Lewati ke konten utama

CKG Wonosobo 2025 Lampaui Target, Pemkab Perkuat Deteksi Dini dan Layanan Jemput Bola di 2026

Admin
27 kali dilihat

Pemerintah Kabupaten Wonosobo melalui Dinas Kesehatan mencatat capaian signifikan dalam pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sepanjang tahun 2025. Hal tersebut disampaikan dalam kegiatan pendampingan, koordinasi, evaluasi, serta kick-off pelaksanaan CKG tahun 2026 yang digelar pada April 2026 di Kabupaten Wonosobo. Kegiatan ini dihadiri oleh jajaran pemerintah daerah, perwakilan pimpinan daerah, organisasi perangkat daerah (OPD), camat, kepala puskesmas, BUMD, serta instansi vertikal sebagai bentuk penguatan komitmen bersama dalam menyukseskan program kesehatan masyarakat.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Wonosobo, Dr. Jaelan, S.KP, M.Kes, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa capaian kinerja CKG tahun 2025 berhasil melampaui target nasional. Ia menjelaskan bahwa realisasi program mencapai 39,20 persen, lebih tinggi dari target awal sebesar 36 persen. Dari total sasaran 920.506 jiwa, sebanyak 360.851 warga telah mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis. Capaian tersebut juga melampaui rata-rata Provinsi Jawa Tengah yang berada pada angka 37,73 persen.

Jaelan mengungkapkan bahwa keberhasilan ini tidak terlepas dari tingginya partisipasi masyarakat. Dari total 369.514 pendaftar, sebanyak 97,65 persen atau 360.845 orang telah berhasil dilayani. Menurutnya, capaian ini menunjukkan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini sebagai bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa keberhasilan program juga didukung oleh strategi pendekatan yang tepat, khususnya pada kelompok usia sekolah dan remaja yang mencatatkan capaian tertinggi sebesar 79,35 persen. Menurutnya, pendekatan berbasis komunitas seperti sekolah dan pondok pesantren menjadi faktor utama keberhasilan tersebut, karena memudahkan proses penjangkauan sasaran secara kolektif. Sementara itu, capaian pada kelompok bayi baru lahir sebesar 33,97 persen, balita dan anak prasekolah 32,66 persen, kelompok dewasa 24,67 persen, serta lansia 15,99 persen menunjukkan perlunya penguatan strategi layanan pada kelompok usia lainnya.

Selain capaian kuantitatif, Program CKG juga menghasilkan data penting terkait kondisi kesehatan masyarakat. Berdasarkan hasil skrining, ditemukan bahwa 23,98 persen masyarakat mengalami hipertensi dan lebih dari 30 persen berada pada kondisi prehipertensi. Selain itu, 28,63 persen masyarakat mengalami obesitas sentral, disertai temuan kasus hiperkolesterol dan peningkatan kadar gula darah yang mengarah pada prediabetes. Sebanyak 237 orang juga terdeteksi menderita Diabetes Melitus.

Kadinkes menambahkan, bahwa kondisi tersebut diperparah oleh rendahnya tingkat aktivitas fisik masyarakat. Ia menyebutkan bahwa hanya sekitar 2,4 persen masyarakat yang memiliki aktivitas fisik cukup, sementara sebagian besar lainnya tergolong kurang aktif. Di sisi lain, lebih dari 20 persen responden mengaku sebagai perokok. Menurutnya, kondisi ini menjadi faktor risiko utama yang dapat memicu meningkatnya penyakit kronis di masa depan jika tidak ditangani sejak dini.

Pada kelompok anak, program ini juga mengidentifikasi sejumlah permasalahan kesehatan yang memerlukan perhatian serius. Tercatat sebanyak 155 anak usia 1–4 tahun masuk dalam kategori stunting berat dan 6,23 persen bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR). Selain itu, masalah kesehatan gigi juga cukup tinggi, yakni 56,04 persen pada anak usia 1–6 tahun dan 66,72 persen pada kelompok dewasa dan lansia. Ia menilai bahwa kondisi ini menunjukkan pentingnya intervensi yang lebih terintegrasi, baik melalui layanan kesehatan maupun edukasi di tingkat keluarga dan masyarakat.

Menurut Jaelan, Program CKG memiliki peran strategis dalam memperkuat layanan kesehatan dasar, khususnya pada aspek deteksi dini. Ia menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk menjangkau masyarakat yang masih sehat atau belum menunjukkan gejala, sehingga faktor risiko dapat diidentifikasi lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi penyakit yang lebih serius. Ia menegaskan bahwa pendekatan ini merupakan upaya di tingkat hulu untuk menekan beban penyakit di hilir.

Sebagai tindak lanjut, Dinas Kesehatan juga memastikan bahwa setiap hasil pemeriksaan tidak berhenti pada tahap deteksi, tetapi dilanjutkan dengan penanganan yang terintegrasi. 

“Tata kelola tindak lanjut menjadi fokus utama agar masyarakat yang terdeteksi memiliki faktor risiko dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat. Kami berharap, masyarakat tetap sehat dan tidak jatuh pada kondisi penyakit yang lebih berat,“ harapnya.

Memasuki tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Wonosobo menetapkan target cakupan yang lebih ambisius, yakni sebesar 54 persen dari total sasaran 929.725 jiwa. Hingga minggu ke-15 atau April 2026, capaian sementara telah mencapai 14,37 persen atau sebanyak 133.639 orang. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah terus melakukan inovasi layanan, salah satunya melalui pendekatan jemput bola. Layanan CKG kini dapat dilaksanakan berdasarkan permintaan masyarakat, termasuk di lingkungan OPD, perusahaan, komunitas, hingga kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Layanan CKG juga didukung oleh 24 puskesmas, 5 rumah sakit, serta 9 klinik pratama mitra BPJS yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Wonosobo. Kolaborasi lintas fasilitas kesehatan ini diharapkan dapat memperluas jangkauan layanan sekaligus mempermudah akses masyarakat dalam mendapatkan pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh,” ungkap Jaelan.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo juga mengimbau masyarakat untuk aktif memanfaatkan layanan ini dengan mengunduh dan mengisi skrining mandiri melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile, memastikan kepesertaan JKN atau BPJS dalam kondisi aktif, serta membawa identitas diri saat melakukan pemeriksaan. Bagi masyarakat berusia di atas 40 tahun, dianjurkan untuk berpuasa selama 8–10 jam sebelum pemeriksaan laboratorium guna memperoleh hasil yang lebih akurat.

Melalui Program Cek Kesehatan Gratis, Pemerintah Kabupaten Wonosobo menegaskan komitmennya dalam membangun sistem kesehatan berbasis pencegahan. Dr. Jaelan menekankan bahwa deteksi dini yang diiringi dengan perubahan pola hidup sehat menjadi kunci dalam menekan angka penyakit tidak menular di masa mendatang. Ia berharap, melalui upaya yang berkelanjutan, masyarakat Wonosobo dapat tetap sehat dan memiliki kualitas hidup yang lebih baik.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *