Namun, yang paling utama sebenarnya untuk membongkar jaringan ISIS dibutuhkan informasi dari masyarakat. Menurut Unggung, penangkapan enam orang calon anggota ISIS ini ditangkap melalui informasi dari warga.
”Kami dengan tiga pilar, Babinkamtibmas, babinsa dan muspida,” terangnya.
Keenam anggota ISIS yang ditangkap, tiga di antaranya satu keluarga, Muhammad Imran alias Abdul Jabbar Rauf Sutarman, 48; Nurlaili alias Ratna Pratiwi Sulaiman, 34; dan Ainun Mardiyah alias Nabil Ayip Jabbar, 10. Tiga lainnya, Ashar alias Ashar Jamil Lahae, 19; Muhammad Ashar Bachtiar, 48; dan Ahmad Abdullah Halido Bunaha, 17.
Bagian lain, Kabagpenum Mabes Polri Kombespol Rikwanto menuturkan, sebenarnya beberapa waktu lalu sudah ada pengamanan terhadap sejumlah orang yang diidentifikasi positif merupakan anggota ISIS.
”Tapi, tidak menutup kemungkinan, masih ada anggota ISI yang lainnya. Karena itu, semua harus didalami,” tuturnya.
Yenny Wahid: Fisik Anggota Banser Tangguh, Siap Ladeni ISIS
JAKARTA - Ancaman Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tak membuat Banser dan Ansor keder. Bahkan organisasi sayap Nahdlatul Ulama (NU) itu menyatakan kesiapan untuk memerangi ISIS di Indonesia jika pemerintah meminta dua organisasi itu untuk turun tangan.
Hal itu disampaikan oleh Yenny Wahid kemarin (27/12) saat peringatan Haul Gus Dur ke 5 di Ciganjur. Menurut Yeny, Banser dan Ansor tidak perlu terlalu memperhatikan tantangan dari ISIS sebagai ancaman serius. Sebab itu hal yang biasa. "Biasa itu. Kan Banser dan Ansor kan swasta. Mereka (ISIS, red) juga swasta," jelasnya.
Namun, jika organisasi Islam radikal itu menantang TNI dan Polri, hal itu tidak bisa dipandang sepele. Menurut Putri Gus Dur itu, tantangan ISIS merupakan bentuk perlawanan pada negara alias makar.
"Kalau menantang TNI dan Polri, maka negara harus segera bersikap. Itu makar namanya," tegas Yenny.
Bahkan, dia mengaku, Banser dan Ansor siap turun membantu TNI dan Polri jika pemerintah meminta dua organisasi itu turun membantu. Menurut Yenny Banser dan Ansor sudah dibekali ketangguhan fisik untuk menghadapi setiap ancaman. "Kami selalu siap jika pemerintah meminta dukungan Ansor dan Banser," ucapnya.
Yenny berharap, negara segera melakukan pencegahan agar ISIS tidak masuk ke Indonesia. Caranya dengan pengawasan ketat pada setiap gerakan-gerakan kepemudaan dan sekolah-sekolah. Pasalnya, gerakan islam yang tidak toleran itu bisa masuk ke semua lini. Misalnya masuk lewat pesantren.
Selain itu, Yenny mengaku, Nahdlatul Ulama (NU) juga akan membantu pemerintah untuk mempertahankan NKRI. Sebab, terwujudnya keutuhan indonesia sesuai dengan tujuan berdirinya NU.
Salah satu cara untuk mencegah tumbuh suburnya ISIS yakni kyai NU selalu berkeliling ke seluruh penjuru Indonesia. Mereka menyebarkan konsep islam rahmatan lil alamin atau islam yang toleran pada sesama.
Agar penangkalan ISIS berjalan masif, Yenny berharap tidak hanya NU saja yang turun. Namun semua lapisan masyarakat harus membantu. Dan pemerintah, lanjutnya, harus selalu menyadarkan warganya bahwa ISIS merupakan gerakan yang mengancam NKRI.
Yenny mengatakan, ajaran yang disampaikan ISIS itu tidak sesuai dengan wajah islam sesungguhnya. Menurut dia, ISIS seperti penjahat yang merampas hak orang untuk hidup.
Dia mengibaratkan ISIS sama seperti rezim Taliban di Iraq. Pernah dalam satu hari 150 anak sekolah ditembaki sampai mati tanpa sebab yang jelas. "Begitu beringasnya mereka. Negara harus menjaga agar ISIS jangan sampai masuk ke Indonesia," jelas Yenny.
6 Nelayan Gabung ISIS, Ditangkap di Bandara Soetta, Kemungkinan Masih Ada Anggota ISIS Berkeliaran
JAKARTA – Pengaruh ajaran ISIS di Indonesia bukan isapan jempol. Buktinya, enam warga Bulukumba, Makasar, Sulawesi Selatan, rela pergi ke Suriah untuk bergabung menjadi mujahid. Namun, rencana mereka gagal. Subdit Jatanras Polda Metro Jaya yang mendapat informasi, keburu mengamankan ke-enam orang tersebut.
Tiga diantaranya satu keluarga, Muhammad Imran alias Abdul Jabbar Rauf Sutarman, 48; Nurlaili alias Ratna Pratiwi Sulaiman, 34; dan Ainun Mardiyah alias Nabil Ayip Jabbar, 10. Tiga lainnya, Ashar alias Ashar Jamil Lahae, 19; Muhammad Ashar Bachtiar, 48; dan Ahmad Abdullah Halido Bunaha, 17.
Keenamnya diamankan polisi pukul 03.00, di Terminal 2A Bandara Soekarno Hatta, Sabtu (27/12). Satu setengah jam sebelum jadwal keberangkatan pukul 04.30. Saat ditangkap, mereka sudah endorsement paspor. Mereka akan berangkat dengan pesawat Qatar Airways. Rencananya pesawat transit di Doha dengan tujuan Istanbul, Turki. Dari Turki rombongan rencananya baru menuju Suriah.
Dalam kasus ini, polisi juga mengamankan Muhammad Amin, 40, di rumahnya Cluster Zona Vivaldi, Legenda Wisata Cibubur, sekitar pukul 06.30, kemarin. Dia ditangkap karena memfasilitasi keberangkatan enam orang tersebut. Mulai dari penjemputan sampai pemberangkatan. Ternyata diduga ada pemalsuan dokumen juga dalam proses pembuatan paspor keenam orang itu.
Polisi menyita enam paspor miliki enam orang tersebut. Lima di antaranya dikeluarkan Imigrasi Makassar dan satunya dikeluarkan Imigrasi Palu. Barang bukti lain yang disita adalah enam handphone, tiga buah buku tabungan, korek api menyerupai pistol, dan beberapa buku yang berkaitan dengan jihad dan Daulah Khilafah.
Di antara buku tersebut berjudul risalah tauhid dan iman, muslimah berjihad, mereka mujahid tapi salah langkah, melawan pemikiran aksi bom Imam Samudra dan Noordin M. Top, kejahatan-kejahatan densus 88: menghadapi Islam dan umatnya, dan mengapa dan bagaimana densus 88 harus dibubarkan.
Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Rikwanto mengatakan, pihaknya masih mendalami keterkaitan mereka dengan organisasi ISIS tersebut. Sejauh ini mereka diduga membeli dokumen kelengkapan paspor palsu. Seperti KTP, KK, buku nikah, dan akta kelahiran. Dokumen tersebut lalu didaftarkan ke pihak imigrasi untuk pembuatan paspor. Dari pengakuan mereka harganya Rp 1 juta.
”Status mereka belum ada tersangka. Kami masih lakukan pemeriksaan. Termasuk meminta keterangan di Makassar terkait paspor,” kata Rikwanto saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (27/12).
Pusdiklat PPATK untuk Endus Pendanaan Terorisme
JAKARTA – Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) menyiapkan pusat pendidikan anti pencucian uang dan pendanaan terorisme.
Keberadaan lembaga itu diharapkan bisa meningkatkan kompetensi penyedia jasa keuangan, barang dan jasa.
’’Pembangunan pusat pendidikan dan pelatihan itu masuk dalam anggaran 2015,’’ ujar Wakil Ketua PPATK, Agus Santoso, kemarin (27/12).
Lembaga yang dibangun di Cimanggis itu dimaksudkan sebagai tempat peningkatan kompetensi para pelapor transaksi mencurigakan. Para pelapor itu selama ini kebanyakan penyedia jasa keuangan serta penyedia barang dan jasa.
’’Kami berharap pusat pelatihan itu bisa meningkatkan kepatuhan dan akurasi pelaporan transaksi mencurigakan,’’ papar Agus.
Selain disiapkan untuk penyedia jasa keuangan, lembaga itu dihadirkan untuk memberikan kesempatan bagi mereka yang kerap menjadi saksi ahli dalam kasus-kasus pencucian uang.
Pusdiklat tersebut juga menjadi melengkapi keberadaan JCLEC (Jakarta Center For Law Enforcement Cooperation) di Akademi Polisi, Semarang.
’’Kalau JCLEC untuk penegak hukum, mulai dari polisi, jaksa dan hakim. Kalau pusdiklat kami untuk para penyedia jasa keuangan yang selama ini menjadi pelapor di PPATK,’’ jelas Agus.
Agus mengatakan, seperti halnya anti pencucian uang dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pendanaan terorisme, penyedia jasa keuangan memiliki peranan penting.
’’Mereka membantu mengidentifikasi, melaporkan transaksi keuangan mencurigakan, harus paham penerapan prinsip mengenali pengguna jasa atau PMPJ,’’ terangnya.
Dari laporan transaksi keuangan mencurigakan itu, PPATK melakukan analisis. Apabila terdapat indikasi tindak pidana pendanaan terorisme maka hasil analisis atau hasil pemeriksaan PPATK disampaikan ke aparat penegak hukum.
Pendanaan terorisme berbeda dengan Anti Pencucian Uang. Dalam pendanaan terorisme penanganan perkaranya tidak mempertimbangkan apakah dananya bersumber dari kegiatan yang sah atau ilegal. Sedangkan dalam anti pencucian uang, sumber dananya dari hasil tindak pidana.
Anggota ISIS Ditangkap di Soetta, Jual Rumah Berangkat Suriah
JAKARTA - Kabidhumas Polda Metro Jaya Kombespol Rikwanto mengatakan enam orang terduga anggota ISIS yang ditangkap di Bandara Soekarno Hatta, Cengkareng, Banten bisa saja menjadi korban bujukan orang tertentu. Hingga akhirnya bersedia pergi ke Suriah dengan menggunakan dokumen palsu.
Dari hasil pemeriksaan, kata dia, alasan mereka pergi ke Suriah karena termotivasi ingin menjalankan syariat Islam secara utuh. Sebab, di Indonesia mereka merasa tidak bebas karena banyak agama lainnya.
”Tujuan lain sesampainya di sana mereka pindah warga negara menjadi daulah. Di sana juga dijanjikan bekerja serabutan dengan gaji Rp 20 juta,” kata Rikwanto, Sabtu (28/12).
Bisa jadi, kata dia, mereka adalah yang khusuk dalam beragama namun tidak matang-matang betul. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh kelompok tertentu dengan menjual jihad atau mengajak jalan cepat ke surga. Satu keluarga dari enam yang diamankan bahkan sampai menjual rumahnya. Di rekening mereka terdapat sekitar 90 dolar AS. Pekerjaan mereka adalah nelayani.
”Saat di bandara juga, mereka biasa saja. Tanpa koper seperti orang mau perjalanan jauh. Mereka benar-benar ingin hijrah pindah ke sana,” ujarnya.
WNI Gabung ISIS, Sudah Ada Mati Sahid 1 Orang
JAKARTA - Kasubdit Jatanras Ditkrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan mengatakan enam nelayan yang tergabung dalam ISIS tiba ke Jakarta pada 23 Desember 2014. Lalu, oleh Muhammad Amin, mereka ditampung di rumahnya di Cibubur.
Amin ini berperan sebagai penyedia transit enam warga Sulawesi tersebut. Dia bekerja sebagai distributor produk solatip.
”Mereka bisa dikenakan Pasal 266 KUHP tentang pemalsuan dokumen dengan ancaman hukuman paling lama 7 tahun penjara,” kata Herry.
Sejauh ini peran Muhammad Amin adalah mensponsori dan memfasilitasi. Pihaknya masih menyelidiki dari rumahnya di Cibubur untuk mendapatkan petunjuk apakah ada sponsor lain. Sebab, dari hasil pemeriksaan, ada 10 orang lainnya yang juga akan disiapkan berangkat ke Suriah.
”Ada foto-fotonya juga. Kapan diberangkatkan dan siapa saja, masih dalam penyelidikan,” kata perwira dengan melati dua di pundak tersebut.
Polisi juga masih merunut apakah ada pihak lain di belakang Muhammad Amin. Seperti disuruh siapa, oleh kelompok siapa. Termasuk mencari tahu nanti di Suriah dengan siapa. Sementara itu, kepada petugas, Amin juga mengaku sudah pernah sekali memberangkatkan 10 warga Indonesaia ke Suriah, pada 9 September. Bahkan, ada yang sudah mati sahid atas nama Fikrul Azim Sahril.
”Keterangan ini masih kami dalami. Sementara dikenakan pasal 266 KUHP,” ujarnya.
Sumber : jpnn.com
0 Komentar