Lewati ke konten utama

Tim SAR Temukan 9 Jenazah Penumpang AirAsia

Admin
112 kali dilihat

Diwartakan sebelumnya, pesawat AirAsia QZ8501 yang terbang dari Surabaya menuju Singapura hilang kontak sekitar pukul 7.00 WIB (Minggu, 28/12). Pesawat tersebut kemungkinan besar mengalami gangguan cuaca.

Sebelum hilang dari radar ATC di Jakarta, pilot pesawat, Kapten Iriyanto, minta izin untuk mengubah arah pesawat demi menghindarkan awan tebal.

Pesawat membawa penumpang 155 orang dan kru sebanyak 7 orang, total di dalam pesawat 162 orang. Dengan rincian, Indonesia 155 orang, Korea Selatan 1 orang, Singapura 1 orang, Prancis 1 orang dan Malaysia 1 orang.

Basarnas Tegaskan 3 Mayat Sudah Dievakuasi

JAKARTA - Kepala Basarnas, Marsekal Madya FHB Soelistyo mengungkap ada tiga mayat yang sudah berhasil dievakuasi oleh KRI Bung Tomo, yang tengah menyisiri lokasi temuan serpihan dan jasad penumpang AirAsia di perairan Pangkalan Bun, pada Selasa (30/12).

"Tiga mayat sudah dievakuasi oleh KRI Bung Tomo, dua wanita dan satu laki-laki yang dievakuasi pukul 16.50 WIB," ujar Soelistyo dalam jumpa persnya.

Diakuinya dalam melakukan evakuasi korban AirAsia, pihaknya menemui kendala cuaca yang saat ini kurang bersahabat. Di mana gelombang di sekitar lokasi evakuasi mencapai 2-3 meter. "Tantangan kita cuaca dan kondisi gelombang yang tinggi," ungkapnya.

Mengenai kabar yang menyebutkan ada lebih dari tiga jenazah yang ditemukan oleh pihak lain, Soelistyo enggan berkomentar. Yang pasti ia menegaskan bahwa informasi dari pihaknya sudah bisa dipertanggungjawabkan.

"Saya hanya bisa sampaikan tiga korban yang meninggal dunia. I don't care, only three just my information," tegasnya.

Sebelumnya banyak informasi yang berkembang mengenai jumlah jenazah pesawat AirAsia yang sudah berhasil ditemukan. Menteri Perhubungan Ignasius Jonan misalnya, memastikan ada dua jenazah penumpang AirAsia yang baru dievakuasin. Sedangkan Tim SAR di lapangan mengklaim telah menemukan 9 jenazah penumpang AirAsia.

Manifes Penumpang AirAsia QZ8501 Ada 162, 153 Masih Dicari

JAKARTA - Sebanyak sembilan jenazah penumpang pesawat AirAsia QZ8501 sudah berhasil ditemukan. Tiga di antaranya sudah dievakuasi dan diangkut ke darat oleh tim Basarnas.

Dilansir Kalteng Pos (Grup JPNN.com), Selasa (30/12), jenazah tersebut ditemukan berjarak sekitar 100 nautical mile atau 190 kilometer arah barat daya Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah. [Baca: Tim SAR Temukan 9 Jenazah Penumpang AirAsia]

Kepala Basarnas Marsdya F Henry Bambang Sulistyo menyebutkan bahwa korban baru diidentifikasi jenis kelaminnya. Kata dia, ada dua mayat perempaun dan satunya lagi adalah laki-laki. [Baca: Basarnas Tegaskan 3 Mayat Sudah Dievakuasi]

Diketahui, pesawat Air Asia QZ 8501 rute Surabaya-Singapura hilang kontak, Minggu (28/12) dengan memuat 162 orang. Dengan ditemukannya 9 korban, masih ada 153 yang dicari. Pesawat jenis Airbus A320-200 dengan nomor registrasi PK-AXC itu disebutkan mengangkut 155 penumpang yang terdiri dari 138 penumpang dewasa, 16 penumpang anak-anak dan seorang bayi.

Sementara tambahan tujuh nyawa lagi berasal dari data kru pesawat terdiri dari pilot Iriyanto, kopilot Remi Emmanuel Plesel, pramugari/pramugara adalah Wanti Setiawati, Khairunisa Haidar Fauzi, Oscar Desano dan Wismoyo Ari Prambudi serta seorang engineer Saiful Rakhmad. (awa/jpnn)

Berikut adalah daftar lengkap mereka yang berada di pesawat AirAsia bernomor penerbangan QZ 8501 yang hilang pada Minggu (28/12) pagi, seperti dirilis oleh AirAsia:

Penumpang:
1. VIONA FLORENSIA ABRAHAM
2. SIAU ALAIN OCTAVIANUS
3. SRI RATRI ANDRIANI
4. SRI VINCENCIA ANDRIJANY
5. SHARON MICHELLE ANG
6. STEVEN MICHAEL ANG
7. ONG ANELINA
8. LINDAWATI ANGGARA
9. MONICA ANGGRAINI
10. LINDA ANGGRENI
11. SANTIAGO JASMINE ROSE ANN
12. JAYDEN CRUZ ARDHI
13. REGGY ARDHI
14.YUNI ASTUTIK
15. THIRZA AURELIA
16. DJAROT BIANTORO
17. KEVIN BIANTORO
18. GANI CHANDRA
19. CHI MAN CHOI
20. ZOE MAN SUEN CHOI
21. MARIANNE CLAUDIA ARDHI
22. MICHELLE CLEMENCY ARDHI
23. THE DARMAJI
24. INDA DJANI
25. KAYLEE C. DJOMI
26. MARTINUS DJOMI
27. ANGELINE ESTHER EMMANUEL
28. ERNAWATI
29. MUSABA EVIENTRI WAHAB
30. EDWARD FEBRIANTUS
31. JOE JENG FEI
32. ANDRIAN FERNANDO
33. SUSILO GANI
34. JUSTIN GIOVANNI
35. NICO GIOVANNI
36. FEILENSIA SULARMO GO
37. DAVID GUNAWAN
38. JIE CHARLY GUNAWAN
39. JIE STEPHANIE GUNAWAN
40. JIE STEVEN GUNAWAN
41. JIE STEVIE GUNAWAN
42. KAYLA AUDREY GUNAWAN
43. KENNETH MATHEW GUNAWAN
44. HENDRA GUNAWAN SYAWAL
45. HINDARTO HALIM
46. HAYATI LUFTIAH HAMID
47. FINNA HANDAYANI
48. RONY HANDOYO
49. SUKIATMA HARIPIN
50. PRAWIRA HARJA SUBAGIO
51. DAVID HARTONO
52. CAROLINE HARWON LIOE
53. JULIANA HO
54. CHRISTANTO LEOMA HUTAMA
55. JO INDRI
56. MONITA WAHYUNI JAUW
57. JESSICA
58. ANG MIE JONG
59. SHIANE JOSAL
60. KOSUMA CHANDRA KHO
61. VERA CHANDRA KHO
62. SESHA ALDI KRISPUTRA
63. FELICIA SABRINA KRISPUTRI
64. KRISTIYONO
65. NELSON KUSUMA
66. WIRANTONO KUSUMO
67. KYUNG HWA LEE
68. INDAHJU LIANGSIH
69. FRANSISCA LANNY WINAT LIEM
70. EKAWATI LIGO
71. YAN KOEN LIM
72. SUSANDHINI LIMAM
73. JUANITA LIMANTARA
74. GRAYSON HERBERT LINAKSITA
75. KATHLEEN FULVIA LINAKSITA
76. TONY LINAKSITA
77. SRI LINGGARWATI
78. MEGAWATI
79. MERRY
80. ABDULLAH MUTTAQIN
81. ANDRIAN NOVENTUS
82. DONNA INDAH NURWATIE
83. LANNY OCTAVANI
84. JIMMY SENTOSA WINATA OEI
85. DENNY OCTAVIANUS
86. SHERLLY ONG
87. SOAMIK SAERAN PAI
88. SEONGBEOM PARK
89. GUSTI AYU PUTRIYAN PERMATA
90. ANDRI WIJAYA POO
91. CHRISTIEN AULIA PORNOMO
92. FEYNY YUFINA PORNOMO
93. RUTH NATALIA M PUSPITASARI
94. GUSTI AYU MADI KEISH PUTRI
95. MULYAHADIKUSUMA RANUDIWJOJO
96. RIA RATNA SARI
97. SIRI ROMLAH
98. FANDI SANTOSO
99. KARINA SANTOSO
100. NIKOLAS THEO SANTOSO
101. LIA SARI
102. YONATHAN SEBASTIAN
103. SAMUEL JOYO SENTOSO
104. MAWIN SHOLEH
105. SOETIKNO SIA
106. GUSTI MADE BOBI SIDARTHA
107. CHUNG HEI SII
108. ELBERT SOESILO
109. ARIS SOETANTO
110. LINA SOETANTO
111. CINDY CLARISSA SOETJIPTO
112. KEVIN ALEXANDER SOETJIPTO
113. RUDY SOETJIPTO
114. YENNI SOEWONO
115. BUDI SU
116. KARTIKA DEWI SUKIANTO
117. SULASTRI
118. HANNY SURYAATMAJA
119. DJOKO SUSENO
120. NAURA KANITA ROSADA SUSENO
121. SUSIYAH
122. HERMANTO TANUS
123. THE MEIJI THEJAKUSUMA
124. HENDRA THEODORUS
125. RAYNALDI THEODORUS
126. WINOYA THEODORUS
127. SURIANI USIN
128. SOESILO UTOMO
129. ENY WAHYUNI
130. OKTARIA WEN
131. BHIMA ALY WICAKSANA
132. ANDREAS WIDJAJA
133. DJOKO SATRYO TANOE WIDJAJA
134. EKO WIDJAJA
135. FLORENTINA MARIA WIDODO
136. NANANG PRIYO WIDODO
137. ANNA WIDYAWATI
138. ALFRED WIDJAYA
139. BOB HARTANTO WIJAYA
140. MARILYN WIJAYA
141. WILLIAM WIJAYA
142. INDAR PRASETYO WIJAYA KWEE
143. BOBY HARTANTO WINATA
144. INGRID JESSICA WINATA
145. NATALINA WUNTARJO
146. INDRI YANI
147. JOU YOGKI
148. ELISABETH YOUVITA
149. BRIAN YOUVITO
150. JOU CHRISTINE YUANITA
151. ALBERTUS EKA SURYA YULIANTO
152. INDRA YULIANTO
153. STEPHANIE YULIANTO
154. INDAH YUNI
155. Seorang bayi

Kru:
Pilot: KAPTEN IRIANTO
First Officer: REMI EMMANUEL PLESEL
Senior Flight Attendant: WANTI SETIAWATI
Flight Attendant:
KHAIRUNISA HAIDAR FAUZI
OSCAR DESANO
WISMOYO ARI PRAMBUDI
TEKNISI MESIN: SAIFUL RAKHMAD

40 Jenazah Korban AirAsia QZ8501 Dievakuasi KRI Bung Tomo

Sebanyak 40 jenazah penumpang AirAsia QZ 8501 masuk KRI Bung Tomo. Itu tersiar dari radio TNI AL. Jumlahnya, menurut laporan radio TNI AL terus bertambah.

“Berdasarkan radio TNI AL, dilaporkan bahwa KRI Bung Tomo telah mengangkat 40 jenazah dan jumlahnya terus bertambah. Mereka sangat sibuk sekarang,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Manahan Simorangkir seperti dikutip dari laman The Strait Times, Selasa 30 Desember 2014.

Sebelumnya, Tim TNI AL dilaporkan menemukan enam jasad dan telah mengevakuasi tiga di antaranya. Namun setelah penemuan itu, ternyata mereka kembali menemukan jasad-jasad lainnya.

Pesawat AirAsia rute Surabaya-Singapura berisi 155 penumpang dan 7 kru ini lepas landas dari Bandara Juanda pada pukul 05.35 WIB pada Minggu pagi 28 Desember. Namun pesawat itu kemudian dinyatakan hilang.

Tim SAR melakukan pencarian sejak hari Minggu itu. Upaya pencarian tersebut baru berhasil pada hari ini. Tim SAR menemukan serpihan pesawat dan sejumlah jasad di perairan dekat Pangkalanbun, Kalimantan Tengah.

Banyak yang Pingsan, Disiapkan Psikolog

SURABAYA - Kabar penemuan serpihan pesawat dan jenazah penumpang Air Asia membuat keluarga yang bersiaga di crisis center Bandara Juanda histeris. Mereka menangis dan saling berpelukan. Setelah itu, banyak yang jatuh pingsan.

Mereka segera dilarikan ke posko kesehatan yang disiagakan Pemkot Surabaya. Mereka memperoleh pengobatan.

Selain pengobatan fisik, ada juga ruang khusus psikolog. Sebab, pasca penyampaian terkait penemuan dugaan jenazah, anggota keluarga penumpang banyak yang menangis histeris. Mereka segera dibawa menuju posko psikolog.

Kepala Dinas Psikologi TNI AL Letkol Laut (KH) Anon Susilo Hadi MSc mengatakan, banyak keluarga penumpang yang menampilkan sikap sedih dan bingung. Selain itu, mereka dalam kondisi shock.

Jika tidak segera diatasi, mereka bisa depresi. "Ada yang menangis keras sekali. Ini harus diobservasi. Kalau ada anggota keluarga dengan gejala ini, mereka ditawari untuk ke ruang psikolog. Obat tidak hanya pakai suntikan atau infus," ujarnya.

Menurut Anon, pihaknya sudah mengantisipasi jika penumpang ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa. Tim psikolog langsung bergerak menenangkan anggota keluarga. Nantinya, penanganan psikolog tidak akan berhenti pasca kejadian. Ada tindakan pemulihan. Saat ini, tim psikolog masih merumuskan teknis pemulihan tersebut.

Direktur RSUD dr Soetomo dr Dodo Anondo MPH mengaku siap membantu melakukan tindakan identifikasi jenazah segera setelah mendapat kepastian kapan jenazah dipulangkan ke Surabaya.

Sementara itu, Direktur Utama PT Angkasa Pura (AP) I Tommy Soetomo menambahkan, pihaknya telah menyiapkan akomodasi lengkap kepada keluarga penumpang. Selain penginapan dan makanan, AP juga menyediakan rohaniawan.

Sebelum menerima kabar penemuan tersebut, para keluarga terus memantau melalui live streaming siaran televisi. Mereka bisa melihat langsung perkembangan pencarian yang dilakukan Basarnas dengan jangka update setiap tiga jam.

Awalnya, crisis center juga sempat akan dipindahkan ke hotel di tengah kota. Namun, mereka menolak. Sebab, keluarga tidak bisa memantau secara langsung pencarian pesawat. Rencananya, hari ini (31/12), Air Asia akan menyediakan fasilitas penerbangan menuju lokasi kepada keluarga.

Namun, rencana itu batal. Sebab, semua penanganan akan difokuskan di Surabaya. "Awalnya kami akan siapkan satu pesawat tipe air bus 320 kapasitas 180 orang. Untuk keluarga dan awak media menuju search area," ujarnya.

Sebelum ditemukan, Basarnas melebarkan daerah pencarian dari 11 menjadi 13 sektor. Upaya itu membawa keberhasilan sekaligus kabar duka bagi keluarga penumpang. Dengan ditemukannya serpihan dan dugaan jenazah, Kepala Basarnas Jatim M. Hernanto mengatakan, area pencarian akan dipersempit.

"Secara teknis serpihan itu kan di permukaan laut. Bangkai kapal dan jenazah yang lain bisa terbawa arus. Kami akan terus mencari," ucapnya.

Salah satu keluarga penumpang adalah Haidar Fauzi. Pria tersebut adalah ayah Khairunnisa. Dia merupakan salah satu pramugari Air Asia yang turut menjadi korban dalam penerbangan itu. Haidar harus menempuh perjalanan jauh dari Palembang menuju Surabaya. Sebab, kediamannya berada di provinsi Sulawesi Selatan itu.

"Awalnya saya berharap kembali dengan selamat. Tapi kalau memang Tuhan berkehendak lain, saya terima," ujarnya dengan wajah sembab.

Pengamat: Pesawat Jatuh Karena Mesin Mati

JAKARTA - Penemuan sejumlah serpihan dan korban penumpang pesawat Air Asia makin mengerucutkan analisa penyebab jatuhnya pesawat.

Meski masih harus menunggu proses penyelidikan resmi, namun kemungkinan pesawat mengalami disintegrasi (pecah di atas) dinilai makin kecil.

Pengamat penerbangan Dudi Sudibyo menilai potensi pesawat jatuh dan masuk ke dalam laut lebih besar saat ini.

"Kalau pesawat pecah di atas, seharusnya penemuan serpihan bisa satu atau dua hari yang lalu," kata Dudi saat dihubungi kemarin.

Dia memperkirakan sejumlah bagian pesawat baru lepas dan terangkat ke atas setelah tidak kuat menahan tekanan di kedalaman laut tertentu. Karena itu, serpihan tidak langsung bisa ditemukan sesaat setelah lost contact.

"Tapi, ini baru kemungkinan, selebihnya kita tunggu saja hasil penyelidikan nanti," imbuh Dudi.

Terpisah, mantan test pilot PT Dirgantara Indonesia (DI) Capt Sumarwoto menguatkan tentang kemungkinan tersebut. Menurut dia, kemungkinan pesawat disintegerasi saat masih ada di ketinggian makin tipis.

Hal itu, lanjut dia, juga bisa dianalisis dari bentuk serpihan pesawat dan korban yang relatif masih utuh.

"Pesawat mengalami impact (benturan) ketika jatuh juga kemungkinan tidak. Karena kalau ada impact bentuknya akan tidak karu-karuan, termasuk ketika (jmpact) ke air sekalipun," kata Sumarwoto.

Kecilnya kemungkinan pesawat mengalami disintegrasi dan impact tersebut, tambah dia, kemudian juga menguatkan penyebab kecelakaan pesawat karena mesin yang mati. Yaitu, ketika pesawat mungkin telah terjebak di awan Cumulonimbus (CB) yang mengandung listrik dan es.

Secara umum, beber dia, pesawat yang masuk di awan CB bisa mengalami icing. Ketika hal itu terjadi, kompresor di mesin pesawat bisa sampai rompal karenanya. "Kemungkinannya sih makin mengarah ke mesin mati karena icing itu," imbuhnya.

Dengan melihat bentuk serpihan dan korban, dia menilai, kemungkinan lainnya yang juga mungkin menjadi penyebab kecelakaan akibat unusual attitude juga menjadi makin tipis. Pasalnya, ketika terjadi unusual attitude maka arah pesawat ketika jatuh tidak beraturan. Impact yang keras bakal sulit terhidarkan."

Secara garis besar, unusual attitude terjadi ketika sistem auto pilot pesawat sudah tidak mampu lagi mengendalikan pesawat. Hal itu juga bisa terjadi ketika pesawat masuk ke awan CB yang juga memiliki karakter gerakan udara ke atas dan ke bawah di dalamnya yang begitu kuat.

Turbulensi akan terjadi sangat parah. Pesawat bisa bergerak dengan hidung yang mendongak ekstrem ke atas dan pada akhirnya terjadi stall (jatuh) dengan bentuk spiral.

"Dari dua kemungkinan yang pernah saya sampaikan, arahnya sih karena mesin mati akibat icing," tandasnya. (dyn)

Analisa Penyebab dan Proses Jatuhnya Pesawat Air Asia
(Asumsi Masuk Awan CB)

1. Mesin mati karena icing (kemungkinan besar)
- Mesin kemasukan udara yang mengandung es
- Mesin kemudian rusak dan mati
- Pesawat jatuh
- Pilot masih dimungkinkan mengatur arah pesawat untuk meminimalisir impact
- Pesawat tenggelam
- Di kedalaman tertentu dengan tekanan tinggi, sejumlah bagian pesawat terlepas
- Bagian yang terlepas itu lalu mengapung

2. Unusual Attitude (kemungkinan kecil)
- Pesawat mengalami turbulensi hebat
- Hidung pesawat naik ekstrem ke atas
- Di titik tertentu, pesawat stall (jatuh) dengan bentuk spiral
- Arah pesawat sulit dikontrol
- Potensi impact tinggi
- Pesawat bisa pecah saat terjadi benturan
- Pecahan pesawat bisa langsung mengapung

Sumber: dikumpulkan dari berbagai keterangan pengamat penerbangan

Siapkan 161 Peti, 60 Ambulans, dan 3 RS, Hari Ini Identifikasi Dimulai di Pangkalan Bun

PANGKALAN BUN - Basarnas akhirnya memutuskan untuk mengevakuasi jenazah penumpang AirAsia QZ8501 ke Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Bupati Kotawaringin Barat Ujang Iskandar menyatakan, setelah ditemukannya barang-barang dan jenazah penumpang, kemarin malam pihaknya menyiapkan 161 peti jenazah, 60 ambulans, dan tiga rumah sakit untuk pembersihan serta identifikasi korban.

Dia menyatakan, sejak berita hilangnya AirAsia mencuat, pemkab berkoordinasi dengan Basarnas untuk membuat posko, baik di bandara maupun di pesisir.

"Setelah ada informasi penemuan barang dan jenazah, kami melakukan sejumlah langkah karena posisi temuan itu. Meski tidak masuk wilayah Kotawaringin Barat, lokasinya tidak jauh dari Pangkalan Bun," jelasnya.

Dari pantauan Jawa Pos di Pangkalan Bun, puluhan ambulans telah disiagakan di sekitar posko di Bandara Iskandar. Setelah dinyatakan jenazah baru hari ini dibawa ke Pangkalan Bun, beberapa ambulans tampak meninggalkan lokasi. Ujang mengungkapkan, tiga rumah sakit yang telah disiapkan untuk mengevakuasi korban sangat memadai.

"Ada tiga rumah sakit, yakni RSUD Sultan Imanuddin, RS Kusuma, dan RS Bunda. Jarak ketiganya dari bandara juga tidak jauh, sekitar 10 menit," jelasnya.

Sejumlah keperluan untuk keluarga korban juga telah disediakan pemkab. Untuk menuju ke Pangkalan Bun, mereka bisa menumpang pesawat Kalstar dan Trigana yang setiap hari melayani penerbangan Surabaya dan Jakarta.

Sementara itu, soal identifikasi jenazah, hingga kemarin malam belum ada kepastian. SAR Mission Coordinator Basarnas Marsda TNI Sunarbowo Sandi menyatakan, sesuai dengan arahan awal kepala Basarnas dan wakil presiden Minggu (28/12), seluruh korban akan dibawa ke Surabaya.

"Sesuai dengan arahan, penanganan awal di sini, terus dibawa ke Surabaya untuk penanganan akhir oleh DVI (Disaster Victim Identification)," ujarnya.

Jika prosedurnya seperti itu, jenazah yang dibawa ke Pangkalan Bun hanya akan dibersihkan, dimasukkan ke body bag, baru dipeti. "Setelah itu, kami bawa dengan Hercules, CN, atau Cassa. Menyesuaikan dengan jumlah jenazah saja," ujar Sunarbowo.

Di lain pihak, Mabes Polri mengirimkan sejumlah dokter kepolisian yang tergabung dalam Disaster Victim Identification (DVI) Indonesia ke Pangkalan Bun. Salah seorang yang dikirim adalah AKBP Sumy Hasrty Purwanti yang pernah terlibat dalam identifikasi korban pesawat Malaysia Airlines MH17 yang dirudal di Ukraina.

"Sesuai perintah Kapolri, saya diminta ke Pangkalan Bun. Besok (hari ini) berangkat dengan pesawat dari Semarang pukul 11.00," ujar Hastry kepada Jawa Pos.

Menurut dia, identifikasi lebih baik dilakukan di Pangkalan Bun yang tidak jauh dari lokasi penemuan. "Kalau nanti jenazah yang belum teridentifikasi dibawa ke Surabaya, akan mengganggu psikologis keluarga korban," jelasnya.

Berdasar pengalaman Hastry, tidak jarang keluarga ingin segera mendapatkan jenazah kerabatnya. Padahal, proses identifikasi belum tuntas.

"Nanti keluarga yang belum mendapatkan jenazah keluarganya juga akan ribut," papar perempuan yang juga pernah menangani identifikasi kecelakaan pesawat Sukhoi tersebut.

Melihat kondisi jenazah dari tayangan di televisi, Hastry memperkirakan identifikasi akan lebih mudah daripada kecelakaan Sukhoi maupun MH17.

"Selama jenazah utuh, meski kondisinya sudah membusuk, prosesnya lebih cepat," katanya.

Prosedur awal, DVI akan mengawetkan jenazah korban dengan formalin. "Kalau sudah diformalin, jenazah yang meninggal di laut seperti itu akan tahan tiga sampai enam bulan," jelasnya.

Setelah proses itu, dokter melakukan identifikasi primer dengan pemeriksaan luar seperti sidik jari, jenis kelamin, usia, dan pengenalan ciri-ciri spesifik korban.

Karena itu, Hastry berharap keluarga korban menyiapkan segala sesuatu terkait dengan identitas kerabat mereka yang menjadi penumpang AirAsia QZ8501. "Identitas yang ada sidik jarinya harus dibawa untuk memudahkan kami. Karena ini penerbangan luar negeri, paspor sudah pasti dibawa korban. Jadi, bisa ijazah atau yang lain. Syukur-syukur ada data tentang gigi korban," ujarnya.

Foto yang memperlihatkan ciri spesifik korban juga harus disediakan. Misalnya, tahi lalat, tato, atau bekas luka. Jika tidak ada identitas karena semua keluarga menjadi korban, tim identifikasi akan mengambil sampel DNA dari saudara kandung.

Sunarbowo menambahkan, setelah proses di Pangkalan Bun selesai, jenazah dibawa ke Surabaya. Agar efektif dan efisien, jenazah akan dibawa dengan pesawat Hercules, CN, atau Cassa. Dia meminta TNI-AU mensterilkan pesawat sebelum mengangkut jenazah.

Dia juga berharap hari ini tim bisa menemukan jenazah lebih banyak. Sebab, sebelumnya terlihat dari pesawat Hercules TNI-AU beberapa jenazah yang mengapung. Namun, pengambilan jenazah terkendala cuaca yang buruk.

Menurut Sunarbowo, beberapa jenazah dan barang penumpang yang belum diambil berada di area pencarian yang telah diperluas, yakni di sektor 12 dan 13. Evakuasi melalui pesawat kembali dilakukan pagi ini sekitar pukul 06.00. "Kalau kapal, sampai malam ini (tadi malam) juga masih bergerak," ungkapnya.

Sementara itu, Wakil Komandan KRI Bung Tomo Letkol Laut (P) Ashari menyatakan, kapal tersebut tidak didesain untuk membawa jenazah. Karena itu, jenazah yang ditemukan hanya bisa difasilitasi dengan kantong jenazah. Artinya, jenazah juga harus segera diawetkan.

Posisi yang terdekat tentu Pangkalan Bun. "Namun, di dalam KRI itu, kami juga membawa dokter dari Surabaya," jelasnya.

Pagi Ini Tiga Jenazah Diangkut Heli

PANGKALAN BUN – Tiga jenazah yang diduga korban pesawat AirAsia, yakni perempuan dan satu laki-laki, belum bisa dievakuasi dan masih berada diatas kapal KRI Bung Tomo.

Rencananya jenazah itu akan diterbangkan ke Lanud Iskandar Rabu (31/12) pagi.

"Sementara masih di kapal KRI, besok (hari ini, red) baru diangkat melalui Heli kemudian dibawa ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun," kata Komandan Lanud Iskandar Letkol Pnb Jhonson Henrico Simatupang, tadi malam.

Sementara itu, Jasril dari Basarnas menambahkan, tiga jasad yang sudah diamankan sesuai rencana akan diangkut melalui udara sekitar pukul 08.00 WIB.

Rencananya, setelah sampai di Lanud Iskandar, akan dibawa ke Rumah Sakit Sultan Imanuddin Pangkalan Bun. "Setelah dari RSUD Sultan Imanuddin kemungkinan akan dibawa ke Jawa," jelasnya.

Sementara itu, hingga tadi malam, tim dari Basarnas terus berdatangan melalui Bandara Iskandar Pangkalan Bun. Petugas itu didatangkan untuk membantu evakuasi para korban pesawat AirAsia.

Dari informasi yang berhasil dihimpun Radar Sampit (Grup JPNN), tim Basarnas, yang datang merupakan tim khusus untuk penyelam yang rencananya akan diterjunkan di lokasi yang menjadi area pencarian serpihan pesawat.

Jenazah Ditayangkan, Tiga Orang Pingsan

SURABAYA—Kabar ditemukannya pesawat AirAsia QZ8501 menjadikan suasana di posko informasi ramai. Ada yang merasa lega, tapi banyak juga yang shock mendengar kabar tersebut. Tim kesehatan pun langsung bersiaga di lokasi.

Kabar ditemukannya pesawat yang mengangkut 155 penumpang itu diketahui keluarga korban dari televisi di posko informasi. Pandangan mereka tertuju kepada televisi yang menempel di dinding ruangan tersebut.

Tampak salah satu stasiun tv menampilkan gambar tim mengevakuasi jenazah di tengah lautan. Spontan keluarga korban menangis ketika mendengar informasi itu. Sedikitnya tiga orang pingsan.

Mereka langsung dievakuasi ke ruangan berbeda. Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tampak ikut membopong salah seorang keluarga korban, yakni keluarga Andre yang masih berusia 13 tahun.

Penemuan pesawat memang membuat mereka lega. Paling tidak, ada kepastian lokasi pesawat tersebut. Namun, rasa sedih tetap tidak bisa ditinggalkan. Apalagi, potensi selamat sangat kecil.

”Kami di sini mencoba membesarkan hati mereka. Karena itu, tim dari posko langsung disiagakan di sini,” ucap Risma, sapaan Tri Rismaharini.

Selain tiga orang yang pingsan, ada beberapa keluarga korban yang shock. Mereka juga dibawa ke ruang posko Disaster Victim Investigation (DVI) Polda Jatim. Bambang, keluarga korban Bhina Aly Wicaksana, mengatakan bahwa kabar ditemukannya pesawat membuatnya terkejut. Apalagi, ada jenazah yang sudah ditemukan. ”Kami jelas bersedih,” ujarnya.

Bambang menceritakan, sang keponakan sudah lama mengidamkan perjalanan tersebut. Dia terlihat bersemangat sehari sebelum berangkat.

Bahkan, Minggu dini hari dia sudah berangkat ke Bandara Internasional Juanda. ”Tidak menyangka ada musibah seperti ini,” ungkapnya.

Kini Bambang dan keluarga korban lainnya menunggu kepastian evakuasi di Pangkalan Bun. Sebenarnya, ada keinginan untuk melihat langsung proses evakuasi tersebut. Namun, pihak keluarga masih menunggu informasi dari maskapai yang berencana menyiapkan armada untuk ke sana.

Sementara itu, sedikitnya 15 keluarga korban telah menyerahkan data pribadi korban kepada DVI. Data tersebut berupa nama, alamat, serta foto pribadi korban.

Kepala DVI Polda Jatim Kombespol Budiono menyiagakan 24 ambulans untuk melakukan evakuasi. Armada tersebut bersiaga di Juanda mulai tadi malam. ”Kami masih menunggu informasi dari Jakarta,” ucapnya.

Kepala Basarnas Jatim Agus Hernanto menjelaskan, proses evakuasi berlangsung dari titik lokasi ke Pangkalan Bun, lalu ke Surabaya. ”Sesampai di Surabaya dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara,” ujarnya.

Dari Foto Jawa Pos, TNI - AU Temukan Serpihan dan Jenazah

PENCARIAN pesawat dan penumpang AirAsia oleh TNI Angkatan Udara (TNI-AU) mulai membuahkan hasil. Tim operasi menemukan serpihan pesawat dan empat jenazah yang diduga penumpang AirAsia di Selat Karimata, sebelah timur Perairan Tanjung Pandan. Lokasi itu berjarak 105 nautical mile (NM) dari Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah.

Ada dua pesawat yang meluncur ke lokasi pencarian, yakni Hercules dan Cassa CN1295

Kedua pesawat berangkat sekitar pukul 06.00 dari Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma. Jawa Pos mengikuti pencarian dengan menggunakan pesawat Hercules.

Dua jam kemudian, pesawat yang dipiloti Mayor Penerbang Akal Juang tersebut mendeteksi barang yang mengapung di laut. Barang itu diduga merupakan serpihan pesawat AirAsia.

Fotografer Jawa Pos Hendra Eka yang berada di kokpit kemudian memotret lokasi yang diprediksi terdapat serpihan. Tidak disangka, setelah diperbesar atau di-zoom, ternyata di gambar tersebut tampak sosok tubuh manusia. Foto itu lantas diperlihatkan kepada Kopilot Hercules Lettu Erwin Tri Prabowo.

Akhirnya, petugas memprediksi itu merupakan jenazah penumpang AirAsia. Untuk memastikan kembali, Erwin Tri Prabowo memotret dengan menggunakan kamera Hendra Eka dan tertangkap adanya serpihan pesawat serta jenazah lainnya.

Tim operasi TNI-AU lantas memutuskan untuk mengisi bahan bakar di Lapangan Udara TNI-AU Iskandar, Pangkalan Bun, Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Begitu pesawat mendarat, Hendra Eka diminta petugas untuk menunjukkan foto tersebut kepada Panglima Komando Operasi I (Pangkoops) TNI-AU Marsda Dwi Putranto. Sejumlah media elektronik juga menyorot foto yang diambil Hendra tersebut.

Dengan adanya foto itu, Pangkoops akhirnya memutuskan untuk menggunakan helikopter guna mencari dan mengevakuasi serpihan serta jenazah yang diduga penumpang pesawat AirAsia.

Dwi Putranto menjelaskan, dalam helikopter tersebut, turut pula anggota Pasukan Khas Angkatan Udara (Paskhas). ''Kami berupaya mengevakuasi dengan helikopter. Nanti anggota pasukan khusus ini yang mengambil jenazah kalau memang ditemukan,'' ujarnya.

Selanjutnya, tim operasi kembali meluncur ke lokasi serpihan pesawat dan jenazah. Tim yang dipimpin Akal Juang tersebut kembali mendapati jenazah. Ada sejumlah jenazah. Salah satu jenazah menggunakan celana hitam bersama tiga jenazah. ''Mereka terlihat bergandengan tangan,'' tutur Erwin Tri.

Titik koordinat temuan itu berada di South 03 derajat 56 menit 388 detik dan East 110 derajat 29 menit 987 detik. Dua titik koordinat tersebut lantas diinformasikan ke KRI Bung Tomo. Berdasar informasi tersebut, KRI Bung Tomo dan helikopter Bell akhirnya berhasil mengevakuasi jenazah dan serpihan pesawat. Ada dua jenazah yang berhasil dievakuasi.

Sementara itu, Kepala Dinas Penerangan TNI-AU Marsma Hadi Tjahyono menuturkan, bantuan fotografer Hendra Eka memang sangat bagus. Sebab, informasi bisa langsung didapatkan dari lokasi. ''Saya melihat wartawan ini sebagai bagian dari tim SAR untuk membantu. Semua media bisa memberikan berita yang se­benar-benarnya,'' katanya.

Dia menegaskan, TNI-AU tidak akan berhenti di situ. Target mereka adalah menemukan kotak hitam pesawat AirAsia. Dengan demikian, diharapkan penyebab kecelakaan itu bisa terungkap dengan jelas. ''Masyarakat perlu mengetahui penyebab kecelakaan. Untuk lembaga penerbangan, ini penting untuk antisipasi ke depan,'' tegasnya di Lapangan Udara Halim Perdana Kusuma.

Hujan, Pencarian Tetap Jalan

PANGKALAN BUN - Jajaran TNI dari Korem 102 Panju Panjung sejak sekitar pukul 05.00 WIB tadi sudah mulai melakukan persiapan evakuasi korban jatuhnya pesawat AirAsia QZ 8501 yang jatuh di Teluk Karimata.

Komandan Korem Kol Kav Sulaiman Agusto memimpin langsung, dengan menggunakan kapal Safety First akan melakukan pencarian korban dengan jarak tempuh sekitar tiga jam.

Pantuan Kalteng Pos (Grup JPNN), kondisi hujan yang mulai turun menjadi salah satu kendala untuk melakukan evakuasi, sehingga agak sulit mencapai lokasi.

Tetapi karena tugas yang harus diemban sehingga pantang mundur. Tim berangkat pada pukul 06.00 Wib untuk menuju lokasi.

Bisa Jadi Pilot AirAsia QZ8501 Sudah Memberikan Peringatan ke Penumpang, Analisis Dugaan Penyebab Kecelakaan AirAsia

PENYEBAB hilang dan jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 memang bisa diketahui setelah data blackbox dibuka. Namun beberapa pengamat penerbangan memberikan analisa penyebab musibah di penghujung tahun 2014 itu. Pengamat penerbangan Alvin Lie mengatakan, berdasar kondisi serpihan badan pesawat yang berada dalam lokasi yang tidak terlalu jauh, sangat mungkin pesawat baru pecah setelah berbenturan dengan air.

''Jadi, kecil kemungkinan pesawat meledak di udara,'' ujarnya.

Apalagi, lanjut dia, jika benar beberapa jenazah penumpang yang ditemukan sudah menggunakan pelampung atau life vest, itu berarti ada jeda waktu antara kondisi pesawat saat terjadi turbulensi hingga akhirnya tercebur ke laut. ''Bisa jadi pilot atau kru pesawat sudah memberikan peringatan kepada penumpang,'' katanya.

Analisis terkait jatuhnya AirAsia QZ 8501 juga disampaikan pengamat penerbangan terkemuka di dunia Geoffrey Thomas. Dalam rekaman di YouTube, pengamat yang menganalisis berbagai kasus kecelakaan pesawat di dunia tersebut menjawab pertanyaan krusial terkait dengan dugaan penyebab kecelakaan pesawat serta mengapa pilot tidak sempat mengirimkan sinyal darurat (distress call).

Menurut dia, kasus kecelakaan AirAsia diduga mirip dengan kasus kecelakaan pesawat Air France AF447 yang jatuh di Samudra Atlantik pada 2009 saat dalam perjalanan dari Rio de Janeiro (Brasil) ke Paris (Perancis). Ketika itu, pesawat juga menghadapi cuaca buruk. Pilot berusaha menaikkan ketinggian pesawat, namun kecepatannya kurang sehingga terjadi stall atau macet pada sistem aerodinamika. Akibatnya, pesawat tidak terkendali dan jatuh ke laut.

Lalu, mengapa sampai tidak ada distress call? Geoffrey menganalisis, dalam kondisi kehilangan kontrol pesawat, yang biasa dilakukan pilot kali pertama ialah berupaya keras mengendalikan laju pesawat, lalu membawa keluar dari cuaca buruk, barulah berkomunikasi dengan ATC.

''Kondisinya persis dengan Air France AF447. Pilot tidak sempat mengirimkan distress call karena berusaha sekuat tenaga mengendalikan pesawat hingga akhirnya terjadi benturan di laut. Ini juga yang saya kira terjadi pada AirAsia,'' katanya.

Sudah Enam Jenazah Ditemukan, Satu Pramugari

JAKARTA--Pagi ini tim gabungan bersama Basarnas kembali menemukan tiga jenazah dari penumpang pesawat AirAsia QZ8501. Tiga jenazah terdiri dari dua laki dan satu perempuan.

"Satu perempuan ini berpakaian pramugrari," ujar Kepala Basarnas Marsdya TNI F. Henry Bambang Sulistyo dalam jumpa pers di kantornya, Jakarta Pusat, Rabu, (31/12). Sulistyo belum menyampaikan identitas para korban tersebut.

Menurut Sulistyo dengan penemuan tersebut maka saat ini jumlah jenazah yang ditemukan total 6 orang. Tiga lainnnya sudah ditemukan pada Selasa kemarin.

"Jumlahnya masih akan terus berubah-ubah sesuai hasil temuan," sambungnya.

Pencarian korban, kata dia, terganggu cuaca buruk. Namun, tetap akan dilaksanakan dengan menyesuaikan pada kondisi cuaca.

Kemenhub Tak Tahu Alasan Pesawat tanpa Emergency Manual

SIKAP Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang membiarkan pesawat Airbus A320 PK-AXC terbang tanpa membawa emergency manual seharusnya diusut. Sebab, dokumen yang diwajibkan EASA (Badan Keselamatan Penerbangan Eropa) sejak 11 Desember 2014 itu sangat penting dalam keselamatan penerbangan pesawat Airbus.

Plt Dirjen Perhubungan Udara Djoko Murjatmodjo mengakui bahwa dokumen tersebut tidak dibawa AirAsia. Namun, pihaknya sampai kini belum tahu alasannya. Djoko mengatakan, nanti kasus itu dipelajari. Sedangkan wewenang untuk menyelidiki berada di Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). "Itu urusan KNKT. Kami tidak berwenang," jelasnya.

Sebelumnya, Direktur Manajemen Lalu Lintas Penerbangan Air Navigation Indoenesia Arman mengatakan, Kemenhub tidak seharusnya membiarkan begitu saja ketika pesawat dengan nomor penerbangan QZ8501 tersebut akan terbang dari Surabaya menuju Singapura Minggu lalu (28/12). "Itu dokumen penting menyangkut keselamatan penerbangan," kata Amran kemarin (30/12).

Sebagaimana diberitakan, EASA pada 9 Desember 2014 merilis emergency airworthiness directive (EAD) atau perintah terkait kelaikan terbang saat kondisi darurat. Dua hari kemudian aturan tersebut berlaku efektif. Perintah itu dikeluarkan untuk seluruh pesawat Airbus jenis A318, A319, A320, dan A321.

Aturan itu diterbitkan untuk merespons insiden yang terjadi pada sebuah pesawat Airbus jenis A321. Pesawat tersebut mengalami gangguan pada mekanisme angle of attack (AOA) saat mencoba naik ke posisi yang lebih tinggi. Insiden itu terjadi saat beberapa sensor membeku ketika melalui cuaca buruk. EASA tidak memerinci penerbangan yang terganggu tersebut, hanya menyatakan bahwa akhirnya pesawat bisa mendarat dengan selamat.

Sumber : jpnn.com

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 6 + 5 ?