Lewati ke konten utama

Di Sekolah Tuna Rungu Dena Upakara, Bu Aina Ajarkan Pentingnya Kejujuran Lewat Dongeng

Admin
25 kali dilihat

Di depan tak kurang dari 100 anak yang merupakan gabungan siswa Dena Upakara dan Don Bosco, dan SOBAT Percik Salatiga, Aina memulai dongeng dengan visualisasi tokoh kartun Goblin. Dikisahkannya, Goblin yang populer di film fiksi Harry Potter tersebut tengah gundah dan sedih, karena merasa diistimewakan. Padahal, kaum Goblin sendiri tidak merasa istimewa sama sekali. Secara fisik, mereka juga sempurna, karena hanya setinggi lutut orang dewasa. Demikian pula sifat yang mereka miliki, lebih sering lupa dan banyak khilaf. Namun, rupanya sifat-sifat jujur mereka yang mengakui kelemahan itulah, yang justru istimewa di mata orang lain. Sifat-sifat Goblin itulah, yang menurut Aina layak diteladani anak-anak Dena Upakara, maupun anak lainnya. Dengan memiliki sifat jujur, maka orang lain akan menghargai dan menempatkan mereka pada posisi yang istimewa, meski di sisi lain, setiap anak juga pasti memiliki kekurangan.

Cara jitu Aina membangkitkan semangat anak-anak dengan dongeng tersebut mendapat apresiasi positif Koordinator Percik Salatiga, Mohamad Akbar. Akbar yang dalam kesempatan tersebut sengaja mengenalkan anak-anak Sobat, sebuah forum komunitas anak lintas iman dari Jateng-DIY, mengakui bahwa model mendongeng ala Bu Aina sangat tepat. Di SOBAT sendiri, anak-anak juga senantiasa diajarkan untuk menghargai antar sesama, tanpa memandang perbedaan keyakinan, etnis, status sosial, maupun kondisi fisik. Diajaknya 10 anak dari SOBAT ke Dena Upakara, menurut Akbar juga memiliki tujuan agar mereka memiliki pemahaman akan adanya anak-anak sebaya mereka yang secara fisik berbeda, namun tetap memiliki semangat dan cita-cita setinggi langit. Dengan pengalaman yang dimiliki tersebut, diharapkan anak-anak dari SOBAT akan memiliki karakter dan kepribadian yang kuat, serta sadar sebagai Anak Indonesia yang Bhineka.

Bagi Dena Upakara sendiri, kehadiran SOBAT memiliki arti penting, karena selain memperluas jaringan pertemanan, mereka juga memberi warna lain bagi kegiatan rutin mereka. Seperti dikatakan Suster Cressen, Sekretaris yayasan Dena Upakara, kegiatan yang menumbuhkan kesadaran untuk bertoleransi dan memahami pentingnya kebersamaan memang sangat dibutuhkan anak-anak seusia SD dan SMP. Dengan adanya jiwa menghagai terhadap sesama, serta menyadari pentingnya menjaga persaudaraan, maka di masa mendatang, anak-anak tersebut akan tumbuh menjadi generasi emas yang memiliki peran dan sumbangsih besar bagi bangsa dan negara.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 8 + 2 ?