Letkol Inf Eko Prayitno kepada sejumlah wartawan, di Posko Taktis Bandara Depati Amir, Senin (29/12) kemarin.
"Karena ini sudah menjadi masalah internasional. Ada juga tambahan-tambahan tim pencarian negara asing yang ikut dan oleh Basarnas diarahkan. Seperti ada pesawat Cassa baru saja melaksanakan kegiatan menyusuri wilayah ini (menunjuk peta perairan Belitung Timur, red). Selain itu juga ada Helli AD, Helli Kepolisian, kemudian ada MI 35 dan lainnya sudah terlebih dahulu menyisir," ungkap Eko.
Untuk memperluas penyisiran, Eko menjelaskan pihaknya juga telah mengintruksikan nelayan tradisional untuk turut membantu pencarian.
"Nelayan ini kita anggap paling tahu dan menguasai kawasan pantai ini, juga kita kerahkan," imbuhnya.
Sementara itu, Direktur Komunikasi Basarnas RI, Sutono di hadapan sejumlah awak media menyebutkan pihaknya serta seluruh tim yang melakukan penyisiran terus memaksimalkan pencarian, akan tetapi belum kunjung menemui sinyal positif.
Nelayan Tradisional Dikerahkan
BABEL - Nelayan tradisional Bangka Belitung (Babel) pun ikut serta dalam upaya pencarian AirAsia QZ8501.
Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Pangkalbalam ikut mengerahkan armada nelayan yang ada di kawasan perairan Bangka.
Dikatakan kepala KSOP Pangkalbalam, Adriawan, pihaknya meminta agar nelayan setempat menginformasikan bila ada temuan apapun yang berkaitan dengan pesawat AirAsia yang hilang kontak ini.
"Kita juga ikut kerahkan nelayan setempat. Siapa tahu menemukan sesuatu atau petunjuk, bisa segera diinformasikan. Sudah banyak pihak yang berkoordinasi dengan kita juga untuk turut dalam pencarian," kata Adriawan, kemarin.
Beberapa saat setelah kejadian hilang kontak Pesawat AirAsia dan dinyatakan hilang, KSOP Pangkalbalam pun sudah menerima titik koordinat awal diduga hilangnya pesawat yaitu pada 03022'46"S/108050'07"E.
Pihaknya pun langsung mengkonfirmasi Kapal Express Bahari yang berada pada lokasi terdekat agar segera meneruskan perjalanan ke titik tersebut untuk melakukan pencarian.
"Ada koordinat yang dikasih Basarnas. Kita pakai Kapal Bahari Express yang di Tanjung Pandan untuk ikut mencari. Jadi, kita kerja sama dengan kapal itu," kata Adriawan.
Diungkapkan Adriawan, Kapal Express Bahari tersebut bergerak dari Tanjung Pandan menuju titik lokasi pada pukul 14.55 WIB. Setiba di lokasi, kapal melakukan pencarian selama 1 jam dalam radius 6 mil. Namun, memang tidak ditemukan apa pun dan kembali lagi ke pelabuhan pada pukul 20.00 WIB.
Selain menggerakkan nelayan, KSOP Pangkalbalam pun menggunakan stasiun radio pantai untuk melakukan pantauan. Sehingga, informasi apapun bisa segera masuk ke KSOP Pangkalbalam. "Ada stasiun radio pantai juga di beberapa titik pantai. Kita gunakan itu untuk memberi dan mengumpulkan informasi," pungkas Adriawan.
Ketika Penunjuk Jalan Tidak Tahu Medan
BELUM ada tanda-tanda di mana pesawat Air Asia Indonesia jenis Airbus A320 PK-AXC berada. Pun demikian dengan penyebab hilangnya kontak dengan pesawat yang rencananya terbang dari Surabaya menuju Singapura bernomor QZ8501 pada Minggu lalu itu (28/12).
Namun, beberapa fakta mengemuka kemarin (29/12). Fakta-fakta yang bisa jadi menyebabkan perjalanan yang dipimpin Kapten Pilot Iriyanto itu mengalami masalah.
Fakta itu terkonfirmasi dalam konferensi pers setelah rapat Kemenhub di Gedung Otoritas Bandara Wilayah I Cengkareng kemarin. Pertemuan tertutup itu dihadiri oleh Menteri Perhubungan Ignatius Jonan, Plt Dirjen Perhubungan Udara Djoko Murjatmojo, ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Tatang Kurniadi, dan Kepala Basarnas Marsekal Madya FHB Soelistyo. CEO Air Asia Tony Fernandes juga turut hadir dalam rapat tersebut.
Fakta pertama terkait ketidakmampuan radar Air Traffic Control (ATC) untuk membaca kondisi cuaca. Menyikapi itu, Bambang Tjahjono, Direktur AirNav (perusahaan yang melayani navigasi penerbangan), membenarkan bahwa radar yang dimiliki pihaknya "buta" cuaca.
Namun, itu seharusnya tidak menjadi masalah sebab pilot sudah mendapatkan data cuaca dari BMKG.
Bambang melanjutkan, radar cuaca sudah ada di pesawat. Sehingga, pilot bisa memetakan di mana jalur yang berbahaya dan tidak.
"Namanya pilot in command. ATC berhak perhatikan permintaan pilot. Namun ATC juga memberitahu bahwa pesawat tidak bisa pindah mendadak lantaran lintasan pesawat padat," terangnya.
Menteri Perhubungan Ignasius Jonan yang juga hadir dalam rapat ikut angkat suara, bahwa setiap penerbangan sudah punya flight plan. Di dalam rencana penerbangan itu terdapat data BMKG terkait cuaca. "Jadi kalau ingin tahu detail tanyakan ke BMKG," tandasnya.
Namun, dalam kasus QZ8501, bisa diumpamakan Pilot Iriyanto meminta petunjuk jalan kepada orang yang tidak tahu medan. Dalam kasus ini cuaca di sekitar pesawat. Bisa dibayangkan, betapa berbahaya dan berisikonya perjalanan Iriyanto dalam kondisi seperti itu.
Si penunjuk jalan hanya bisa memberikan petunjuk agar tidak terjadi tabrakan. Bukan jalan yang aman untuk keselamatan.
Direktur Safety dan Standar AirNav Wisnu Darjono juga ikut rapat Kemenhub juga membenarkan bahwa radar yang dimiliki ATC tidak mempunyai kelengkapan weather radar.
"Nanti gambar lintasan pesawat ketumpukan (tertumpuk) dengan citra cuaca sehingga petugas tidak bisa lihat," katanya memberikan alasan.
Meski demikian, Wisnu menyatakan AirNav ke depan akan memasang radar cuaca di ATC. Radar cuaca itu tidak digabung, namun di letakkan di layar monitor di samping radar pesawat.
Dan hal itu sudah dilakukan di Negara lain termasuk Singapura. "Jadi ke depan petugas juga bisa melihat cuaca," paparnya.
Fakta kedua terkait dengan beban kerja petugas ATC yang kelewat berat. Seorang ATC di Indonesia bisa meng-handle 7-15 pesawat. Wisnu menyebut hal itu sebagai hal yang biasa, sudah dilakukan selama bertahun-tahun di Indonesia. Namun, dalam kasus QZ8501, hal itu bisa saja meningkatkan risiko masalah penerbangan.
Sebab, saat itu di dekat QZ8501 ada tujuh pesawat. Iriyanto yang secepatnya butuh jalur baru untuk menghindari cuaca buruk, akhirnya tidak bisa dikontak sebelum diberi jalur yang dibutuhkan itu.
Fakta berikutnya terkait Iriyanto yang tidak hadir dalam rapat persiapan penerbangan. Rapat itu diselenggarakan untuk menentukan flight plan. Rapat itu dihadiri oleh orang lain. Sehingga dialah yang bertanda tangan dalam flight plan.
Menurut Wisnu hal itu diperbolehkan menurut aturan internasional. Asal penggantinya mempunyai lisensi sebagai flight operation officer. "Seperti saya. Saya punya lisensi sebagai flight operation officer. Jadi saya bisa mengisi flight plan," tandasnya.
Selanjutnya, fakta yang terungkap adalah ketidakkonsistenan kemenhub terkait kronologi pesawat hilang kontak. Berdasarkan rilis resmi kronologi perjalanan pesawat yang dilansir Kemenhub Minggu lalu, pesawat take off pukul 05.36 WIB dari Bandara Juanda. Pada pukul 06.12 WIB pilot meminta untuk belok ke kiri dan menaikkan ketinggian dari 32 ribu kaki menuju 38 ribu kaki.
Masih berdasarkan rilis hari Minggu itu, disebutkan bahwa belok kiri sejauh tujuh mil disetujui. Namun, untuk menambah ketinggian belum. Nah, ketika akan dilakukan kontak lagi pada 16.17 WIB, pesawat sudah tidak tampak di radar, hanya sinyal ADS-B. Pada 16.18 WIB, sinyal itu juga menghilang. Sampai akhirnya pada pukul 07.55 WIB pesawat dinyatakan hilang.
Namun, setelah rapat Kemenhub kemarin, diungkapkan versi lain dalam komunikasi pilot dengan ATC. Disebutkan dalam konferensi pers setelah rapat itu, pada 06.14 WIB petugas ATC hendak memberikan jawaban. Akan tetapi QZ8501 sudah tidak bisa dikontak.
Kenapa rilis kronologi bisa beda, tidak ada jawaban jelas dari kemenhub. Namun, tempo dua atau tiga menit dalam perjalanan pesawat adalah satu momen yang cukup panjang. Pesawat bisa menempuh puluhan kilometer. Termasuk harus menembus zona-zona bahaya dalam tempo itu.
Fakta Terkait Hilangnya Air Asia QZ8501
1. Radar ATC tidak bisa membaca cuaca. ATC hanya bisa memberikan petunjuk jalur agar tidak terjadi tabrakan. Jalur itu melewati cuaca buruk atau tidak, ATC tidak bisa mengetahui.
2. Dalam meeting dengan ATC, Pilot Iriyanto tidak hadir
3. Satu petugas ATC bisa meng-handle 7-15 penerbangan
4. Inkonsistensi Kemenhub soal kronologi masalah penerbangan QZ8501 sampai hilang kontak.
ATC di Indonesia Kuno, Pilot Lebih Senang Terbang di Luar Negeri
PILOT dalam dan luar negeri ternyata sudah lama mengeluhkan kemampuan radar ATC di Indonesia yang tidak bisa mendeteksi cuaca. Para pilot itu merasa lebih safe terbang di luar negeri karena radar yang lebih canggih.
Hal itu diungkapkan pilot maskapai Garuda Indonesia Abdul Rozaq kemarin (29/12). Rozaq menyatakan lebih memilih menerbangkan pesawat ke luar negeri daripada di Indonesia. "Di sini ATC tidak punya radar cuaca. Jadi, kami tidak pernah diarahkan ketika cuaca buruk," ujarnya.
Rozaq menjelaskan, hal tersebut berbeda dengan di negara lain. Misalnya di Singapura. Menurut dia, beberapa kali dirinya terbang ke Singapura dan tidak menemukan kendala cuaca buruk. Sebab, pihak ATC di sana mengarahkan pilot untuk menghindarinya. "Kadang kalau pilot belum minta belok karena cuaca buruk, pihak ATC sudah menyuruh belok.
Selain itu, pilot merasa diperhatikan. Rozaq mencontohkan, ketika ada cuaca buruk, pilot akan terus dipandu untuk menemukan jalan keluar. Berbeda halnya dengan di Indonesia. Menurut dia, petugas ATC di Indonesia tidak memberikan perintah yang jelas. "Mereka bilang menyimpang ke kiri. Tapi, perintahnya untuk apa nggak jelas," cetusnya.
Bahkan, imbuh Rozaq, penerbangan di Indonesia tidak seketat Singapura. Jika di Singapura pesawat menyimpang sedikit saja langsung diperingatkan, di Indonesia hal itu jauh lebih longgar. Kadang diperingatkan, kadang tidak.
Kasus AirAsia bisa menjadi pelajaran bahwa radar cuaca sangat dibutuhkan. Citra satelit BMKG, papar Rozaq, tidak bisa memprediksi cuaca secara akurat 100 persen. Hanya sekitar 70 persen. "Kami sekarang sebelum terbang lihat software aeroweather. Lebih akurat," jelasnya.
Selain empat fakta yang terungkap setelah rapat di Kemenhub kemarin, ada kepingan fakta lain yang tidak kalah penting. Yaitu, terkait dengan adanya emergency manual yang diwajibkan EASA (badan keselamatan penerbangan Eropa).
Sumber : jpnn.com
0 Komentar