Lewati ke konten utama
1/2

Dari Talunombo ke Universitas Indonesia, Membawa Pulang Ilmu, Jejaring, dan Harapan Baru untuk Kemajuan Desa

Admin
87 kali dilihat

Empat hari berada di lingkungan akademik Universitas Indonesia (UI), Depok, menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan Kepala Desa Talunombo, Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo, Badarudin. Bersama 433 kepala desa dari berbagai penjuru Indonesia, Ia mengikuti Program "Kepala Desa Masuk Kampus" Angkatan I Tahun 2026 yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri melalui Direktorat Jenderal Bina Pemerintahan Desa.

Bagi Badarudin, program tersebut bukan sekadar pelatihan, melainkan ruang belajar, berdiskusi, sekaligus membangun jejaring antara pemerintah desa, akademisi, dan para pemimpin desa dari berbagai daerah.

"Program ini memberikan tambahan wawasan tentang tata kelola pemerintahan desa yang baik. Kami belajar langsung dari akademisi, berbagi praktik baik dengan kepala desa lain yang telah berhasil membangun inovasi di desanya, sehingga banyak ilmu yang bisa kami bawa pulang," ujar Badarudin saat ditemui di Kantor Desa Talunombo, Selasa (14/7/2026).

Selain itu, menurut Badarudin, desa saat ini menjadi lokus utama pembangunan nasional. Hampir separuh penduduk Indonesia tinggal di wilayah perdesaan sehingga kepala desa dituntut tidak hanya mampu menjalankan administrasi pemerintahan, tetapi juga memiliki kemampuan membaca potensi wilayah, menyusun kebijakan berbasis data, serta membangun kemitraan dengan berbagai pihak.

"Ini menjadi sejarah baru ketika kampus berkolaborasi langsung dengan kepala desa dalam sebuah program yang terukur. Kami tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga belajar dari pengalaman desa-desa maju dan desa mandiri di seluruh Indonesia," katanya.

Di hadapan para peserta dan akademisi UI, Badarudin memperkenalkan berbagai inovasi yang selama ini dikembangkan Desa Talunombo.

Ia menceritakan bagaimana desa yang berada di kawasan perbukitan tersebut berupaya bangkit dari berbagai keterbatasan melalui pemanfaatan Dana Desa secara produktif. Salah satunya diwujudkan melalui pembangunan jalan usaha tani dan jaringan irigasi guna memperlancar aktivitas pertanian masyarakat.

Tidak hanya itu, Talunombo juga mengembangkan konsep agro-eduwisata, sebuah kawasan pembelajaran yang memperkenalkan sektor pertanian, peternakan, perikanan, hingga ekonomi kreatif kepada pelajar maupun masyarakat umum.

Menurut Badarudin, konsep tersebut lahir dari kesadaran bahwa lahan pertanian semakin terbatas, sementara jumlah penduduk terus meningkat. Kondisi itu menuntut desa untuk menyiapkan generasi muda yang memahami pentingnya ketahanan pangan sejak dini.

"Pertanian harus dikenalkan kembali kepada anak-anak. Ketahanan pangan menjadi isu yang sangat penting. Kalau tidak dipersiapkan sejak sekarang, ke depan kita akan menghadapi tantangan yang lebih besar," ungkapnya.

Tak berhenti pada sektor pertanian, Talunombo juga mengembangkan berbagai inovasi di bidang lingkungan dan energi terbarukan.

Badarudin menjelaskan bahwa desanya telah mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi, mulai dari bahan bakar alternatif, briket, hingga pupuk organik. Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan ekonomi sirkular sekaligus mengurangi beban lingkungan.

Selain itu, Talunombo mengembangkan pembangkit listrik tenaga Micro hidro yang memanfaatkan aliran sungai sebagai sumber energi untuk penerangan jalan dan sebagian kebutuhan listrik masyarakat.

"Inovasi lingkungan ini kami sampaikan karena isu keberlanjutan bukan hanya menjadi perhatian desa, tetapi juga menjadi perhatian dunia. Desa juga harus ikut berkontribusi menjaga lingkungan sekaligus membangun kemandirian energi," jelasnya.

Salah satu hasil penting dari keikutsertaan dalam program tersebut adalah terbukanya peluang kerja sama antara Desa Talunombo dengan Universitas Indonesia.

Badarudin mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi dengan LP3M Universitas Indonesia untuk mengembangkan program agroforestri di Talunombo.

Program tersebut dirancang untuk menanam berbagai tanaman obat, tanaman langka, serta vegetasi yang mampu menjaga keseimbangan ekosistem dan menjadi habitat satwa liar. Selain mendukung konservasi, agroforestri juga diharapkan mampu menjaga keberlanjutan sumber mata air yang menjadi kebutuhan utama masyarakat.

"Kami berharap akademisi tidak hanya hadir memberikan materi, tetapi juga ikut mendampingi desa dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan melalui pendekatan ilmiah," katanya.

Selain membawa pulang ilmu dan jejaring, Badarudin juga menyampaikan harapan agar pemerintah melanjutkan Program Kepala Desa Masuk Kampus melalui skema Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL).

Menurutnya, banyak kepala desa yang memiliki pengalaman panjang memimpin pemerintahan, namun belum memiliki kesempatan menyelesaikan pendidikan tinggi.

Ia berharap pengalaman mengelola pemerintahan desa dapat diakui sebagai bagian dari proses pendidikan formal sehingga para kepala desa berpeluang memperoleh kesetaraan hingga jenjang sarjana.

"Kami berharap program ini terus berlanjut. Akan sangat baik apabila nantinya ada program Rekognisi Pembelajaran Lampau sehingga kepala desa yang belum memiliki ijazah sarjana dapat memperoleh kesempatan melanjutkan pendidikan berdasarkan pengalaman pengabdian yang dimiliki," ujarnya.

Bagi Badarudin, tantangan pembangunan desa saat ini tidak mungkin diselesaikan sendirian. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi masyarakat, hingga lembaga nonpemerintah agar desa mampu berkembang lebih cepat.

Ia meyakini setiap persoalan selalu memiliki jalan keluar selama ada kemauan untuk berinovasi dan membangun kemitraan.

"Desa harus terus bergerak, berinovasi, melihat peluang, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pihak. Pemerintah memberikan regulasi, akademisi menghadirkan solusi berbasis ilmu pengetahuan, dunia usaha melalui program CSR dapat mendukung pembiayaan, sementara masyarakat menjadi pelaku utama pembangunan."

Badarudin optimistis pengalaman mengikuti Program Kepala Desa Masuk Kampus akan memberikan dampak nyata bagi Talunombo. Ilmu, jejaring, dan inspirasi yang diperoleh selama berada di Universitas Indonesia akan menjadi bekal untuk menghadirkan program-program pembangunan yang semakin terarah, inovatif, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.

"Harapan kami, melalui program ini Desa Talunombo semakin dikenal, memiliki jejaring yang lebih luas, dan mampu menghadirkan inovasi yang benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat. Ketika desa terus belajar dan berani berinovasi, desa akan menjadi kekuatan utama pembangunan Indonesia," pungkasnya.

Program yang berlangsung pada 29 Juni hingga 2 Juli 2026 tersebut merupakan bagian dari Program Pemerintahan Desa Berdampak yang dirancang untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan kepala desa melalui pendekatan akademik.

Selama empat hari, peserta memperoleh materi mengenai tata kelola pemerintahan desa yang akuntabel, pengambilan kebijakan berbasis data, pengembangan inovasi desa, hingga strategi membangun kolaborasi lintas sektor.

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang wajib diisi ditandai dengan tanda *

Berapakah 2 + 3 ?